.
Featured Post Today
print this page
Latest Post
>>>>> SEMOGA SEMUA MAKHLUK HIDUP BERBAHAGIA <<<<<


CARA MENGGUNAKAN LINK2SD Untuk Memindah Aplikasi Android ke SDCard

Tutorial singkat berikut menjelaskan cara menggunakan dan men-setting Link2SD, Cara ini sudah pernah penulis coba dan hasilnya membantu memory internal smartphone yang kecil. Sebelumnya tentu Anda sudah mendownload Aplikasi Link2SD yang ada diplaystore melalui smartphone masing - masing.

Sebetulnya menggunakan Link2SD cukup mudah, tidak ada cara atau settingan khusus yang harus diterapkan, juga sama sekali tidak ada trik yang harus digunakan. Mungkin untuk meluruskan saja karena sebagian orang memindah aplikasi itu menggunakan menu "Move to SD card" padahal seharusnya "Create link". Keduanya sangatlah berbeda.
  
Perlu dicatat bahwa Link2SD tidak serta-merta memindah data aplikasi ke eksternal. Link2SD hanya membantu me-link kan data aplikasi tersebut (bukan memindahkan secara menyeluruh) dengan kata lain meski aplikasinya sudah di "Create link", memori internal tetap kebagian jatah space dari aplikasi itu sendiri, namun tidak banyak.

Faktor lain yang membuat memori internal tetap penuh, bisa saja karena di internal terdapat file-file seperti video, foto, lagu, dan lain sebagainya yang tidak disadari pemilik sehingga dengan melakukan cara apapun memori internalnya tetap saja penuh.

Berikut Langkah - langkah yang harus dilakukan :
·         Pertama tentu SD CARD Anda sudah di Partisi, kalo belum silahkan Anda partisi dengan
       cara ini... sehingga Link2SD siap digunakan
·         Untuk memindahkan aplikasi dari internal ke eksternal SDCard, pilih aplikasi apa saja yang sudah
       anda install sebelumnya dari daftar list di Link2SD
·         Selanjutnya, tekan dan tahan aplikasi tersebut hingga muncul dialog pop up lalu pilih Create Link
       Perhatikan gambar di bawah ini :

GAMBAR 1

GAMBAR 2



·         Pada gambar 1 yang saya lingkari merupakan aplikasi yang sudah saya install namun belum saya
      pindah ke SDCard
·         Untuk memindahnya, pilih Create Link seperti yang ada digambar 2

GAMBAR 3



·         Pada menu Create Link, centang semua checklist yang ada kemudian tekan OK
·         Tunggu sampai proses selesai dan hingga aplikasi berhasil di create link

GAMBAR 4


·         Setelah muncul kalimat "Application files linked and moved to SD card", saya ucapkan selamat
       anda berhasil memindah (create link) aplikasi ke SDCard :)
·         *Tambahan : Untuk memastikan apakah aplikasi benar-benar sudah ter-link, tekan dan tahan
       aplikasi itu sekali lagi kemudian pilih "Create link" lagi
·         Jika benar berhasil, maka dibawah masing-masing ketiga checklist akan ada warning already
       linked

GAMBAR 5


·         Satu lagi bagi anda yang sudah terlanjur menginstall aplikasi begitu banyaknya (misal 50 aplikasi)
      dan ingin memindahkannya (me-link) ke SDCard, daripada anda harus melakukannya satu per
      satu ada cara mudah supaya proses linking-nya bisa serentak 50 aplikasi sekaligus
·         Pada list aplikasi di Link2SD, tekan tombol opsi kemudian pilih multi-select lalu select all.
       Lihat gambar 6 dibawah :

GAMBAR 6


·         Seharusnya seluruh aplikasi yang sudah anda install akan menjadi tercentang seperti pada
       gambar diatas setelah anda melakukan hal tersebut
·         Selanjutnya tekan Actions (bawahnya select all) dan pilih Create Link. Lihat Gambar 7 :

GAMBAR 7


·         Kurang lebih tampilannya seperti yang ada pada gambar diatas
·         Disitu tertera berapa banyak aplikasi yang akan anda link
·         Centang seluruh checklist, pilih OK
·         Tunggu hingga proses linking selesai

