.
Featured Post Today
print this page
Latest Post
>>>>> SEMOGA SEMUA MAKHLUK HIDUP BERBAHAGIA <<<<<


Tampilkan postingan dengan label Mitos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mitos. Tampilkan semua postingan

SERAT GATHOLOCO_7

Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa
yang disimpan oleh
PRAWIRATARUNA.

Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA

2. Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) 17-18 :

Santri padha ambêk lintah, ora duwe mata kuping, anggêre amis kewala, cinucup nganti malênthing, ora ngrêti yen gêtih, gandane amis tur arus, kinira madumangsa, yen wus warêg mangan gêtih, amalêngkêr tan mêtu nganti sawarsa.

Santri yang berperilaku seperti lintah, tidak memiliki mata dan telinga, asalkan mencium bau amis, dihisap hingga perutnya menggelembung, tidak tahu kalau itu darah, baunya amis dan arus (padanan kata amis), dikira madu, jika sudah kenyang meminum darah, meringkuk tak keluar-keluar lagi hingga setahun.

Wêkasan kaliru tampa, tan wruh têmah ndurakani, manut kitab mêngkap-mêngkap, manut dalil tanpa misil, amung ginawe kasil, sinisil ing rasanipun, rasa nikmating ilat, lan rasane langên rêsmi, rasanira ing kawruh ora rinasa.

Pada akhirnya salah terima, tidak memahami inti sari malah berbuat dosa tanpa disadari, menuruti kata-kata kitab begitu saja, menuruti dalil tanpa tahu makna sesungguhnya, hanya dibuat untuk memperoleh keuntungan duniawi, tersilap dengan keduniawian, dibuat untuk memenuhi nikmatnya rasa lidah, dibuat untuk memenuhi nikmatnya rasa bersenggama, makna sejati ilmu tidak dirasakan.

Gatholoco tajam mengingatkan, bahwasanya manusia-manusia yang terjebak ‘keberagamaan kulit’ seperti yang tengah berdialog dengannya, tak ubahnya bagaikan Lintah semata. Yang tak memiliki mata dan tak memiliki telinga. Pekerjaan mereka hanya menghisap darah sesama. Pekerjaan mereka hanya membuat harmonisasi kehidupan timpang.

Mereka mengira, dengan menghisap darah, mereka telah melakukan sebuah pekerjaan besar dan benar dimata Tuhan! Mereka mengira telah menghisap madu yang manis. Mengira telah melakukan sebuah pekerjaan agung yang sudah sepatutnya, walau harus menumpahkan darah!

Begitu telah kenyang menumpahkan darah, mereka akan puas dan tiada lagi tergerak untuk menelaah, apakah yang sudah dilakukan ini memang benar dimata Tuhan? (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 17)

Mereka telah membuat dosa tanpa disadari. Menelan mentah-mentah kata-kata kitab suci tanpa dikupas lagi. Menuruti segala dalil tanpa mendalami inti sarinya. Padahal SUARA NURANI mereka terus berontak untuk mengabarkan arti dan makna yang sesungguhnya!

Kesadaran mereka tentang spiritualitas, tak lebih sebatas pencapaian Kenikmatan Keduniawian semata. Kenikmatan yang konon juga ada di Surga sana. Kenikmatan yang mirip dan serupa dengan Kenikmatan Dunia. Benarkah itu semua? Jika memang demikian, mengapa harus berlama-lama menunggu nanti, toh sekarang Kenikmatan serupa juga ada disini. Sudah nyata dan didepan mata malah. Lantas mengapa harus menunggu sesuatu yang masih dijanjikan nanti jika memang esensinya serupa dan itu-itu juga? (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 18)

Kesadaran Spiritual-kah yang semacam ini? Jesus Kristus, Rabi’ah Al Adawiyyah, Jallaluddin Rumi, Al-Junaid, Ibnu Al-Araby, Ibnu Manshur Al-Hallaj, Abu Yazid Al-Bistami, Hamzah Fanshuri, Syeh Siti Jenar dan seluruh manusia illahi semacam mereka malah dipangkas habis manakala meneriakkan kebenaran sebuah makna hakiki.

Berbeda dengan manusia illahi yang turun ditanah India, keberadaan mereka masih mendapat sambutan hangat hingga kini. Adakah yang berbeda dari pesan-pesan mereka? Tidak ada! Yang berbeda adalah medan dan tempat dimana mereka turun.

Terpujilah manusia-manusia illahi yang berani meneriakkan kebenaran dimedan yang penuh dengan manusia-manusia berkesadaran rendah! Sembah sujud saya kepada manusia-manusia illahi yang semacam ini!

3. Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) 27 :

Guru tiga saurira, Katrima pamuji-mami, Gatholoco asru nyêntak, Pujimu pujining Widdhi, sira ora nduweni, marang pangucap sadarum, iku ucaping Allah, yen mangkono sira maling, wani-wani kadunungan barang gêlap.

Ketiga Guru menjawab, Karena diterima doa kami, Gatholoco keras membentak, Bahkan doamu-pun adalah milik (Hyang) Widdhi! Kalian tidak punya hak untuk mengakui! Karena pengucapan kalian itu semua, itu ucapan Allah! Jikalau demikian kalian adalah maling! Telah berani ketempatan barang yang bukan milik kalian (namun kalian akui sebagai milik sendiri)!

Sekali lagi Gatholoco hendak menghancurkan dinding kesadaran sempit dari mereka yang tengah diajaknya berdialog. Gatholoco tengah memberikan letupan bagi peningkatan kesadaran mereka. Gatholoco hendak membangun kesadaran baru, bahwasanya semua yang ada didalam semesta ini tak ada yang lain selain MANIFESTASI HYANG WIDDHI atau BRAHMAN! atau ALLAH!

PURUSHA adalah MANIFESTASI PERTAMA dari BRAHMAN manakala BRAHMAN tengah berkehendak untuk melakukan sebuah LILAA atau PERMAINAN ILLAHI-NYA. BRAHMAN YANG MELAMPAUI SEGALANYA, YANG TANPA PRIBADI. MEMPERSEMPIT DIRI-NYA DALAM KONDISI SUPER PERSONALITY. INILAH PURUSHA!

Bersamaan dengan proses ini, muncullah BAYANGAN BRAHMAN yang lantas dikenal dengan nama PRAKRTI. Inilah CIKAL BAKAL SELURUH UNSUR MATERIAL YANG ADA DI SEMESTA RAYA.

Dari PURUSHA memerciklah ATMA-ATMA atau RUH-RUH yang tiada terhitung.

Lantas, manakah yang bukan BRAHMAN atau ALLAH?

Manusia-manusia yang merasa dirinya berbeda dengan BRAHMAN, dengan TUHAN. Manusia-manusia yang merasa memiliki pribadi sendiri yang terpisah dengan Kepribadian Tuhan, SESUNGGUHNYA MEREKA ADALAH PENCURI. Begitu Gatholoco menyatakan!

PENCURI? Yap! Karena mereka mengklaim memiliki pribadi sendiri yang terpisah dengan Kepribadian Tuhan. Mereka tengah bermain-main dengan illusi! Dalam keyakinan mereka, pribadi mereka ini diciptakan oleh Tuhan. Mereka meyakini, Tuhan menciptakan mereka. Dan mereka berbeda dengan Sang Pencipta. Mereka punya hak pribadi. Memiliki asset sendiri. Walau menurut mereka, asset yang mereka miliki tersebut adalah pinjaman dari Tuhan.

Gatholoco menegaskan, diri kita semua ini, mulai dari ATMA SARIIRA (RUH), SUKSMA SARIIRA (NAFS), STHULA SARIIRA (JASAD) termasuk seluruh piranti indrawi (mata, telinga, hidung,dsb), berikut fungsi-fungsi inderawi (penglihatan, pendengaran, ucapan, dsb) adalah MANIFESTASI TUHAN! Bukan sesuatu yang terpisah dari-Nya. Ini semua bukan milik otonom seorang makhluk ciptaan yang disebut ‘manusia’. Jika ‘manusia’ mengklaim ini mataku, ini telingaku, ini badanku, ini penglihatanku, ini pendengaranku, ini ucapanku dsb, jelas mereka telah melakukan KLAIM PALSU! DAN ORANG YANG MENGAKUI SESUATU YANG BUKAN MILIKNYA, JELAS ADALAH SEORANG PENCURI!

Bagaimana dia bisa mengakui ini milik ‘saya’, jika sosok ‘saya’ itu sendiri sesungguhnya ‘tidak ada’? Jika sosok ‘saya’ itu sendiri sebenarnya adalah bagian Tuhan juga? Terngiangkah anda dengan kata-kata Sidharta Buddha Gautama tentang Annata (Tanpa Aku/Tanpa Saya/Kosong) ?

Dalam Pupuh III, Sinom, Syair 27 diatas bagian akhir, Gatholoco berkata keras :

……………..Gatholoco asru nyêntak, Pujimu pujining Widdhi, sira ora nduweni, marang pangucap sadarum, iku ucaping Allah, yen mangkono sira maling, wani-wani kadunungan barang gêlap. (…………………,Gatholoco keras membentak, Bahkan doamu-pun adalah milik (Hyang) Widdhi! Kalian tidak punya hak untuk mengakui! Karena pengucapan kalian itu semua, itu ucapan Allah! Jikalau demikian kalian adalah maling! Telah berani ketempatan barang yang bukan milik kalian (namun kalian akui sebagai milik sendiri)!

Coba renungkan sekali lagi!

4. Pupuh III, Sinom, Pada (Syair ) 29-31 ;

Sakehing reh lakonana, yen tan manut Sun gitiki, jalaran sira wus salah, kajêdhêgan sira maling, lah iku duwek Mami, sira anggo tanpa urus, saikine balekna, ilange duk Jaman Gaib, Ingsun simpên ana satêngahing jagad.

Segala perintah-Ku laksanakan, jika tak menurut pasti Ku dera, sebab kalian telah salah, patut dipersalahkan karena maling, itu semua milik-Ku, kalian pakai dengan tidak benar, sekarang kembalikan, dulu hilang dikala Jaman Gaib, Aku simpan di tengah-tengah jagad.

Saksine si Wujud Makna, cirine rina lan wêngi, Ingsun rêbut tanpa ana, saiki lagya pinanggih, sira ingkang nyimpêni, santri padha tanpa urus, yen sira tan ngulungna, sun lapurake pulisi, ora wurung munggah ing rad pêngadilan.

Saksinya adalah si Wujud Makna (Wujud dari segala inti sari makna kitab suci), bukti (dari keteledoran kalian memakai barang-Ku dengan tidak benar) telah dicatat oleh siang dan malam, Aku cari-cari tak ketemu, sekarang tengah Aku jumpai, ternyata kalian yang menyimpannya, para santri yang tidak benar! Jika tidak kalian kembalikan, Aku laporkan polisi (hukum alam), tak urung akan naik perkara dipengadilan (semesta)!

Mêsthi sira kokum pêksa, yen wêngi turu ning buwi, lamun rina nambut karya, sabên bêngi den kandhangi, beda kalawan mami, salawase ngong tumuwuh, sadurunge tumindak, ingkang daya sêja-mami, agal alus kasar lêmbut ingsun nalar.

Pasti akan menerima hukuman, jika malam tidur didalam penjara (terkurung dalam kegelapan batin sehingga gelisah), jika siang kerja paksa (sengsara ditengah panasnya dualitas duniawi), tiap malam dikandangkan (terus terjerat dalam kegelapan batin), berbeda dengan aku, selama aku hidup, sebelum bertindak, untuk memenuhi keinginanku, kasar maupun halus pasti aku pikirkan terlebih dahulu.

Illusi manusia layak dihancurkan. Walaupun illusi itu juga Manifestasi Brahman, tapi jelas, segala macam illusi, kebodohan (awidya), ketidak murnian, keangkuhan, keserakahan dan semua yang menelikung KESADARAN SEJATI ATMA, adalah Manifestari Brahman dalam level rendah.
Semua ketidak murnian muncul dari PRAKRTI. Dan PRAKRTI hanyalah BAYANGAN BRAHMAN. DAN SEBUAH BAYANGAN, BUKANLAH YANG SEJATI. SEBUAH BAYANGAN HANYALAH ILLUSI (MAYA)!.

Sekali lagi saya tegaskan, SEGALA MACAM KETIDAK MURNIAN ADALAH BERASAL DARI PRAKRTI. DAN PRAKRTI ADALAH MANIFESTASI BRAHMAN DALAM LEVEL BAWAH! JADI JANGAN HANTAM RATA DENGAN MENYATAKAN BAIK DAN BURUK ITU SEIMBANG! HITAM DAN PUTIH ITU SELEVEL! TIDAK!

BAIK DAN BURUK, HITAM DAN PUTIH MEMANG SAMA-SAMA PERWUJUDAN BRAHMAN, MEMANG ADA DALAM SATU KESATUAN TUNGGAL. TAPI DALAM JENJANG YANG BERBEDA!

Dalam Bhagawad Gita, jelas Shrii Krishna menyatakan :

“Sifat-sifat Illahi (Daiva Sampad) adalah jalan KELEPASAN (MOKSHA), sedangkan sifat-sifat Jahat (Asura Sampad) adalah jalan menuju KETERIKATAN (LAHIR BERULANG-ULANG DIDALAM ALAM MATERIAL). Janganlah bersedih, oh Pandhawa (Putra Pandhu/ Arjuna), dirimu (karena buah karma masa lalumu), terlahir dalam sifat-sifat Illahi!” (Bhagawad Gita : 16 : 5)

Jika BAIK dan BURUK, HITAM dan PUTIH, KESADARAN dan KETIDAK SADARAN itu sama, lantas mengapa anda mempelajari KESUCIAN jika toh dalam kondisi KOTOR -pun anda sama saja dalam kondisi BERSIH? Jika BAIK dan BURUK, HITAM dan PUTIH, KESADARAN dan KETIDAK SADARAN itu sama, lantas mengapa sosok semacam SHIWA, KRISHNA, RSI VYAASA, SIDHARTA BUDDHA GAUTAMA, JESUS, SYEH SITI JENAR, GATHOLOCO dan Manusia-Manusia Illahi lainnya harus berteriak-teriak untuk membebaskan KESADARAN KITA dari jerat KETIDAK MURNIAN SEBUAH ILLUSI (MAYA) ?

Jangan bermain-main dengan kata-kata. Anda akan terjebak sendiri. Pada ujungnya, anda sendiri yang akan kebingungan untuk menentukan sikap dalam menyikapi realita kehidupan ini!

ATMA telah terjebak dalam BAYANGAN BRAHMAN ! KETERJEBAKAN PADA ILLUSI (MAYA) BRAHMAN inilah yang memunculkan adanya kehidupan material. Selama keterjebakan ini terus terjadi, maka ATMA akan terus tergerus proses kehidupan material! Dia akan lahir dan mati, lahir dan mati, lahir dan mati, tanpa ada kesudahan! Jika ATMA bisa membebaskan diri dari BAYANGAN BRAHMAN, maka ATMA akan MENYATU DENGAN INTI BRAHMAN ITU SENDIRI! ATMA tidak perlu terlahirkan kedunia material kembali! Inilah MOKSHA. Inilah NIRWANA. Inilah KERAJAAN ALLAH. Inilah JANNATUN FIRDAUS!

Dalam syair 29, Pupuh III diatas, Gatholoco sengaja berkata dengan MEMPERGUNAKAN KESADARAN TERTINGGINYA! Jika mereka-mereka yang tengah diajaknya berdialog tetap meyakini keterpisahan pribadinya dengan Kepribadian Brahman, berarti mereka tidak mengikuti ‘PERINTAH ATAU PETUNJUK SEJATI BRAHMAN’ yang tertuang dalam intisari seluruh Kitab Suci! Jika illusi mereka tetap sulit disingkap, maka terpaksa HUKUM ALAM yang akan bekerja! Ini yang dimaksud ucapan Gatholoco dengan : ……..yen tan manut Sun gitiki,….(….jika tidak menurut pasti Ku dera…). Karena selain telah berillusi memiliki asset badan sendiri, mereka juga telah mempergunakan seluruh ‘barang klaim palsu’ tersebut dijalan ketidak murnian! Oleh karenanya, hilangkanlah illusi kalian. Hilangkanlah anggapan bahwa kalian itu berbeda dengan DIA! Kembalikan seluruh barang pengakuan itu kepada yang punya! Kembalikan KESADARAN kalian dari mengklaim memiliki asset sendiri menjadi SEMUA INI ADALAH BRAHMAN SEMATA!

Dalam syair 31, Pupuh III bagian terakhir, Gatholoco menurunkan kembali KESADARAN-NYA : ………..beda kalawan mami, salawase ngong tumuwuh, sadurunge tumindak, ingkang daya sêja-mami, agal alus kasar lêmbut ingsun nalar. (…………berbeda dengan aku, selama aku hidup, sebelum bertindak, untuk memenuhi keinginanku, kasar maupun halus pasti aku pikirkan terlebih dahulu.)
Damar Shashangka
0 komentar

SERAT GATHOLOCO_6

Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa
yang disimpan oleh
PRAWIRATARUNA.

Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA

1. Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 7-13
Yen mungguh pamêtêkingwang, Balencong tuwa pribadi, sanajan Kêlir pinasang, gamêlan wus miranti, Dhalang niyaga linggih, yen maksih pêtêng nggenipun, sayêkti durung bisa, Dhalange anampik milih, nyritakake sawiji-wijining Wayang.

Menurut aku, Balencong itu lebih tua, walaupun Kêlir (Layar) telah dipasang, gamelan sudah ditata, Dalang dan para niyaga (penabuh gamêlan beserta sindhen-nya) sudah duduk, akan tetapi jika masih gelap tempatnya, pasti tidak bisa, Dalang memilah dan memilih, untuk menceritakan cerita satu-persatu dari tiap jenis wayang.

Kang nonton tan ana wikan, marang warnanira Ringgit, margane isih pêtêngan, ora kêna den tingali, yen Balencong wus urip, kanthar-kanthar katon murub, Kêlire kawistara, ing ngandhap miwah ing nginggil, kanan kering Pandhawa miwah Kurawa.

Yang menonton tak akan bisa melihat, kepada wujud setiap jenis Wayang, karena masih gelap gulita, tidak bisa dilihat mata, manakala Balencong sudah dinyalakan, menyala-nyala terlihat terang, Kêlir (Layar) akan tampak, dimana arah bawah dan arah atas, dimana kanan dan dimana kiri serta mana Pandhawa mana Kurawa.

Ki Dhalang neng ngisor damar, bisa nampik lawan milih, nimbang gêdhe cilikira, tumrap marang siji-siji, watake kabeh Ringgit, pinatês pangucap-ipun, awit pituduhira, Balencong ingkang madhangi, pramilane Balencong kang luwih tuwa.

Ki Dalang duduk dibawah pelita, mampu memilah dan memilih, menimbang besar kecilnya, terhadap setiap jenis, dari perwatakan tiap Wayang, sehingga mampu menyesuaikan ucapannya (dengan tiap karakter wayang kulit), sebab mendapat petunjuk, dari Balencong yang menerangi, oleh karenanya Balencong yang lebih tua.

Dene unining gamêlan, Wayange kang den gamêli, Dhalange mung darma ngucap, si Wayang kang darbe uni, prayoga gêdhe cilik, manut marang Dhalangipun, sinigêg gangsa ika, Kaki Dhalang masesani, nanging darma ngucap molahake Wayang.

Sedangkan bunyi gamêlan, mengiringi gerakan Wayang, Dalang hanya sekedar mengucapkan, dari suara tiap jenis Wayang, sedang tinggi atau rendah, menurut kehendak Dalang, berhentinya gamêlan, Ki Dalang yang berkuasa, akan tetapi sesungguhnya Dalang hanya sekedar mengucapkan dan menggerakkan Wayang sesuai dengan kisah yang telah ditentukan.

Parentahe ingkang nanggap, ingkang aran Kyai Sêpi, basa Sêpi Tanpa Ana, anane ginêlar yêkti, langgêng tan owah gingsir, tanpa kurang tanpa wuwuh, tanpa reh tanpa guna, ingkang luwih masesani, ing solahe Wayang ucape Ki Dhalang.

Kisah yang dikehendaki oleh orang yang mengundang, yang dinamakan Kyai Sêpi, kata Sêpi berarti Tidak Ada, akan tetapi Keberadaan-Nya sesungguhnya tergelar, langgeng tak berubah, tak bisa berkurang dan tak bisa ditambah, tanpa kehendak tanpa sifat, akan tetapi ada yang lebih berkuasa, diatas gerakan Wayang dan ucapan Ki Dalang.

Ingkang mêsthi nglakonana, ingkang ala ingkang bêcik, kang nonton mung ingkang nanggap, yeku aran Kyai Urip, yen damare wus mati, kabeh iku dadi suwung, tan ana apa-apa, lir Ingsun duk durung lair, têtêp suwung ora ana siji apa.

Yang membuat semua bisa bergerak, bergerak melakukan perbuatan jelek maupun baik, dari yang melihat hingga yang mengundang, yaitu Kyai Urip (Kyai Hidup), manakala pelita telah padam, semua jadi kosong, tidak ada apa-apa, bagaikan Ingsun (Aku) ketika belum terlahirkan, tetap kosong tidak ada apapun juga.

Basa Kêlir iku Raga, Wayange Suksma Sujati, Dhalange Rasul Muhammad, Balencong Wahyune Urip, iku upama Widdhi, Cahyane Urip puniku, nyrambahi badanira, jaba jêro ngandhap nginggil, Wujudira Wujude Allah Kang Murba.

Layar itu sesungguhnya adalah Raga ini, Wayang sesungguhnya Suksma Sejati, Dalang sesungguhnya Rasul Muhammad, Balencong adalah Percikan Hidup, bagaikan Hyang Widdhi sendiri, Cahaya Hidup tersebut, merata didalam tubuhmu, diluar didalam diatas dan dibawah, Wujudmu tak lain adalah Wujud Allah Yang Kuasa.