Terakhir, yang harus anda perhatikan dan ini sangat penting, tutorial diatas merupakan cara memindah aplikasi (linking) ke SDCard secara manual.
Ada cara otomatis yang tidak begitu ribet untuk dilakukan. Pada saat anda menginstal aplikasi (entah melalui installer APK atau Playstore) secara otomatis Link2SD akan me-link aplikasi itu ke eksternal.
Caranya,
·         Tekan tombol opsi pada Link2SD kemudian Settings. Perhatikan Gambar 8 dibawah :

GAMBAR 8


·         Centang pilihan Auto Link seperti pada gambar
Demikian penjelasan mengenai Cara Menggunakan Link2SD Untuk Memindah Aplikasi Android ke SDCard. Bukan hal sulit untuk menerapkannya, asalkan anda berhati-hati dan teliti saya yakin anda akan berhasil.
0 komentar

CARA PARTISI SD CARD Dengan MiniTool Partition Wizard

Berikut tutor mengenai cara mempartisi SD Card dari sebuah blog yang saya edit sesuai kebutuhan saya dan tentu dapat secara umum digunakan oleh sobat semua,cara partisi ini umumnya sama seperti partisi Hardisk dan bisa digunakan untuk device yang lain. Pada tutorial ini, kita akan membuat 2 buah partisi, 1 untuk penyimpanan SD card (FAT / FAT32) dan satunya lagi untuk penyimpanan aplikasi yang nantinya akan menambah space memori internal smartphone (Ext2).

Link2SD adalah salah satu aplikasi yang "wajib punya" untuk gadget Android terutama untuk gadget atau smartphone dengan kapasitas memory internal yang kecil.
Penting dan Wajib dilakukan adalah Backup (copy) dulu semua isi SD Card Anda ke hardisk komputer Anda.
Berikut langkah - langkah partisi SD card:

1. Download MiniTool Partition Wizard – HOME > Download disini...
2. Install software tersebut.
3. Cabut/lepaskan SD Card dari smartphone anda, lalu masukkan SD card ke Memory Card Reader,
    setelah itu tancapkan Memory Card Reader ke PC/Laptop.
4. Buka software MiniTool Partition Wizard Home Edition.
5. Cari nama SD Card Anda, biasanya di Disk 2. Misal kapasitasnya 7.42GB (8GB). Kalo SD card
   punya Anda kapasitasnya 2GB, cari aja yang disitu tertera 1.8GB atau berapa yang jelas dibawah 
   2GB.



6.  Kalo sudah ketemu, klik kanan nama drive SD card Anda >> Delete.



7. Klik kanan lagi >> Create



8. Setting sesuai pada gambar berikut, lalu klik OK.



Untuk nomor 3, Silahkan ubah sesuaikan sendiri. Pada gambar tersebut Unallocated Space After: 835.79 MB artinya nantinya memori internal smartphone akan bertambah menjadi 835.79 MB + Bawaan Smartphone.
Khusus yang mempartisi SD card dengan kapasitas 2GB :
Nomor 1: Primary
Nomor 2: FAT
Nomor 3: Silahkan Unallocated Space After nya dibuat kisaran 300MB s/d 500MB
Nomor 4: Silahkan namai sesuai keinginan Anda.

9. Partisi pertama sudah jadi. Sekarang klik kanan drive yang tanda *: dibawah drive Partisi pertama 
    yang Anda buat tadi >> pilih dan klik Create
  


Muncul gambar berikut:



Pilih Yes.

10. Atur / setting sesuai gambar berikut, lalu klik tombol OK.



11. Klik tombol Apply.

Muncul gambar seperti ini,


 Pilih Yes.

12. Tunggu prosesnya sampai selesai, seperti pada gambar di bawah ini.



Klik OK, dan SD card Anda sekarang sudah memiliki 2 buah Partisi! Terakhir close program MiniTool Partition Wizard Home Edition lalu copy kembali semua isi SD card yang tadi telah di backup.
Finish...
Catatan: Melakukan partisi SD card ini diperuntukkan khusus jika ingin menginstall/menggunakan
             custom ROM.
0 komentar