Gatholoco melontarkan teka-teki kepada ketiga orang Kyai Guru. Diantara empat hal ini, manakah yang lebih tua? WAYANG, DALANG, KÊLIR (Layar)atau BALENCONG? (Pelita yang dinyalakan sepanjang malam hingga pagi, khusus untuk mengiringi sebuah pertunjukan Wayang Kulit ). (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 1)

 Ahmad Ngarip (‘Arif) menjawab, bahwa KÊLIR (Layar) jelas paling tua sendiri. Karena sebelum sebuah pertunjukan Wayang kulit dimulai, KÊLIR (Layar) harus terpasang lebih dahulu. KÊLIR (Layar) akan dibentangkan segera sebelum semuanya siap sedia. KÊLIR (Layar) mutlak harus ada terlebih dulu sebelum seluruh WAYANG ditata berjajar bahkan sebelum satu persatu karakter WAYANG dimainkan. Harus ada sebelum gamêlan dibunyikan. Harus ada sebelum DALANG duduk menuturkan kisah yang hendak dibawakan. Bahkan KÊLIR (Layar) juga ada lebih dahulu sebelum BALENCONG dinyalakan. Oleh karenanya, KÊLIR (Layar) pantas dinyatakan sebagai yang paling tua. Begitu pendapat Ahmad Ngarip (‘Arif). (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 1-2)

Lain lagi pendapat dari Abdul Jabar. Menurut dia, DALANG-lah yang pantas dianggap sebagai yang paling tua. Karena, baik KÊLIR (Layar), BALENCONG berikut pula seluruh piranti perlengkapan untuk sebuah pertunjukkan Wayang Kulit, bahkan WAYANG-nya itu sendiri-pun, yang berkuasa menata, mengatur juga menjalankan, adalah SANG DALANG. Oleh karenanya, DALANG patut dianggap lebih tua dari yang lain! (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 2-3)

Abdul Manap (Manaf) memiliki jawaban sendiri. Dia menganggap WAYANG-lah yang pantas dianggap tua. Karena bagaimanapun juga, dalam sebuah pagelaran Wayang Kulit, dimanapun tempatnya dan kapan saja waktu pertunjukkan tersebut digelar, yang disebut-sebut orang banyak pastilah Pagelaran WAYANG. Bukan Pagelaran DALANG, atau Pagelaran KÊLIR (Layar) apalagi Pagelaran BALENCONG! (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 4-6)

Gatholoco menyalahkan semua jawaban dari ketiga Kyai Guru. Dia menyatakan BALENCONG-lah yang paling tua. Tanpa adanya BALENCONG, tak akan dapat terlihat seluruh piranti pertunjukan yang sudah tersedia. Tanpa adanya BALENCONG, keberadaan KÊLIR (Layar), WAYANG bahkan SANG DALANG sendiri, tidak akan dapat diketahui karena semua dalam kondisi gelap gulita.

Gatholoco menyatakan lagi, bahwasanya yang dimaksudkannya dengan KÊLIR (LAYAR) tak lain adalah RAGA atau STHULA SARIIRA atau JASAD MANUSIA Sedangkan WAYANG tak lain adalah SUKSMA SEJATI atau SUKSMA SARIIRA atau NAFS MANUSIA. SANG DALANG adalah perumpamaan dari ATMA SARIIRA atau RUH. Dalam bahasa Gatholoco ATMA SARIIRA atau RUH disebut RASUL MUHAMMAD ( UTUSAN YANG TERPUJI).

BALENCONG tak lain adalah simbol PURUSHA. Simbol dari MANIFESTASI ILLAHI PERTAMA yang berkehendak meng-ada-kan seluruh ciptaan ini. Dari PURUSHA-lah KEHENDAK PENCIPTAAN MULA PERTAMA TERGELAR. Dari PURUSHA-lah seluruh MANIFESTASI ILLAHI KEDUA atau ATMA atau RUH terpancarkan kedalam BAYANGAN ILLAHI (PRAKRTI, ALAM) . Dan dari KEHENDAK PURUSHA-lah PRAKRTI terus mengembang menciptakan ciptaan-ciptaan baru

BALENCONG-lah yang memberikan TERANG kepada DALANG. Dan DALANG memberikan KESADARAN kepada WAYANG. Sedangkan KÊLIR (LAYAR) hanya sekedar menjadi wahana terjadinya seluruh cerita yang dikisahkan.

PURUSHA-lah yang memberikan KESADARAN kepada ATMA SARIIRA atau RUH. ATMA SARIIRA atau RUH yang memberikan KESADARAN kepada SUKSMA SARIIRA atau NAFS. Sedangkan STHULA SARIIRA atau JASAD, hanya sekedar menjadi ‘tempat’ ter-realisasi-nya seluruh aktifitas tersebut.

BALENCONG (PURUSHA) adalah PERCIKAN DARI SANG HIDUP atau BRAHMAN. BALENCONG (PURUSHA) adalah juga DUPLICATE dari SANG HYANG WIDDHI atau BRAHMAN (Balencong Wahyune Urip, iku upama Widdhi : Balencong adalah Percikan Hidup, bagaikan Hyang Widdhi sendiri)!

Sedangkan GAMÊLAN dan PARA NIYAGA (PENABUH GAMÊLAN) berikut PARA PENONTON ibarat OBYEK-OBYEK KENIKMATAN DUNIAWI yang akan selalu terus menghanyutkan tingkah polah WAYANG (SUKSMA SARIIRA). Tergantung KESADARAN SANG DALANG (ATMA SARIIRA) untuk memutuskan, apakah WAYANG (SUKSMA SARIIRA) yang ada dalam genggaman tangannya akan terus terpengaruh dan terlarut oleh BUNYI GAMÊLAN (OBYEK-OBYEK KENIKMATAN DUNIAWI) dan TEPUK SORAK PENONTON sehingga lupa memfokuskan diri kearah USAINYA PERTUNJUKAN KEHIDUPAN. Ataukah KESADARAN SANG DALANG (ATMA SARIIRA) akan mengolah pertunjukan secara apik dan tepat waktu sehingga segera USAI PULA SELURUH PERTUNJUKAN KEHIDUPAN yang tengah dikisahkannya.

Jika ATMA SARIIRA TELAH BANGKIT KESADARANNYA, segera Dia akan berusaha merampungkan KISAH KEHIDUPANNYA SECARA APIK. Jika ATMA SARIIRA TIADA KUNJUNG BANGKIT KESADARANNYA, maka KISAH KEHIDUPANNYA AKAN MENJADI PANJANG DAN TAK KUNJUNG USAI! ATMA SARIIRA YANG TIDAK SADAR-SADAR, akan terus asyik memainkan SUKSMA SARIIRA dan terus terlarut dalam GELIMANG OBYEK-OBYEK KENIKMATAN DUNIAWI! ATMA SARIIRA yang semacam ini akan terus TERJERAT DALAM PROSES KELAHIRAN DAN KEMATIAN YANG BERULANG-ULANG TANPA BERKESUDAHAN! (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 10)

 ATMA SARIIRA sendiri terpaksa akan masih terikat oleh HUKUM ALAM. Sebuah HUKUM SEMESTA yang absolute. Sebuah HUKUM PENUH KENISCAYAAN yang mengatur seluruh jalannya cerita kehidupan ini. Sebuah HUKUM SEBAB-AKIBAT-AKSI-REAKSI. HUKUM KARMAPHALA. Selama ATMA SARIIRA masih terjerat OBYEK-OBYEK KENIKMATAN DUNIAWI, TERJERAT DUALITAS DUNIAWI, selama itu pula ATMA SARIIRA masih akan terkena HUKUM SEBAB AKIBAT!

 Gatholo mengumpamakan, bahwa DALANG -pun harus tunduk kepada ORANG YANG MENGUNDANG. YAITU ORANG YANG PUNYA HAJAT. APA KISAH YANG DIMINTA, ITU JUGA YANG HARUS DIMAINKAN. Dalam bahasa Gatholoco, ORANG YANG PUNYA HAJAT disebut KYAI SÊPI.

 KYAI SÊPI tak lain adalah ALAM SEMESTA! Tak lain adalah PRAKRTI, BAYANGAN BRAHMAN! ALAM SEMESTA -lah yang mengarahkan jalannya cerita nasib manusia. ALAM SEMESTA -lah yang menumbuhkan BUAH KARMA. WALAUPUN SESUNGGUHNYA, NASIB SETIAP MANUSIA ITU YANG MERANGKAI DAN MENGUNTAINYA TAK LAIN ADALAH MANUSIANYA ITU SENDIRI. ALAM SEMESTA HANYA SEKEDAR MEREKAM DAN MENUMBUHKANNYA SEMATA!

ALAM SEMESTA sesungguhnya TANPA KESADARAN. ALAM SEMSETA ibarat sebuah MESIN SUPER CANGGIH yang terus bekerja merekam seluruh aktifitas manusia. Aktifitas yang BAIK maupun yang BURUK. Dan pada ujungnya, menumbuhkan buah aktifitas tersebut dalam bentuk rangkaian TAKDIR bagi manusia itu sendiri! Oleh karenanya Gatholoco menggambarkan bahwasanya KYAI SÊPI itu seolah TIDAK ADA (Maksudnya SEOLAH TIDAK MELAKUKAN AKTIFITAS MEREKAM DAN MENUMBUHKAN BUAH KARMA). AKAN TETAPI KEBERADAANYA TERGELAR NYATA (Maksudnya ALAM SEMESTA INI NYATA BEKERJA MEREKAM DAN MENUMBUHKAN BUAH KARMA)! SESUNGGUHNYA DIA-PUN LANGGENG JUGA, DIA TAK BERUBAH, TAK BISA DITAMBAH DAN TAK BISA DIKURANGI. DIA TANPA KEHENDAK SENDIRI DAN TAK MEMILIKI KESADARAN SENDIRI. ALAM SEMESTA HANYALAH BAYANGAN BRAHMAN!

Diatas itu semua, ada yang lebih berkuasa. Gatholoco menyebutnya KYAI URIP atau HIDUP! KYAI URIP tak lain adalah BRAHMAN YANG MUTLAK! SUMBER ABADI KEHIDUPAN SEMESTA RAYA! INTI SEJATI SELURUH MAKHLUK! ASAL DAN TUJUAN SELURUH MAKHLUK! SUMBER MAHA ENERGI YANG TANPA PRIBADI! YANG MELAMPAUI SEGALANYA! YANG BERADA DIMANA-MANA! YANG ADALAH SEGALANYA! KEBERADAAN, KESADARAN, KEBAHAGIAAN SEJATI! KESEIMBANGAN MURNI! YANG ADALAH KEMUTLAKAN ABSOLUT!

DAN SEJATINYA, KÊLIR (STHULA SARIIRA), WAYANG (SUKSMA SARIIRA), DALANG (ATMA SARIIRA), YANG MENONTON BERIKUT YANG MENABUH GAMÊLAN (OBYEK-OBYEK KENIKMATAN DUNIAWI), KYAI SÊPI (ALAM SEMESTA/PRAKRTI BERIKUT HUKUM KARMAPHALA-NYA) DAN BALENCONG (PURUSHA), SEMUANYA ADALAH MANIFESTASI KYAI URIP (BRAHMAN) ITU SENDIRI! (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 5-6)

Gatholoco sesungguhnya hendak mengajarkan RAHASIA ILMU SEJATI kepada mereka-mereka yang masih juga terjerat konsep keber-agama-an kulit! Mereka-mereka yang terbiasa membedakan mana SAKRAL dan mana PROFAN berlebihan! Mereka-mereka yang berputar-putar pada keyakinan bahwa TUHAN tercerabut dari MANUSIA. Keyakinan bahwa TUHAN dan MANUSIA adalah dua sosok pribadi berbeda. Yang satu dilangit nan jauh disana, yang satu berdiam dibumi dengan kenelangsaan sebagai budak yang siap dimainkan dan diatur-atur sekehendak hati oleh Dia yang ada diatas langit itu! Budak yang setiap saat bisa diangkat derajatnya ataupun diperhinakan tanpa ada alasan yang jelas! Budak yang harus terus taat dan manut nurut. Budak yang akan diiming-imingi Surga jika patuh dan akan diancam dengan siksaan Neraka jika tidak patuh! Konsep ke-Tuhan-an yang sangat membelenggu dan tradisional (walau diklaim paling modern) semacam ini, dikritik secara berani oleh seorang filsuf Eksistensialisme, Friedrich W. Nietzsche dalam karyanya ZARATUSTRA, bahwa SOSOK TUHAN YANG SEMACAM INILAH PENGHALANG MANUSIA MENCAPAI TINGKATAN UEBERMENCH atau Manusia Agung. Sosok Tuhan semacam ini, menurut Nietzsche SUDAH MATI ! Lantang dia meneriakkan GOTT IST TOT (TUHAN TELAH MATI) !

Nietzsche berteriak beberapa puluh tahun lalu tentang UEBERMENCH. Gatholoco berteriak empat ratus tahun lalu tentang LANANG SUJATI. Syeh Siti Jenar berteriak enam ratus tahun lalu tentang INGSUN PANGERAN SEJATI, JATINING PANGERAN MULYA. Sidharta Gautama berteriak dua ribu lima ratus tahun yang lalu tentang BUDDHA dan Rsi Wyaasa berteriak lima ribu tahun yang lalu dalam Brahmasutra tentang AHAM BRAHMASMI. Teriakan mereka tiada beda walaupun masa kehidupan mereka terpaut rentang waktu yang jauh! Tapi mengapa masih juga tidak ada yang mendengar? Mengapa darah masih saja terus tumpah?

Gatholoco hendak mengajarkan kepada mereka-mereka yang terus menerus tercekam ketakutaan tak beralasan (Phobia) akan KUASA TANDINGAN TUHAN YANG BERNAMA IBLIS. Sehingga sering disibukkan dengan pemilahan INI DARI TUHAN, INI DARI IBLIS. INI AJARAN TUHAN, INI AJARAN IBLIS. INI SURGA TUHAN, INI SURGA IBLIS. INI UMAT TUHAN, INI UMAT IBLIS, bahkan membedakan INI AGAMA TUHAN, INI AGAMA IBLIS. (Walau diperhalus dengan ungkapan INI AGAMA LANGIT DAN INI AGAMA BUMI)!

 KETAHUILAH! TIDAK ADA AJARAN DARI IBLIS, YANG ADA ADALAH AJARAN YANG BERASAL DARI EGOISME DAN KESERAKAHAN MANUSIA! ITULAH AJARAN SESAT DAN MENYESATKAN!

Gatholoco hendak mengajarkan bahwa seluruh semesta ini BERASAL DARI YANG SATU. BAHKAN BUKAN HANYA ITU SAJA, GATHOLOCO HENDAK MENGAJARKAN PULA BAHWA SESUNGGUHNYA SELURUH SEMESTA INI BERIKUT MAKHLUK YANG BERKERIAPAN DIDALAMNYA ADALAH SATU KESATUAN YANG TAK TERPISAHKAN! TAT TWAM ASI (ENGKAU ADALAH AKU JUGA)! TUNGGAL ADANYA!

 Hal ini ditegaskan dalam syair ke-13 diatas.

Cahyane Urip puniku, nyrambahi badanira, jaba jêro ngandhap nginggil, Wujudira Wujude Allah Kang Murba. (Cahaya Hidup tersebut, merata didalam tubuhmu, diluar didalam diatas dan dibawah, Wujudmu tak lain adalah Wujud Allah Yang Kuasa.)!

 TAK HARUS ADA SEKUMPULAN SPESIES MAKHLUK HIDUP YANG PATUT DIMUSUHI! TUHAN TAK PERNAH MENGAJARKAN PERMUSUHAN DAN KEBENCIAN KEPADA MAKHLUK LAIN! TUHAN HANYA MENGAJARKAN KASIH! KASIH YANG TANPA PANDANG BULU! BUKAN KASIH YANG PILIH-PILIH ALIAS PILIH KASIH!

Yang patut diwaspadai adalah SUKSMA SARIIRA ini. Karena didalam SUKSMA SARIIRA ini, terdapat AHAMKARA (EMOSI NEGATIF), MANAH (PIKIRAN LIAR) dan CITTA (MEMORI-MEMORI TRAUMATIK) . Namun ada pula yang dinamakan BUDDHI (KESADARAN RELATIF). BUDDHI adalah KESADARAN ATMA yang tinggal sedikit karena terbelenggu oleh AHAMKARA, MANAH DAN CITTA. Perkuat BUDDHI ini, agar tidak terpengaruh oleh AHAMKARA, MANAH DAN CITTA. Jadikan BUDDHI sebagai pengendali ketiga unsur SUKSMA SARIIRA yang lain tersebut!

AHAMKARA, MANAH DAN CITTA, ITULAH SETAN YANG SESUNGGUHNYA!

Keempat unsur SUKSMA SARIIRA inilah sesungguhnya yang dimaksud oleh leluhur Jawa jaman Shiwa Buddha dengan istilah SADULUR PAPAT KALIMA PANCÊR (SAUDARA EMPAT KELIMA PUSAT), yaitu KAKANG KAWAH (BUDDHI), ADHI ARI-ARI (MANAH), GÊTIH (AHAMKARA) dan PUSÊR (CITTA) . Sedangkan PANCÊR (PUSAT) tak lain adalah ATMA SARIIRA kita!

Konsep ini dikembangkan dalam ajaran Islam Kejawen seiring keruntuhan Majapahit, dengan mengambil kosa kata Arab, untuk menggantikan kosa kata yang berbau Weda dan berbau Jawa asli, yaitu MUTMAINAH (untuk menggantikan kosa kata KAKANG KAWAH/BUDDHI), SUFIYYAH (untuk menggantikan kosa kata ADHI ARI-ARI/MANAH), AMARAH (untuk menggantikan kosa kata GÊTIH/AHAMKARA) dan LUWWAMAH (untuk menggantikan kosa kata PUSÊR/CITTA). Lantas dikenalah istilah NAPSU PATANG PRAKARA (PRIBADI EMPAT MACAM).

 Kosa kata Jawa masih tetap bertahan, tapi kosa kata Weda, sudah dikikis habis dan tidak lagi dikenal oleh masyarakat Jawa pada umumnya hingga detik ini.

Pelampauan AHAMKARA, MANAH dan CITTA , mutlak diperlukan. Manakala sudah mampu kita lampaui, BUDDHI akan bersinar terang! Begitu BUDDHI telah termurnikan, maka KESADARAN akan meningkat pesat. Dan dalam proses lompatan peningkatan KESADARAN ini, BUDDHI itu sendiri, KESADARAN RELATIF itu sendiri, akan lenyap dalam ATMA SARIIRA . Dan ATMA SARIIRA akan memperoleh kembali KESADARAN MURNI-NYA !

ATMA SARIIRA yang telah TERJAGA TOTAL ini, sebenarnya sudah bukan lagi bisa disebut ATMA. ATMA SARIIRA yang sudah MELEK SEMPURNA ini, sesungguhnya tak lain adalah BRAHMAN itu sendiri! SIDHARTA GAUTAMA, KRISHNA dan JESUS sudah mengalaminya. Lantas mengapa anda mempermasalahkan jika ada yang menyembah SIDHARTA, KRISHNA atau JESUS ?

Tinggal selangkah lagi. Manakala ATMA SARIIRA sudah lenyap dalam SAMUDERA ENERGI PURNA , manunggal total dengan BRAHMAN , maka tiada lagi terbedakan mana ATMA mana BRAHMAN. TUNGGAL ADANYA . Gatholoco menggambarkan : ………..yen damare wus mati, kabeh iku dadi suwung, tan ana apa-apa, lir Ingsun duk durung lair, têtêp suwung ora ana siji apa. (manakala pelita telah padam, semua jadi kosong, tidak ada apa-apa, bagaikan Ingsun (Aku) ketika belum terlahirkan, tetap kosong tidak ada apapun juga.)

 Dan yang ‘ada’ hanyalah ‘YANG ADA’ itu sendiri. Tiada lagi ‘ada’ yang lain!
Damar Shashangka
0 komentar

SERAT DARMAGANDHUL_11

Carita adêge Nagara Islam ing Dêmak bêdhahe Nagara Majapahit kang salugune wiwite wong Jawa ninggal agama Buda banjur salin agama Islam.

(Cerita berdirinya Negara Islam di Demak, hancurnya Negara Majapahit, dimana saat itulah awal mula masyarakat Jawa meninggalkan agama Buda [Shiwa Buda] dan berganti memeluk agama Islam.)

Gancaran basa Jawa ngoko.
(Prosa dalam bahasa Jawa kasar)

Babon asli tinggalane K.R.T. Tandhanagara, Surakarta.
(Diambil dari catatan induk asli peninggalan K.R.T. Tandhanagara, Surakarta.)

Sêrat Tapak Hyang, ingkang dipunwastani Sastrajendrayuningrat, dados saking sabda kun, ingkang dipunwastani jithok têgêsipun namung puji thok. Dewa ingkang damêl cahya murub nyrambahi badan, têgêsipun incêngên aneng cêngêlmu. Jiling punika puji eling marang Gusti. Punuk têgêsipun panakna. Timbangan têgêsipun salang. Pundhak punika panduk, urip wontên ing ‘alam dunya pados kawruh kaliyan woh kuldi, manawi angsal woh kuldi kathah, untungipun sugih daging, yen angsal woh kawruh kathah, kenging kangge sangu gêsang, gêsang langgêng ingkang botên sagêd pêjah. Têpak têgêsipun têpa-tapanira. Walikat: walikane gêsang. Ula-ula: ulatana, lalarên gêgêrmu sing nggligir. Sungsum têgêsipun sungsungên. Lambung: waktu Dewa nyambung umur, alamipun jalma sambungan, lali eling urip mati. Lêmpeng kiwa têngên têgêsipun tekadmu sing lêmpêng lair batin, purwa bênêr lawan luput, bêcik lawan ala. Mata têgêsipun tingalana batin siji, sing bênêr keblatira, akeh keblat bênêr siji. Têngên têgêsipun têngênên ingkang têrang, wontên ing dunya amung sadarmi ngangge raga, botên damêl botên tumbas. Kiwa têgêsipun: raga iki isi hawa kêkajêngan, botên wênang ngêkahi pêjah. Makatên punika ungêling sêrat.

Manawi paduka maibên, sintên ingkang damêl raga? Sintên ingkang paring nama? inggih namung Latawalhujwa, manawi paduka maibên, paduka têtêp kapir, kapiran seda paduka, botên pitados dhatêng sêratipun Gusti, sarta murtat dhatêng lêluhur Jawi sadaya, nempel tosan, kajêng sela, dados dhêmit têngga siti, manawi paduka botên sagêd maos sastra ingkang wontên ing badanipun manusa, saseda paduka manjalma dhatêng kuwuk, dene manawi sagêd maos sastra ingkang wontên ing raga wau, saking tiyang inggih dados tiyang, kasêbut ing sêrat Anbiya, Kanjêng Nabi Musa kala rumiyin tiyang ingkang pêjah wontên ing kubur, lajêng tangi malih, gêsangipun gantos roh lapis enggal, gantos makam enggal.

Manawi paduka ngrasuk agami Islam, tiyang Jawi tamtu lajêng Islam sadaya. Manawi kula, wadhag alus-kula sampun kula-cakup lan kula-carub, sampun jumbuh dados satunggal, inggih nglêbêt inggih jawi, dados kantun sasêdya-kula kemawon, ngadam utawi wujud sagêd sami sanalika, manawi kula kêpengin badhe wujud, inggih punika wujud-kula, sêdya ngadam, inggih sagêd ical sami sanalika, yen sêdya maujud sagêd katingal sanalika. Raga-kawula punika sipating Dewa, badan-kawula sakojur gadhah nama piyambak-piyambak. Cobi paduka-dumuk: pundi wujudipun Sabdapalon, sampun kalingan pajar, saking pajaripun ngantos sampun botên katingal wujudipun Sabdapalon, kantun asma nglimputi badan, botên ênem botên sêpuh, botên pêjah botên gêsang, gêsangipun nglimputi salêbêting pêjahipun, dene pêjahipun nglimputi salêbêting gêsangipun, langgêng salaminipun”.

Sang Prabu ndangu: “Ana ing ngêndi Pangeran Kang Sajati?”