AGNOSTISISME

Agnostisisme adalah suatu pandangan filsafat bahwa suatu nilai kebenaran dari suatu klaim tertentu yang umumnya berkaitan dengan teologi, metafisika, keberadaan Tuhan, dewa, dan lainnya yang tidak dapat diketahui dengan akal pikiran manusia yang terbatas. Seorang agnostik mengatakan bahwa adalah tidak mungkin untuk dapat mengetahui secara definitif pengetahuan tentang "Yang-Mutlak"; atau, dapat dikatakan juga bahwa walaupun perasaan secara subyektif dimungkinkan, namun secara obyektif pada dasarnya mereka tidak memiliki informasi yang dapat diverifikasi secara rasional.
Agnostisisme adalah pandangan bahwa manusia saat ini tidak memiliki pengetahuan yang diperlukan dan/atau alasan untuk memberikan landasan secara rasional yang cukup untuk membenarkan keyakinan bahwa dewa/tuhan baik melakukan atau tidak ada. Dalam kedua hal ini maka agnostikisme mengandung unsur skeptisisme (paham yang memandang sesuatu selalu tidak pasti, meragukan).

Etimologi
Agnostisisme berasal dari bahasa Yunani gnostein ("tahu; mengetahui") dan a ("tidak"). Arti harfiahnya "seseorang yang tidak mengetahui".
Agnostisisme bukan sinonim dari ateisme.

Definisi Agnostitisme
Agnostik adalah seseorang yang tidak percaya atau mendustakan keberadaan Tuhan/dewa, sedangkan teis dan ateis masing-masing adalah orang percaya dan tidak percaya akan Tuhan, tetapi bahwa dalam agnostisisme arti sempit adalah pandangan bahwa akal manusia tidak mampu secara rasional membenarkan keyakinan tentang apa yang dilakukan Tuhan atau juga apakah Tuhan itu ada atau tidak.

Perkembangan istilah
Agnostik (Yunani Kuno ἀ-(a-), "tanpa", dan γνῶσις (gnosis), "pengetahuan"), dalam bahasa Yunani "gnosis" (pengetahuan) untuk menggambarkan "pengetahuan spiritual". Agnostisisme tidak sama dengan pandangan keagamaan yang menentang gerakan keagamaan kuno "Gnostisisme" pada khususnya.

Jenis agnostisisme
Agnostisisme dapat dibagi menjadi beberapa kategori, beberapa di antaranya :

Agnostik ateisme
Pandangan mereka yang tidak percaya pada keberadaan dewa/Tuhan apapun, tetapi tidak mengklaim tahu apakah dewa itu ada atau tidak ada.

Agnostik teisme
Pandangan mereka yang tidak mengaku tahu konsep keberadaan dewa/Tuhan apapun, tapi masih percaya pada keberadaan tersebut.

Apatis atau agnostisisme pragmatis
Pandangan bahwa tidak ada bukti baik ada atau tidaknya dewa/Tuhan apapun, tapi karena setiap dewa yang mungkin saja ada itu dapat bersikap tidak peduli kepada alam semesta atau kesejahteraan penghuninya, pertanyaan ini lebih bersifat akademik.

Agnostisisme kuat ("keras", "tertutup", "ketat", atau "agnostisisme permanen")
Pandangan bahwa pertanyaan tentang ada atau tidak adanya dewa/Tuhan, dan sifat realitas tidak dapat diketahui dengan alasan ketidakmampuan alamiah kita untuk memverifikasikan pengalaman dengan apapun selain pengalaman subyektif. Seorang penganut agnostik kuat akan mengatakan, "Saya tidak bisa tahu apakah dewa itu ada atau tidak, begitu juga kamu."

Agnostisisme lemah ("lunak", "terbuka", "empiris", atau "agnostisisme duniawi")
Pandangan bahwa ada atau tidaknya dewa/Tuhan saat ini tidak diketahui, tetapi belum tentu untuk kemudian hari, sehingga orang akan menahan penilaian sampai muncul bukti yang menurutnya bisa menjadi alasan untuk percaya. Seorang penganut agnostik lemah akan berkata, "Saya tidak tahu apakah ada dewa ada atau tidak, tapi mungkin suatu hari, jika ada bukti, kita dapat menemukan sesuatu."
Sumber artikel ini adalah Wikipedia yang di edit dengan bahasa yang lebih sederhana oleh penulis tanpa mengubah pokok bahasan dan maknanya.
0 komentar

ATEISME

Dalam artikel ini, Tuhan (dengan T besar) merujuk pada Tuhan monoteisme, manakala tuhan (dengan t kecil) merujuk pada Tuhan/Dewa semua kepercayaan secara umum.