Sabdapalon matur: “Botên têbih botên cêlak, paduka wayangipun wujud sipating suksma, dipunanggêp sarira tunggal, budi hawa badan, tiga-tiga punika tumindakipun; botên pisah, nanging inggih botên kumpul. Paduka punika sampun Ratu linuhung tamtu botên badhe kêkilapan dhatêng atur-kula punika”.

Sang Prabu ngandika maneh: “Apa kowe ora manut agama?”

Sabdapalon ature sêndhu: “Manut agami lami, dhatêng agami enggal botên manut! Kenging punapa paduka gantos agami têka botên nantun kula, paduka punapa kêkilapan dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda têgêsipun pamuwus, Palon: pikukuh kandhang. Naya têgêsipun ulat, Genggong: langgêng botên ewah. Dados wicantên-kula punika, kenging kangge pikêkah ulat pasêmoning tanah Jawi, langgêng salaminipun.”

Sang Prabu ngandika: “Kapriye iki, aku wis kêbacut mlêbu agama Islam, wis disêkseni Sahid, aku ora kêna bali agama Buda maneh, aku wirang yen digêguyu bumi langit.”

Sabdapalon matur maneh: “Inggih sampun, lakar paduka-lampahi piyambak, kula botên tumut-tumut.”

Sunan Kalijaga banjur matur marang Sang Prabu, kang surasane ora prêlu manggalih kang akeh-akeh, amarga agama Islam iku mulya bangêt, sarta matur yen arêp nyipta banyu kang ana ing beji, prêlu kanggo tandha yêkti, kapriye mungguh ing gandane. Yen banyu dicipta bisa ngganda wangi, iku tandha yen Sang Prabu wis mantêp marang agama Rasul, nanging yen gandane ora wangi, iku anandhakake: yen Sang Prabu wus panggalih Rasul. Sunan Kalijaga banjur nyipta, padha sanalika banyu sêndhang banjur dadi wangi gandane, ing kono Sunan kalijaga matur marang Sang Prabu, kaya kang wis kathandha, yen Sang Prabu nyata wis mantêp marang agama Rasul, amarga banyu sêndhang gandane wangi.

Ature Sabdapalon marang Sang Prabu: “Punika kasêkten punapa? kasêktening uyuh kula wingi sontên, dipunpamerakên dhatêng kula. Manawi kula timbangana nama kapilare, mêngsah uyuh-kula piyambak, ingkang kula rêbat punika? Paduka sampun kêlajêng kêlorob, karsa dados jawan, irib-iriban, rêmên manut nunut-nunut, tanpa guna kula êmong, kula wirang dhatêng bumi langit, wirang momong tiyang cabluk, kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal, botên rêmên momong paduka. Manawi kula sumêdya ngêdalakên kaprawiran, toya kula-êntut sêpisan kemawon, sampun dados wangi. Manawi paduka botên pitados, kang kasêbut ing pikêkah Jawi, nama Manik Maya, punika kula, ingkang yasa kawah wedang sanginggiling rêdi rêdi Mahmeru punika sadaya kula, adi Guru namung ngideni kemawon, ing wêkdal samantên tanah Jawi sitinipun gonjang-ganjing, saking agênging latu ingkang wontên ing ngandhap siti, rêdi-rêdi sami kula êntuti, pucakipun lajêng anjêmblong, latunipun kathah ingkang mêdal, mila tanah Jawi lajêng botên goyang, mila rêdi-rêdi ingkang inggil pucakipun, sami mêdal latunipun sarta lajêng wontên kawahipun, isi wedang lan toya tawa, punika inggih kula ingkang damêl, sadaya wau atas karsanipun Latawalhujwa, ingkang damêl bumi lan langit. Punapa cacadipun agami Buda, tiyang sagêd matur piyambak dhatêng Ingkang Maha Kuwasa. Paduka yêktos, manawi sampun santun agami Islam, nilar agami Buddha, turun paduka tamtu apês, Jawi kantun jawan, Jawinipun ical, rêmên nunut bangsa sanes. Benjing tamtu dipun prentah dening tiyang Jawi ingkang mangrêti.

“Cobi paduka-yêktosi, benjing: sasi murub botên tanggal, wiji bungkêr botên thukul, dipun tampik dening Dewa, tinanêma thukul mriyi, namung kangge têdha pêksi, mriyi punika pantun kados kêtos, amargi paduka ingkang lêpat, rêmên nêmbah sela. Paduka-yêktosi, benjing tanah Jawa ewah hawanipun, wêwah bênter awis jawah, suda asilipun siti, kathah tiyang rêmên dora, kêndêl tindak nistha tuwin rêmên supata, jawah salah masa, damêl bingungipun kanca tani. Wiwit dintên punika jawahipun sampun suda, amargi kukuminipun manusa anggenipun sami gantos agami. Benjing yen sampun mrêtobat, sami engêt dhatêng agami Buda malih, lan sami purun nêdha woh kawruh, Dewa lajêng paring pangapura, sagêd wangsul kados jaman Buda jawahipun”.

Sang Prabu mirêng ature Sabdapalon, ing batos rumaos kaduwung bangêt dene ngrasuk agama Islam, nilar agama Buddha. Nganti suwe ora ngandika, wasana banjur ngandika, amratelakake yen ênggone mlêbêt agama Islam iku, amarga kêpencut ature putri Cêmpa, kang ngaturake yen wong agama Islam iku, jarene besuk yen mati, antuk swarga kang ngungkuli swargane wong kapir.

Sabdapalon matur, angaturake lêpiyan, yen wiwit jaman kuna mula, yen wong lanang manut wong wadon, mêsthi nêmu sangsara, amarga wong wadon iku utamane kanggo wadhah, ora wênang miwiti karêp, Sabdapalon akeh-akeh ênggone nutuh marang Sang Prabu.

Sang Prabu ngandika: “Kok-tutuha iya tanpa gawe, amarga barang wis kêbacut, saiki mung kowe kang tak-tari, kapriye kang dadi kêkêncênganing tekadmu? Yen aku mono ênggonku mlêbu agama Islam, wis disêkseni dening si Sahid, wis ora bisa bali mênyang Buda mêneh”.

Sabdapalon matur yen arêp misah, barêng didangu lungane mênyang ngêndi, ature ora lunga, nanging ora manggon ing kono, mung nêtêpi jênênge Sêmar, nglimputi salire wujud, anglela kalingan padhang. Sang Prabu diaturi ngyêktosi, ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa, agêgaman kawruh, iya iku sing diêmong Sabdapalon, wong jawan arêp diwulang wêruha marang bênêr luput.

Sang Prabu karsane arêp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong, nanging wong loro mau banjur musna. Sang Prabu ngungun sarta nênggak waspa, wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk nagara Blambangan salina jênêng nagara Banyuwangi, dadiya têngêr Sabdapalon ênggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane. Dene samêngko Sabdapalon isih nglimput aneng tanah sabrang”. Sunan Kalijaga banjur didhawuhi nêngêri banyu sêndhang, yen gandane mari wangi, besuk wong Jawa padha ninggal agama Islam ganti agama Kawruh.

Sunan Kalijaga banjur yasa bumbung loro kang siji diiseni banyu tawa, sijine diiseni banyu sêndhang. Banyu sêndhang mau kanggo tandha, yen gandane mari wangi, wong tanah Jawa padha salin agama kawruh. Bumbung sawise diiseni banyu, banjur disumpêli godhong pandan-sili, sabanjure digawa sakabate loro.

Sang Prabu Brawijaya banjur tindak didherekake Sunan Kalijaga lan sakabate loro, tindake kawêngen ana ing dalan, nyare ana ing Sumbêrwaru, esuke bumbunge dibukak, banyune diambu isih wangi, nuli mbanjurake tindake, wayah surup srêngenge, wis têkan ing Panarukan. Sang Prabu nyare ana ing kono, ing wayah esuk, banyu ing bumbung diganda isih wangi, Sang Prabu mbanjurake tindake.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia

Tersebut dalam Serat Tapak Hyang, yang juga disebut dengan Sastrajendrayuningrat, Serat yang tercipta dari Sabda Kun (maksudnya berasal dari wahyu juga), yang dinamakan JITHOK (KUDUK MANUSIA) sesungguhnya bermakna pu-JI THOK (Hanya Pujian semata). Dewa Yang Agung, yang telah menciptakan cahaya menyala yang menyelimuti sekujur tubuh manusia sesungguhnya ada dekat, sedekat dengan kuduk manusia. (Kuduk manusia sangat dekat, namun sulit manusia melihat kuduknya sendiri kalau tidak bercermin). JILING (KENING) sesungguhnya bermakna pu-JI e-LING (Memuji dan Ingat) kepada Gusti. PUNUK (BAHU) sesungguhnya bermakna PANAKNA (TEMPATKANLAH ~ maksudnya Tempatkanlah Kesadaran kamu pada posisi yang sesungguhnya). TIMBANGAN (TULANG BAHU YANG MENONJOL) sesungguhnya bermakna SALANG (Terhubung ~ maksudnya Terhubung dengan Gusti). PUNDHAK (PUNDAK) sesungguhnya bermakna PANDUK (Mencari), hidup dialam dunia ini hanya mencari dua hal, Buah Pengetahuan dan Buah Kuldi (Keduniawian), jika mendapatkan banyak Buah Kuldi, hasilnya akan gemuk, jika mendapatkan Buah Pengetahuan yang banyak, bisa dibuat bekal untuk hidup, HIDUP YANG KEKAL ABADI YANG TIDAK TERKENA MATI. TEPAK (DADA) sesungguhnya bermakna TEPA TAPANIRA (Tetapkan Tapa-mu). WALIKAT (BELIKAT) sesungguhnya bermakna WALIKANE GESANG (Dibalik Hidup). ULA-ULA (TULANG BELAKANG MANUSIA) sesungguhnya bermakna ULATANA (Perhatikanlah dengan seksama), amatilah punggungmu dengan seksama (maksudnya amatilah sesuatu yang dekat denganmu tapi sulit untuk dilihat secara langsung seperti halnya punggung kita). SUNGSUM (SUMSUM TULANG) sesungguhnya bermakna SUNGSUNGEN (Persembahkanlah ~ maksudnya, Persembahkanlah kehidupanmu bagi Gusti ). LAMBUNG sesungguhnya bermakna, Dewa Yang Maha Agung yang menciptakan alam ini secara bersambungan, bersambungan antara INGAT-LUPA, HIDUP-MATI (maksudnya Rwabhineda atau Dualitas duniawi). LEMPENG (BAGIAN PINGGIR PERUT) kiri dan kanan, maksudnya Kuatkan tekad dan LEMPENG (LURUS)-kanlah tekadmu lahir batin, luruskanlah agar bisa membedakan mana benar dan mana salah, mana baik dan mana buruk. MATA maksudnya lihatlah semuanya ini dengan kesatuan batin yang utuh, lihatlah kiblat yang benar, banyak kiblat namun yang benar hanyalah satu saja. TENGEN (KANAN) maksudnya TENGENEN (Benar-benar utamakan) hingga jelas dan terang, bahwasanya didunia ini hanya sekedar memakai Raga fana semata, Raga yang tidak susah-susah membuat sendiri dan tidak juga beli. KIWA (KIRI) maksudnya Raga ini berisi HAWA keinginan, dan sulit untuk dimatikan segala keinginan tersebut. Begitulah apa yang tertulis dalam Serat.