Penulis Perancis abad ke-18, Baron d'Holbach adalah salah orang pertama yang menyebut dirinya ateis. Dalam buku Système de la Nature (1770), ia melukiskan jagad raya dalam pengertian materialisme filsafat,  dan ateisme. Buku ini dan bukunya Common Sense (1772) dikutuk oleh Parlemen Paris, dan salinan-salinannya dibakar di depan umum.

Ateisme adalah sebuah pandangan filosofi yang tidak memercayai keberadaan Tuhan dan dewa-dewi ataupun penolakan terhadap teisme. Dalam pengertian yang paling luas, ia adalah ketiadaan kepercayaan pada keberadaan dewa atau Tuhan.

Istilah ateisme berasal dari Bahasa Yunani ἄθεος (átheos), yang secara peyoratif (unsur bahasa yang bermakna menghina, merendahkan, dan sebagainya, yang digunakan untuk menyatakan penghinaan atau ketidaksukaan seorang pembicara. Kadangkala, sebuah kata lahir sebagai sebuah kata peyoratif, namun lama kelamaan digunakan sebagai kata yang tidak bersifat peyoratif) digunakan untuk merujuk pada siapapun yang kepercayaannya bertentangan dengan agama/kepercayaan yang sudah mapan di lingkungannya. Dengan menyebarnya pemikiran bebas, skeptisisme ilmiah, dan kritik terhadap agama, istilah ateis mulai dispesifikasi untuk merujuk kepada mereka yang tidak percaya kepada tuhan. Orang yang pertama kali mengaku sebagai "ateis" muncul pada abad ke-18. Pada zaman sekarang, populasi dunia mengaku sebagai ateis semakin banyak dan tersebar diseluruh dunia (Ateis, nonteis, agnostik)

Banyak ateis bersikap skeptis kepada keberadaan fenomena paranormal karena kurangnya bukti empiris. Yang lain memberikan argumen dengan dasar filosofis, sosial, atau sejarah.

Pada kebudayaan Barat, ateis seringkali diasumsikan sebagai tak beragama (ireligius). Beberapa aliran Agama Buddha tidak pernah menyebutkan istilah 'Tuhan' dalam berbagai upacara ritual, namun dalam Agama Buddha konsep ketuhanan yang dimaksud mempergunakan istilah Nibbana. Karenanya agama ini sering disebut agama ateistik. Walaupun banyak dari yang mendefinisikan dirinya sebagai ateis cenderung kepada filosofi seperti humanisme (istilah umum untuk berbagai jalan pikiran yang berbeda yang memfokuskan dirinya ke jalan keluar umum dalam masalah - masalah atau isu - isu yang berhubungan dengan manusia. Humanisme telah menjadi sejenis doktrin beretika yang cakupannya diperluas hingga mencapai seluruh etnisitas manusia, berlawanan dengan sistem - sistem beretika tradisional yang hanya berlaku bagi kelompok - kelompok etnis tertentu), rasionalisme, dan naturalisme, tidak ada ideologi atau perilaku spesifik yang dijunjung oleh semua ateis.

Kata Yunani αθεοι (atheoi), seperti yang tampak pada Surat Paulus kepada Jemaat di Efesus di papirus abad ke-3. Pada zaman Yunani Kuno, kata sifat atheos (ἄθεος, berasal dari awalan á¼€- + θεός "tuhan") berarti "tak bertuhan". Kata ini mulai merujuk pada penolakan tuhan yang disengajakan dan aktif pada abad ke-5 SM, dengan definisi "memutuskan hubungan dengan tuhan/dewa" atau "menolak tuhan/dewa". Terjemahan modern pada teks-teks klasik kadang-kadang menerjemahkan atheos sebagai "ateistik". Sebagai nomina abstrak, terdapat pula ἀθεότης (atheotÄ“s), yang berarti "ateisme". Cicero mentransliterasi kata Yunani tersebut ke dalam bahasa Latin atheos.

Ateisme pertama kali digunakan untuk merujuk pada "kepercayaan tersendiri", utamanya merujuk pada ketidakpercayaan pada Tuhan monoteis. Pada perkembangannya definisi istilah ini untuk merujuk pada "ketidakpercayaan pada semua tuhan/dewa", walaupun secara umum untuk merujuk ateisme sebagai "ketidakpercayaan pada Tuhan (monoteis)". Akhir-akhir ini, terdapat suatu desakan di dalam kelompok filosofi tertentu untuk mendefinisikan ulang ateisme sebagai "ketiadaan kepercayaan pada dewa/dewi", daripada ateisme sebagai kepercayaan itu sendiri. Definisi ini sangat populer di antara komunitas ateis, walaupun penggunaannya masih sangat terbatas.

Definisi dan pembedaan
Suatu gambaran yang menunjukkan hubungan antara definisi ateisme kuat/lemah dengan ateisme implisit/eksplisit. Ateis implisit tidak memiliki pemikiran akan kepercayaan pada tuhan; individu seperti itu dikatakan secara implisit tanpa kepercayaan pada tuhan. Ateis eksplisit mengambil posisi terhadap kepercayaan pada tuhan; individu tersebut dapat menghindari untuk percaya pada tuhan (ateisme lemah), ataupun mengambil posisi bahwa tuhan tidak ada (ateisme kuat).

Para penulis berbeda-beda dalam mendefinisikan dan mengklasifikasi ateisme, yakni apakah ateisme merupakan suatu kepercayaan tersendiri ataukah hanyalah ketiadaan kepercayaan, dan apakah ateisme memerlukan penolakan yang secara sadar dan eksplisit dilakukan. Berbagai kategori telah diajukan untuk mencoba membedakan jenis-jenis bentuk ateisme.

Ruang lingkup
Beberapa ambiguitas (mempunyai banyak makna) dan kontroversi yang terlibat dalam pendefinisian ateisme terletak pada sulitnya mencapai konsensus dalam mendefinisikan kata-kata seperti dewa dan tuhan. Pluralitas dalam konsep ketuhanan dan dewa menyebabkan perbedaan pemikiran akan penerapan kata ateisme. Dalam konteks teisme didefinisikan sebagai kepercayaan pada Tuhan monoteis, orang-orang yang percaya pada dewa-dewi lainnya akan diklasifikasikan sebagai ateis. Sebaliknya pula, orang-orang Romawi kuno juga menuduh umat Kristen sebagai ateis karena tidak menyembah dewa-dewi paganisme. Pada abad ke-20, pandangan ini mulai ditinggalkan seiring dengan dianggapnya teisme meliputi keseluruhan kepercayaan pada dewa/tuhan.

Bergantung pada apa yang para ateis tolak, penolakan ateisme dapat berkisar dari penolakan akan keberadaan tuhan/dewa sampai dengan keberadaan konsep-konsep spiritual dan paranormal seperti yang ada pada agama Hindu dan Buddha.

Implisit dan eksplisit
Definisi ateisme juga bervariasi sejauh mana seseorang harus mengambil posisi mengenai gagasan keberadaan tuhan untuk dianggap sebagai ateis. Ateisme kadang-kadang didefinisikan secara luas untuk meliputi ketiadaan kepercayaan akan keberadaan tuhan/dewa. Definisi yang luas ini akan memasukkan orang-orang yang tidak memiliki konsep teisme sebagai ateis.

Pada tahun 1772, Baron d'Holbach mengatakan bahwa "Semua anak-anak dilahirkan sebagai ateis, karena mereka tidak tahu akan Tuhan." George H. Smith (1979) juga menyugestikan bahwa: "Orang yang tidak kenal dengan teisme adalah ateis karena ia tidak percaya pada tuhan. Kategori ini juga akan memasukkan anak dengan kapasitas konseptual (sebagai ateis). Fakta bahwa anak ini tidak percaya pada tuhan membuatnya pantas disebut ateis." Smith menciptakan istilah ateisme implisit untuk merujuk pada "ketiadaan kepercayaan teistik tanpa penolakan yang secara sadar dilakukan" dan ateisme eksplisit untuk merujuk pada definisi ketidakpercayaan yang dilakukan secara sadar.

Dalam kebudayaan Barat, pandangan bahwa anak-anak dilahirkan sebagai ateis merupakan pemikiran yang baru. Sebelum abad ke-18, keberadaan Tuhan diterima secara sangat luas demikian juga keberadaan ateisme yang benar-benar tidak percaya akan Tuhan itu dipertanyakan keberadaannya. Hal ini disebut theistic innatism (pembawaan lahir teistik), yakni semua orang percaya pada Tuhan dari lahir. Pandangan ini memiliki konotasi bahwa para ateis hanyalah menyangkal diri sendiri. Terdapat pula sebuah posisi yang mengklaim bahwa ateis akan dengan cepat percaya pada Tuhan pada saat krisis, bahwa ateis percaya pada tuhan pada saat meninggal dunia. Beberapa pendukung pandangan ini mengklaim bahwa keuntungan beragama membuat manusia dapat mengatasi keadaan susah lebih baik.