Manakala paduka meragukan siapakah yang membuat Raga? Siapakah yang telah memberikan nama? Sesungguhnya tak lain hanya Lata wal Huzza (sekali lagi Sabda Palon memakai istilah Tuhan dengan nama Latta wal Huzza). Manakala paduka tetap meragukan, jelas paduka bisa disebut kafir, kapiran (sia-sia) kelak jika paduka meninggal. Tidak mempercayai tulisan Gusti (yang ada didalam tubuh paduka sendiri), serta telah murtad kepada para leluhur Jawa semua. Kelak saat mati, Roh paduka akan menempel pada besi (pusaka), kayu, batu, menjadi demit yang menjaga tanah. Itu akan terjadi jika paduka tidak bisa membaca serat/wahyu yang ada didalam tubuh paduka sendiri, jelas kelak jika meninggal akan menjelma/lahir kembali menjadi kuwuk (binatang laut). Akan tetapi jika mampu membaca sastra yang tertulis didalam tubuh paduka, berasalnya manusia akan lahir kembali menjadi manusia. (Sungguh kelahiran kembali ini juga diceritakan dalam ajaran Timur Tengah), salah satu contohnya konon dulu saat Kangjeng Nabi Musa hidup, ada orang yang telah meninggal dan telah berada didalam kuburan, bisa hidup kembali, hidupnya bahkan bisa berganti menjadi Roh yang murni, bahkan bisa mencapai kedudukan (evolusi jiwa) yang baru.

Jika paduka memeluk agama Islam, seluruh masyarakat Jawa pasti akan ikut memeluk agama Islam semua. Kalau hamba ini, Badan Kasar berikut Badan Halus hamba sudah hamba gengam dan hamba kuasai, sudah mampu hamba jadikan satu, tak ada beda mana yang disebut dalam dan mana yang disebut luar lagi. Jadi hanya sesuai dengan keinginan hamba semata, menghilang dalam wujud gaib (berbadan halus) maupun mewujud (berbadan kasar seperti sekarang) bisa hamba lakukan seketika dan kapanpun juga. Jika hamba tengah berkeinginan mewujud, inilah wujud yang hamba pilih. Jikalau hamba berkeinginan untuk berwujud gaib, bisa terjadi seketika, jikalau hamba berkeinginan untuk berwujud wadag, bisa terlihat seketika juga. Raga hamba ini sudah bersifat Illahi, seluruh Raga hamba ini satu persatu memiliki nama sendiri-sendiri. Silakan ditunjuk, mana yang disebut Sabda Palon, sudah hamba halangi dengan wujud ragawi. Begitu mewujudnya hingga tidak bisa diketahui lagi mana sesungguhnya Sabda Palon. Hanya nama yang bisa dikenali. Sabda Palon sesungguhnya tidak tua juga tidak muda, tidak mati juga tidak hidup, hidupnya meliputi matinya dan matinya meliputi hidupnya, abadi selama-lamanya.”

Sang Prabhu bertanya :”Dimanakah Tuhan Yang Sejati?”

Sabda Palon menjawab: “Tiada jauh juga tiada dekat, paduka adalah perwujudan-Nya, dinyatakan telah menyatu, Budi (Kesadaran), Hawa (Keinginan) dan Badan (Jasad Fisik), ketiganya adalah sarana-Nya mewujud. Tiada terpisah, akan tetapi tidak juga menyatu. Sesungguhnya paduka adalah Raja Yang Utama, pastilah akan memahami apa yang hamba ucapkan!”

Sang Prabhu berkata lagi: “Apakah dirimu tidak menuruti aturan agama ?”

Sabda Palon menjawab sedih : “Hamba menuruti aturan agama yang lama, kepada agama yang baru hamba tidak menuruti. Apa sebabnya paduka memutuskan berpindah agama akan tetapi tidak meminta pertimbangan kepada hamba? Apakah paduka lupa akan arti nama hamba Sabda Palon? Sabda artinya Ucapan, Palon : artinya Ketetapan. Naya artinya Wajah, Genggong : Langgeng tak berubah. Jadi ucapan hamba ini, adalah ketetapan bagi wajah/bentuk dari tanah Jawa, langgeng selamanya!”

Sang Prabhu berkata : “Bagaimana ini, aku sudah terlanjur memeluk agama Islam, sudah disaksikan oleh Sahid, aku tidak boleh kembali memeluk agama Buda lagi. Akan memalukan dan ditertawakan bumi serta langit (jika aku tidak konsekwen)!”

Sabda Palon berkata : “Sudah terlanjur, silakan paduka jalani sendiri, hamba tidak ikut-ikut.”

Sunan Kalijaga lantas berkata kepada Sang Prabhu, yang isinya menyarankan agar tidak perlu berfikir macam-macam, sebab agama Islam itu adalah agama yang mulia. Sunan Kalijaga memohon ijin untuk menjadikan air didalam danau sebagai tanda bukti, bagaimanakah nanti baunya. Jika air danau nantinya bisa berbau wangi, itu berarti Sang Prabhu sudah mantap memeluk agama Rasul. Sunan Kalijaga lantas menyabda air danau dan seketika berbau wangi dan harum. Sunan Kalijaga berkata kepada Sang Prabhu, sebagaimana sudah terbukti, jikalau Sang Prabhu nyata telah mantap memeluk agama Rasul, tandanya air danau berbau harum.

Berkata Sabda Palon kepada Sang Prabhu : “Ini hanya kesaktian belaka. Kesaktian kecil yang hanya seimbang dengan air kencing hamba. Kesaktian seperti ini dipamerkan didepan hamba. Jikalau saya imbangi, sama saja sama melawan air kencing hamba sendiri, apa yang hendak saya perebutkan? Paduka sudah terlanjur terkecoh, sudah berkehendak menjadi manusia yang sekedar menumpang, tidak memiliki ketetapan hati, sukanya hanya ikut-ikutan. Sungguh tiada guna hamba momong paduka selama ini, hamba malu kepada bumi dan langit, telah momong manusia bodoh, HAMBA HENDAK MENCARI MOMONGAN LAIN YANG HANYA BERMATA SATU, hamba sudah tidak akan momong paduka lagi. Jikalau hamba mau, air danau ini akan hamba jadikan minyak wangi dengan lantaran kentut hamba saja. Ketahuilah, yang disebut MANIKMAYA oleh masyarakat Jawa itu tak lain adalah hamba ini! Yang menciptakan kawah diatas gunung Mahameru dulu adalah hamba. Adi Guru (Bathara Shiwa) yang memberikan ijin-Nya. Pada waktu itu tanah dipulau Jawa masih belum stabil. Didalam tanah mengeram api yang siap keluar setiap saat. Oleh karenanya, hamba kentuti setiap puncak gunung agar supaya api tersebut bisa mengalir dari sana saja. Oleh karenanya, tanah Jawa lantas menjadi stabil dan banyak gunung di Jawa yang aktif memiliki kawah berapi, berisi air panas dan air tawar. Hamba yang membuat sedemikian itu dulu. Semua atas kehendak Lata wal Huzza, yang telah menciptakan bumi dan langit. Apa kurangnya agama Buda? Setiap pemeluknya bisa memohon sendiri kepada Yang Maha Kuasa. Percayalah, jikalau paduka berganti agama Islam, meninggalkan agama Buda, keturunan paduka akan senantiasa dalam kesusahan, Jawa hanya tinggal nama, Jawa-nya hilang dan sukanya akan mengikut bangsa lain. Tapi kelak suatu saat akan diperintah oleh orang Jawa yang memahami (ajaran leluhur lagi)!”

“Silakan paduka buktikan, kelak sebelum menjelang purnama jarang diikuti tampaknya bulan mulai tanggal pertama, biji padi banyak yang susah tumbuh, ditolak oleh para Dewa, dipaksa untuk ditanampun akan tumbuh menghasilkan biji Mriyi (padi kecil), hanya bisa dibuat makanan burung. Mriyi itu padi yang tidak enak rasanya, hal ini dikarenakan paduka telah berbuat kurang tepat, mengikut menyembah batu. Buktikanlah, kelak tanah Jawa berubah hawa-nya, terasa lebih panas dan kurang hujan, berkurang hasil pertanian, banyak manusia yang suka berbohong, suka berbuat nista dan mudah mengucap janji. Hujan tiba tapi salah waktu, membuat kebingungan para petani. Mulai hari ini, hujan akan berkurang, sebab merupakan hukuman bagi manusia Jawa yang berani berpindah keyakinan. Kelak jika sudah kembali Kesadaran-nya, sudah ingat kepada agama Buda lagi, serta manusia Jawa sudah gemar mencari buah Pengetahuan lagi, Tuhan akan memberikan ampunan, suasana Jawa akan makmur tenteram kembali seperti jaman Buda lagi!”

Mendengar ucapan Sabda Palon, Sang Prabhu dalam hati merasa menyesal telah berpindah agama. Hingga lama tak bersuara, lantas berkata, mengapa dirinya tertarik kepada agama Islam karena terpikat ucapan putri Champa, yang mengatakan bahwasanya kelak manusia yang memeluk agama Islam jika meninggal akan mendapatkan surga yang melebihi surga orang kafir.

Sabda Palon menjawab, sudah semenjak dahulu, jika suami terlalu menuruti istri, pasti akan menemukan kesengsaraan. Karena wanita ibaratnya adalah tempat rasa (penuh emosi), jarang yang bisa menggunakan penalaran tanpa terbalut emosinya, Sabda Palon menasehati banyak hal kepada Sang Prabhu.

Sang Prabhu berkata :”Kamu nasehati bagaimanapun juga sudah tiada guna lagi, semua terlanjur. Sekarang, sekali lagi aku hendak menanyakan ketetapan hatimu. Diriku sudah terlanjur masuk agama Islam dan telah disaksikan oleh si Sahid, sudah tidak mungkin lagi kembali ke Buda lagi.”

Sabda Palon mengatakan hendak berpisah. Manakala ditanya hendak pergi kemana, menjawab tidak hendak pergi jauh tapi sudah tidak bertempat di Jawa lagi. Karena bagaimanapun untuk memegang tugasnya sebagai Semar, tetap juga akan meliputi Jawa walau tiada terlihat nyata. Sang Prabhu diberikan janji, JIKA KELAK ADA MANUSIA JAWA BERNAMA TUA, BERSENJATAKAN KAWRUH (PENGETAHUAN KESADARAN) DIALAH YANG DI MOMONG SABDA PALON, MANUSIA JAWA YANG SUDAH KEHILANGAN JAWANYA AKAN DIAJARI AJARAN BENAR DAN SALAH LAGI!

Sang Prabhu berkehendak ingin merangkul Sanda Palon dan Naya Genggong, akan tetapi keduanya sirna seketika itu juga. Sang Prabhu terkejut dan tak terasa keluarlah buliran air bening dari matanya, lantas kemudian berkata kepada Sunan Kalijaga : “Kelak dikemudian hari, negara Blambangan akan berganti nama Banyuwangi. Akan menjadi pengingat bahwasanya kelak Sabda Palon akan pulang ke Jawa sembari membawa momongannya. Sekarang dia ada ditanah seberang!” Sunan Kalijaga lantas disuruh mengamati air danau, jikalau bau wangi akibat disabdakan oleh Sunan Kalijaga tadi hilang , maka itu pertanda, kelak orang Jawa akan meninggalkan agama Islam dan berganti agama Kawruh (Pengetahuan).

Sunan Kalijaga lantas membuat bumbungan dari bambu dua buah, yang satu diisi air tawar dan yang satu diisi air danau. Air danau nanti akan dijadikan pertanda, jikalau bau wanginya hilang, maka orang Jawa kelak akan berpindah agama Kawruh (Pengetahuan). Bumbungan setelah diisi air, lantas ditutup menggunakan daun Pandhan Sili, lantas dibawa oleh dua orang murid Sunan Kalijaga.

Sang Prabhu berikut rombongan lantas berangkat diikuti oleh Sunan Kalijaga dan muridnya. Perjalanan terhalang malam, lantas bermalam di daerah Sumberwaru. Waktu pagi bumbungan dibuka, air dicium masih berbau wangi, perjalanan lantas dilanjutkan. Sore menjelang, telah sampai di Panarukan, Sang Prabhu berikut rombongan bermalam disana. Pagi harinya, air didalam bumbungan dibaui masih wangi, Sang Prabhu lantas melanjutkan perjalanannya.
Damar Shashangka
0 komentar

SERAT DARMAGANDHUL_10

Carita adêge Nagara Islam ing Dêmak bêdhahe Nagara Majapahit kang salugune wiwite wong Jawa ninggal agama Buda banjur salin agama Islam.

(Cerita berdirinya Negara Islam di Demak, hancurnya Negara Majapahit, dimana saat itulah awal mula masyarakat Jawa meninggalkan agama Buda [Shiwa Buda] dan berganti memeluk agama Islam.)

Gancaran basa Jawa ngoko.
(Prosa dalam bahasa Jawa kasar)

Babon asli tinggalane K.R.T. Tandhanagara, Surakarta.
(Diambil dari catatan induk asli peninggalan K.R.T. Tandhanagara, Surakarta.)

Sabdapalon matur: “Akhirat, swarga, sampun paduka-bêkta ngaler ngidul, jagadipun manusa punika sampun mêngku ‘alam sahir kabir, nalika tapêl Adam, sampun pêpak: akhirat, swarga, naraka ‘arasy kursi. Paduka badhe tindak dhatêng akhirat pundi, mangke manawi kêsasar lo, mangka ênggene akhirat punika têgêse mlarat, saênggen- ênggen wontên akhirat, manawi kenging kula-singkiri, sampun ngantos kula mantuk dhatêng kamlaratan sarta minggah dhatêng akhirat adil nagari, manawi lêpat jawabipun tamtu dipunukum, dipunbanda, dipunpaksa nyambut damêl awrat tur botên tampa arta. Klêbêt akhirat nusa Srênggi, nusa têgêsipun manusa, Srêng têgêsipun padamêlan ingkang awrat sangêt. Ênggi têgêsipun gawe.

Dados têgêsipun jalma pinêksa nyambut damêl dhatêng Ratu Nusa Srênggi namanipun, punapa botên cilaka, tiyang gêsang wontên ing dunya kados makatên wau, sakulawargane mung nadhah bêras sapithi, tanpa ulam, sambêl, jangan punika akhirat ingkang katingal tata lair, manawi akhiratipun tiyang pêjah malah langkung saking punika, paduka sampun ngantos kondur dhatêng akhirat, sampun ngantos minggah dhatêng swarga, mindhak kêsasar, kathah rajakaya ingkang wontên ing ngriku, sadaya sami trima tilêm kêmul siti, gêsangipun nyambut damêl kanthi paksan, botên salah dipunpragat, paduka sampun ngantos sowan Gusti Allah, amargi Gusti Allah punika botên kantha botên warna, wujudipun amung asma, nglimputi wontên ing dunya tuwin ing akhirat, paduka dereng têpang, têpangipun amung têpang kados cahyanipun lintang lan rêmbulan, kapanggihe cahya murub dados satunggal, botên pisah botên kumpul, têbihipun botên mawi wangênan, cêlak botên panggihan, kula botên kuwawi cêlak, punapa malih paduka, Kangjêng Nabi Musa toh botên kuwawi mandêng dhatêng Gusti Allah, mila Allah botên katingal, namung Dzatipun ingkang nglimputi sadaya wujud, paduka wiji rohani, sanes bangsanipun malaekat, manusa raganipun asal saking nutfah, sowan Hyang Latawalhujwa, manawi panggenanipun sampun sêpuh, nyuwun ingkang enggal, dados botên wongsal-wangsul, ingkang dipunwastani pêjah gêsang, ingkang gêsang napasipun taksih lumampah, têgêsipun urip, ingkang têtêp langgêng, botên ewah botên gingsir, ingkang pêjah namung raganipun, botên ngraosakên kanikmatan, pramila tumrap tiyang agami Buddha, manawi raganipun sampun sêpuh, suksmanipun mêdal nyuwun gantos ingkang sae, nglangkungi ingkang sampun sêpuh, nutfah sampun ngantos ebah saking jagadipun, jagadipun manusa punika langgêng, botên ewah gingsir, ingkang ewah punika makaming raos, raga wadhag ingkang asal roh idlafi.

Prabu Brawijaya botên anem botên sêpuh, nanging langgêng manggen wontên satêngahipun jagadipun, lumampah botên ebah saking panggenanipun, wontên salêbêting guwa sir cipta kang êning. Gawanên gêgawanmu, ngGêgawa nêdha raga. Tulis ical, etangan gunggunge: kumpul, plêsatipun wêtaha. Ningali jantung kêtêg kiwa: surut marga sire cipta, jujugipun ingkang cêtha cêthik cêthak. Punika pungkasanipun kawruh, kawruhipun tiyang Buda.

Lêbêtipun roh saking cêthak marginipun, kendêl malih wontên cêthik, mêdal wontên kalamwadi, kentir sagara rahmat lajêng lumêbêt ing guwa indra-kilaning estri, tibaning nikmat ing dhasaring bumi rahmat, wontên ing ngriku ki budi jasa kadhaton baitu’llah ingkang mulya, dadosipun saking sabda kun, dados wontên têngahing jagad swarganing tiyang sêpuh estri, mila jalma keblatipun wontên têngahing jagad, jagading tiyang punika guwa sir cipta namanipun, dipunbêkta dhatêng pundi- pundi botên ewah, umuripun sampun dipunpasthekakên, botên sagêd ewah gingsir, sampun dipunsêrat wontên lokhil-makful, bêgja cilakanipun gumantung wontên ing budi nalar lan kawruhipun, ingkang ical utawi kirang ikhtiaripun inggih badhe ical utawi kirang bêgjanipun.

Wiwitanipun keblat sakawan, inggih punika wetan kilen kidul ler : têgêsipun wetan : wiwitan manusa maujud; têgêsipun kulon : bapa kêlonan; têgêsipun kidul : estri didudul wêtênge ing têngah; têgêsipun lor : laire jabang bayi, tanggal sapisan kapurnaman, sênteg sapisan tênunan sampun nigasi. Têgêsipun pur: jumbuh, na; ana wujud, ma; madhêp dhatêng wujud; jumbuh punika têgêsipun pêpak, sarwa wontên, mêngku alam sahir kabir, tanggalipun manusa, lairipun saking tiyang sêpuhipun estri, sarêng tanggalipun kaliyan sadherekipun kakang mbarêp adhi ragil, kakang mbarêp punika kawah, adhi punika ari-ari, sadherek ingkang sarêng tanggal gaibipun, rumêksa gêsangipun elingipun panjanmaning surya, lênggah rupa cahya, kontêning eling sadayanipun, siyang dalu sampun sumêlang dhatêng sadaya rêrupen, ingkang engêt sadayanipun, surup lan tanggalipun sampun samar : kala rumiyin, sapunika lan benjing, punika kawruhipun tiyang Jawi ingkang agami Buda. Raga punika dipunibaratakên baita, dene suksmanipun inggih punika tiyang ingkang wontên ing baita wau, ingkang nêdahakên pandomipun, manawi baitanipun lumampah mangka salah pandomipun, tamtu manggih cilaka, baita pêcah, tiyangipun rêbah.

Pramila kêdah ingkang mapan, mumpung baitanipun taksih lumampah, manawi botên mapan gêsangipun, pêjah malih sagêda mapan, nêtêpi kamanusanipun, manawi baitanipun bibrah, inggih pisah kaliyan tiyangipun; têgêsipun suksma ugi pisah kaliyan budi, punika namanipun sahadat, pisahipun kawula kaliyan Gusti, sah têgêsipun pisah, dat punika Dzating Gusti, manawi sampun pisah raga suksma, budinipun lajêng santun baitu’llah, napas tali, muji dhatêng Gusti, manawi pisaha raga suksma lan budi, mrêtitis ingkang botên-botên, yen tunggal, kabêsaran, tanggalipun botên surup salaminipun, punika kêdah ingkang waspada, ngengêtana dhatêng asaling kawula, kawula ugi wajib utawi wênang matur dhatêng Gusti, nyuwun baitu’llah ingkang enggal, ngungkulana ingkang lami. Raganing manusa punika namanipun baitu’llah, inggih prau gaweyaning Allah, dadosipun saking sabda kun, manawi baitanipun tiyang Jawi sagêd mapan santun baitu’llah malih ingkang sae, baitanipun tiyang Islam gêsangipun kantun pangrasa, praunipun sampun rêmuk, manawi suksma punika pêjah ing ‘alam dunya suwung, botên wontên tiyang, manawi tiyang punika têrus gêsang, ing dunya kêbak manusa, lampahipun saking ênem urut sêpuh, ngantos roh lapisan, sanadyan suksmanipun tiyang, nanging manawi tekadipun nasar, pêjahipun manjalma dados kuwuk, sanadyan suksmanipun kewan, nanging sagêd manjalma dados tiyang kajêngipun, adiling Kawasa tiyang punika pinasthi ngundhuh wohing panggawene piyambak-piyambak.

Nalika panjênênganipun Bathara Wisnu jumênêng Nata wontên ing Mêndhang Kasapta, sato wana tuwin lêlêmbut dipuncipta dados manusa, dados wadya-balanipun Sang Nata. Nalika eyang paduka Prabu Palasara iyasa kadhaton wontên ing Gajahoya, sato wana tuwin lêlêmbut inggih dipuncipta dados tiyang, pramila gandanipun tiyang satunggal-satunggalipun beda-beda, gandanipun kadosdene nalika taksih dados sato kewan.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia

Sabda Palon menjawab : Akherat, surga, semua sudah paduka bawa dalam diri paduka, telah paduka bawa kemanapun juga. Didalam diri manusia ini sesungguhnya semua sudah ada, oleh karenanya diri manusia juga disebut alam sahir (mikrokosmos) karena apa yang ada di alam kabir (makrokosmos), juga ada didalam diri manusia. Sudah semenjak tapel Adam (didalam kandungan usia 9 bulan), semua sudah lengkap : surga, neraka, arasy kursi. Lantas paduka hendak pergi ke akherat yang mana? Jangan sampai tersesat, lho? Padahal kondisi akherat (diluar diri manusia) itu mirip sekali dengan kondisi manusia yang melarat. Banyak tingkatan akherat (yang ada diluar diri manusia), segala akherat semacam itu sangat saya hindari, jangan sampai saya pulang ketempat yang kondisinya bagaikan kondisi manusia melarat, jangan sampai saya menuju akherat diluar diri yang konon disebut Negara yang adil (padahal bukan). Jikalau sampai salah tempat, pasti akan mendapat hukuman, pasti akan diikat, disuruh kerja paksa yang berat serta tidak mendapatkan bayaran. Salah satu akherat yang sesat adalah akherat di pulau Srenggi, nusa artinya tempat manusia, sreng artinya kerja berat dan enggi artinya kondisi.