Kuat dan lemah
Beberapa filsuf seperti Antony Flew, Michael Martin, dan William L. Rowe membedakan antara ateisme kuat (positif) dengan ateisme lemah (negatif). Ateisme kuat adalah penegasan bahwa tuhan tidak ada, sedangkan ateisme lemah meliputi seluruh bentuk ajaran nonteisme lainnya. Menurut kategorisasi ini, siapapun yang bukan teis dapatlah ateis yang lemah ataupun kuat. Istilah lemah dan kuat ini merupakan istilah baru; namun istilah yang setara seperti ateisme negatif dan positif telah digunakan dalam berbagai literatur-literatur filosofi yang menggunakan batasan ateisme ini, dan kebanyakan agnostik adalah ateis lemah.

Agnostisisme memiliki bawaan ateisme lemah, kebanyakan agnostik memandang pandangan mereka berbeda dari ateisme, yang mereka liat ateisme sama saja tidak benarnya dengan teisme. Ketidaktercapaian pengetahuan yang diperlukan untuk membuktikan atau membantah keberadaan tuhan/dewa kadang-kadang dilihat sebagai indikasi bahwa ateisme memerlukan sebuah lompatan kepercayaan. Respon ateis terhadap argumen ini adalah bahwa dalil-dalil keagamaan yang tak terbukti seharusnya pantas mendapatkan ketidakpercayaan yang sama sebagaimana ketidakpercayaan pada dalil-dalil tak terbukti lainnya, dan bahwa ketidakterbuktian keberadaan tuhan tidak mengimplikasikan bahwa probabilitas/kemungkinan keberadaan tuhan sama dengan probabilitas ketiadaan tuhan.

Ateisme praktis
Dalam ateisme praktis atau pragmatis, yang juga dikenal sebagai apateisme, individu hidup tanpa tuhan dan menjelaskan fenomena alam tanpa menggunakan alasan paranormal. Menurut pandangan ini, keberadaan tuhan tidaklah disangkal, namun dapat dianggap sebagai tidak penting dan tidak berguna; tuhan tidaklah memberikan kita tujuan hidup, ataupun memengaruhi kehidupan sehari-hari. Salah satu bentuk ateisme praktis dengan implikasinya yaitu pengambilan asumsi tanpa secara penuh menerima atau memercayainya. 
Ketiadaan motivasi religius, yakni kepercayaan pada tuhan tidak memotivasi tindakan moral, religi, ataupun bentuk-bentuk tindakan lainnya; pengesampingan masalah tuhan dan religi (agama secara umum) secara aktif dari penelusuran intelek dan tindakan praktis; pengabaian, yakni ketiadaan ketertarikan apapun pada permasalahan tuhan dan agama.

Ateisme, agama, dan moralitas
Karena ketiadaan Tuhan pencipta, Agama Buddha umumnya dideskripsikan sebagai nonteis.
Walaupun orang yang mengaku sebagai ateis biasanya diasumsikan tak beragama, beberapa sekte agama tertentu pula ada yang menolak keberadaan dewa pencipta yang personal. Pada akhir-akhir ini, aliran-aliran keagamaan tertentu juga telah menarik banyak penganut yang secara terbuka ateis, seperti misalnya Yahudi ateis atau Yahudi humanis dan Kristen ateis.

Dikarenakan artian paling kaku ateisme positif tidak memerlukan kepercayaan spesifik apapun di luar ketidakpercayaan pada dewa/tuhan, ateis dapat memiliki kepercayaan spiritual apapun. Untuk alasan yang sama pula, para ateis dapat berpegang pada berbagai kepercayaan etis, mulai dari universalisme moral humanisme, yang berpandangan bahwa nilai-nilai moral haruslah diterapkan secara konsisten kepada seluruh manusia, sampai dengan nihilisme moral, yang berpendapat bahwa moralitas adalah hal yang tak berarti.