Jadi disana, roh manusia dipaksa bekerja untuk Raja Nusa Srenggi. Sungguh celaka. Sedangkan manusia yang hidup didunia saja jikalau mengalami kondisi semacam itu, mengalami kondisi sekeluarga hanya mendapatkan jatah beras sedikit, tanpa lauk, tanpa sayur, sudah demikian menyedihkannya, apalagi akherat tempat manusia yang meninggal di nusa Srenggi, malah lebih menyedihkan dari kodisi didunia. Paduka jangan mencari jalan pulang ke akherat yang ada diluar diri, jangan mengharap-harapkan naik surga, itu bukan tempat sejati, banyak hewan yang ada ditempat itu, semua hanya menerima tidur dengan berselimut tanah, setiap hari harus menurut untuk bekerja paksa, malah ada yang tidak salah lantas disembelih. Paduka jangan mencari jalan pulang ke akherat tempat Gusti Allah, (itu bohong, sebab Gusti Allah tidak bertempat), Gusti Allah itu tak ber-Wujud dan ber-Rupa, Wujud yang bisa dikenali manusia hanya Nama-Nya saja, (Gusti Allah itu) meliputi dunia dan akherat, paduka belum mengenal-Nya. Yang paduka kenali hanya perwujudan-Nya serupa cahaya bintang atau serupa cahaya bulan, atau perwujudan-Nya bagaikan dua cahaya bintang dan bulan yang menyatu. Gusti Allah itu tidak menyatu juga tidak pisah dengan kita, sangat jauh tanpa batasan tetapi juga dekat namun tak bersentuhan dengan kita. Hamba saja belum bisa menguak inti-Nya, apalagi paduka. Nabi Musa (yang diagung-agungkan orang Yahudi, Kristiani dan Islam sebagai Nabi yang mampu berbicara langsung dengan Allah : Damar Shashangga) saja tidak mampu melihat Wajah-Nya. Gusti Allah itu melampaui segala yang terlihat tetapi Dzat-Nya menyelimuti segala perwujudan ini. Paduka ini adalah manusia yang berasal dari benih Ruhani (percikan-Nya) jadi mengapa ingin menjadi seperti Malaikat yang tinggal disurga segala? Raga manusia berasal dari nutfah (air mani/sperma), jika sudah rusak akan terurai kembali kepada Hyang Latawalhuzza (kembali Sabda Palon menggunakan istilah Lattawalhuzza). Jika raga sudah tua, lebih baik meminta untuk mendapatkan raga baru (dan lahir menjadi manusia lagi, bukan malah ingin hidup di surga), sehingga tidak bolak-balik tertunda (perjalanan Punarbhawa/evolusi Ruh dalam wujud selain manusia) walaupun memang harus tetap lahir dan mati. Yang dimaksud hidup sebagai makhluk itu jika nafas terlihat masih ada, akan tetapi sesungguhnya yang disebut HIDUP itu adalah Yang Abadi, Yang Stabil dan Yang Tak Berubah selamanya. Jadi yang mati hanya raga semata. Raga hancur dan tidak lagi bisa merasakan kenikmatan. Oleh karenanya bagi yang beragama Buda, manakala kematian menjelang, saat suksma (dan Hidup/Atma) keluar dari raga, lebih baik meminta raga manusia yang baru, kembali lahir melalui nutfah manusia (tidak malah mengharapkan lahir dialam surga menjadi makhluk lain). Diri sejati manusia ini kekal, tidak berubah dan stabil, yang berubah itu hanya tempat indriya/rasa (maksudnya suksma dan raga), tubuh materi yang hanya bayangan dari Roh Idhafi (Atma/Hidup) itu sendiri.

Sesungguhnya yang dinamakan Prabhu Brawijaya itu tidak juga tua dan tidak juga muda, abadi berada dipusat semesta, berjalan tapi tiada bergerak dari kedudukan semula, berada didalam goa sir (kehendak) dan cipta (pikiran) yang hening (maksudnya diselimuti oleh sir/kehendak dan cipta/pikiran : Damar Shashangka). Bawalah bawaanmu yang sesungguhnya (Kesadaran), bawaan yang tanpa adanya Raga. Hilang segala tulisan. Seluruh perhitungan manakala dijumlah menjadi Kumpul (Menyatu), keterpisahan dengan duniawi menjadikan murni. Jalan kesempurnaan kematian, fokus pada detak jantung disebelah kiri saat kematian menjelang, disanalah jalan sirnanya sir dan cipta (kehendak dan pikiran), kembali menuju cetha (yang nyata ~ lambang KANG GAWE URIP/Atma), cethik (yang membuat ~ lambang KANG NGURIPI/PURUSHA/Nur Muhammad/Nukat Gaib), cethak (yang maha tinggi ~ lambang URIP/Brahman/Allah). Inilah kesempurnaan ilmu orang Buda.

Terciptanya Roh mulai dari cethak (yang tinggi), berhenti didalam cethik (yang membuat) keluar lewat kalamwadi (ucapan rahasia/penis ~ atau cetha/yang nyata), hanyut dalam lautan cinta masuk kedalam goa Indrakila wanita (Indra : Sarana merasakan sensasi ragawi, Kila/Kukila : Burung ~ Tempat merasakan sensasi penis ~ Goa Indrakila artinya Vagina : Damar Shashangka), jatuhnya nikmat didasar bumi kasih, disana Ki Budi (Kesadaran Roh) menciptakan istana Baitullah (Rumah Tuhan ~ yaitu suksma dan raga manusia) yang mulia. Tercipta dari sabda KUN (Jadi) dan berdiam ditengah semesta disurga orang tua wanita. Oleh karenanya manusia seyogyanya tetap berdiam ditengah semseta (maksudnya stabil Kesadarannya). Jagad manusia itu dilekati apa yang disebut goa sir (kehendak) dan cipta (pikiran), dibawa kemana-mana tiada juga berkurang dan usia manusia sudah ditentukan oleh karma, tidak bisa berubah, sudah tertulis didalam Laukhil Makfudz (Kitab Nasib. Kitab Nasib sesungguhnya adalah Alam Semesta yang merekam segala perbuatan kita : Damar Shashangka). Keberuntungan dan Kecelakaan tergantung pada Budi (Kesadaran), Nalar (Pertimbangan) dan Kawruh (Wawasan) kita sendiri. Yang kurang berusaha (menimbun kebaikan), bakalan kurang pula Keberuntungannya.

Awal mula arah mata angin, dihitung dari arah timur lantas barat, selatan dan utara. Wetan (Timur) lambang : Wiwitan manusa maujud (awal mula manusia mewujud), Kulon (Barat) lambang : Lelaki berhasrat untuk bercinta (Kelonan), Kidul (Selatan) lambang : Wanita disogok bagian selangkangannya tepat ditengah (Didudul), Lor (Utara) lambang : Jabang bayi lahir (Lair). Dilambangkan lagi TANGGAL SAPISAN KAPURNAMAN, SENTEG SAPISAN TENUNAN SAMPUN NIGASI (KELUAR SEKALI SUDAH PURNAMA, SEKALI HENTAK TENUNAN KAIN SUDAH MENJADI ~ Maksudnya mengambarkan penciptaan manusia dalam sebuah persenggamaan. Sekali memancarnya sperma kedalam rahim, sudah cukup membuat seluruh wadah bagi Roh mulai tercipta : Damar Shashangka) Pur artinya Kumpul/Menyatu, Na artinya Adanya wujud, Ma artinya Terikat oleh wujud. Yang dimaksud Kumpul artinya begitu memancar sperma semua lengkap menyatu, yaitu menyatunya segala materi fisik dan materi non fisik. Keluarnya/Lahirnya manusia melalui orang tua perempuan, bersamaan keluarnya saudara yang bernama Kakang Mbarep (Kakang Kawah) dan Adhine Wuragil (Adhi Ari-Ari). Kakang Mbarep tak lain adalah Kawah (Ketuban) sedangkan Adine Wuragil tak lain adalah Ari-Ari (Usus terakhir yang menempel dipusar/tali pusar). Keduanya muncul pertama dan terakhir kali (Ketuban pecah dulu, baru keluar Darah, kemudian Jabang Bayi, lantas Plasenta dan terakhir Tali Pusar atau Ari-Ari : Damar Shashangka). Ketahuilah sang paduka, saudara kita yang keluar bersamaan dengan kita, senantiasa menjaga kita bagaikan matahari yang terus bersinar, berwujud cahaya, membantu Kesadaran, mampu menyertai Kesadaran untuk hidup didunia yang penuh beraneka warna perwujudan ini, saat keluar dan saat peleburan mereka seyogyanya diketahui, inilah pengetahuan orang Jawa yang beragama Buda. Raga ini diibaratkan perahu, sedangkan suksma (badan halus/sadulur papat tadi) ibarat manusia yang mengendalikan perahu, yang menentukan arah hendak kemana, jikalau laju perahu salah arah, pasti akan menemui kecelakaan, perahu pecah, yang menaiki akhirnya juga hancur.

Oleh karenanya harus waspada dan penuh kesadaran, mumpung perahu masih berfungsi, manakala tidak waspada dan penuh kesadaran pada saat hidup ini, mana mungkin bisa waspada dan sadar jika sudah meninggal nanti. Sadar untuk mencari asal usul manusia. Manakala telah rusak/mati, seharusnya suksma juga berpisah dengan Kesadaran Roh. Inilah yang dinamakah Sahadat, pisahnya Kawula dengan Gusti. Sah bisa dimaknai Pisah, Dat bisa dimaknai Dzat Gusti. Jikalau Raga dan Suksma telah berpisah (namun Suksma dengan Bud/Kesadarani/Atma, belum mampu berpisah) maka Kesadaran Roh akan berganti Baitullah (Rumah Tuhan atau Badan fisik baru ~ Punarjanma/Reinkarnasi). Kembali hidup dengan bertalikan nafas dan wajib terus memuji kebesaran Gusti (agar selamat dalam penjelmaan baru itu). Manakala Raga berpisah dengan Suksma dan Suksma berpisah dengan Budi (Kesadaran Roh), maka akan menjelma kepada yang tidak berwujud apapun, menyatu, menjadi maha besar, dan tiada akan redup cahayanya untuk selamanya. Oleh karenanya harus senantiasa waspada, senantiasa ingat akan asal usul Kawula. Seorang Kawula juga wajib meminta kepada Gusti, meminta Baitullah (Rumah Tuhan/Badan manusia) yang baru dan yang lebih baik, melebihi yang sudah rusak. Raga manusia inilah Baitullah, atau juga bisa diibaratkan Perahu buatan Allah, menjadi dari sabda KUN. Namun, Perahu manusia Jawa mampu berganti dengan Perahu yang baru (Reinkarnasi). Sedangkan orang Islam tidak meyakini bisa mendapat Perahu baru, jikalau sudah meninggal nanti, maka mereka yakin tidak akan menjelma kealam dunia lagi, tak ada manusia yang menjelma kembali, menurut mereka jika manusia bisa menjelma, dunia akan terus bertambah dan akan penuh sesak. Kehidupan menurut mereka hanya sekedar menjadi muda, tua dan mati saja. Ketahuilah paduka, walaupun Roh manusia, manakala sesat perbuatannya, kelak jika meninggal akan menjelma menjadi kuwuk (binatang laut), akan tetapi Roh hewan, bisa menjelma menjadi manusia. Semua sudah tertata dalam hukum keadilan Yang Maha Kuasa, setiap makhluk akan mendapatkan hasil perbuatan dari apa yang dilakukannya.

Dikala Bathara Wishnu menjelma menjadi Raja di Kerajaan Medhang Kasapta dulu, seluruh hewan dan makhluk halus dibantu menjelma menjadi manusia, semua lantas dijadikan bala tentara Sang Raja. Kala Eyang paduka Rsi Palasara membangun kerajaan di Gajahoya, seluruh binatang dan makhluk halus juga dibantu menjelma mendaji manusia, oleh karenanya waktu itu bau badan tiap manusia berbeda-beda, sesuai bau badan saat masih berwujud hewan atau makhluk halus sebelumnya.
Damar Shashangka
0 komentar
 
Support : Editing Website | Bms_75
Copyright © 2014. Bms_75
Template Editing and Published by Bms_75
Proudly powered by Blogger