Walaupun ia merupakan kebenaran filosofis, yang secara ringkas dipaparkan dalam karya Plato dilema Euthyphro bahwa peran tuhan dalam menentukan yang benar dari yang salah adalah tidak diperlukan, maupun adalah sewenang-wenang, argumen bahwa moralitas haruslah diturunkan dari Tuhan dan tidak dapat ada tanpa pencipta yang bijak telah menjadi isu-isu yang terus menerus muncul dalam debat politik. Persepsi moral seperti "membunuh adalah salah" dilihat sebagai hukum Tuhan, yang memerlukan pembuat hukum dan hakim. Namun, banyak ateis yang berargumen bahwa memperlakukan moralitas secara legalistik adalah analogi salah, dan bahwa moralitas tidak seperlunya memerlukan seorang pencipta hukum sama halnya hukum itu sendiri.

Filsuf Susan Neiman dan Julian Baggini menegaskan bahwa perilaku etis yang dilakukan hanya karena mandat Yang Di atas bukanlah perlaku etis yang sebenarnya, melainkan hanyalah kepatuhan buta. Baggini berargumen bahwa ateisme merupakan dasar etika yang lebih superior, dan mengklaim bahwa dasar moral di luar perintah agama adalah diperlukan untuk mengevaluasi moralitas perintah itu sendiri. Sebagai contoh, perintah "anda haruslah mencuri" adalah amoral bahkan jika suatu agama memerintahkannya, sehingga ateis memiliki keuntungan untuk dapat lebih melakukan evaluasi tersebut daripada umat beragama yang mematuhi perintah agamanya sendiri.

Sumber : Wikipedia yang diedit oleh Bms_75 dengan bahasa yang lebih sederhana agar mudah dipahami tanpa mengubah pokok bahasan inti.
Semoga wawasan kita lebih luas.
0 komentar

SERAT SABDO PALON

Nusantara kita merupakan tempat yang unik, tempat yang penuh misteri, legenda dan cerita -cerita dari peradaban lama, cerita -cerita yang terus menerus memberikan nafas bagi kehidupan masyarakat kita, menjadi sebuah tuntunan dalam kehidupan. 

Kearifan Lokal dan penghormatan terhadap alam merupakan hal yang selalu dijadikan petuah hidup, namun perkembangan zaman senantiasa mengikis hal - hal seperti ini dan membuat kita lupa betapa pentingnya kearifan lokal ini, berikut merupakan sebuah salah satu cerita sejarah mengenai nusantara yang selalu diliputi oleh legenda dan cerita. 

SABDO PALON dan MBAH PETRUK

Ketika pertama Islam masuk ke Tanah Jawa. Tidaklah semulus yang orang sangka. Sebab Tanah Jawa sudah ada manusia. Juga ada bangsa jin yang menganut kepercayaan kuno. Ada yang menduga mereka adalah penganut Hindu dan Budha. Yakni agama yang pada saat itu berkembang. Namun banyak yang menduga mereka adalah penganut kepercayaan Jawa kuno. Mereka ini dipimpin Sabdo Palon. 

Karena paham mereka yang berbeda. Maka ketika Islam masuk disambut dengan peperangan. Bukan perang sembarang perang. Namun perang magic. Perang ilmu-ilmu gaib. Sehingga tidak sedikit ulama Islam yang dikirim dari Mesir tewas dalam peperangan magic itu. Dalam wadah kasar mereka tewas karena tersapu gelombang pasang, semacam tsunami dan sebagainya. Perang itu berlanjut dengan banyaknya jatuh korban di kedua pihak.

Maka diutuslah Syekh Subakir, ulama asal Persia (Iran) yang dikenal ahli ilmu ghoib dan bisa melihat bangsa jin. Dengan kedatangan Syekh Subakir benteng pertahanan Sabdo Palon yang super ketat dapat ditembus. Dan banyak bangsa jin atau manusia pengikut Sabdo Palon yang binasa. Melihat keadaan yang tidak menguntungkan itu, Sabdo Palon mengadakan gencatan senjata. Dia mengajak Syekh Subakir berunding dan menghentikan perang. Syekh Subakir menerima ajakan tersebut dengan tangan terbuka. Karena dia juga melihat jalan perundingan jauh lebih baik daripada melanjutkan pertempuran yang tidak ada gunanya.

Kemudian terjadilah kesepakatan antara Syekh Subakir dengan Sabdo Palon. Isi kesepakatan itu antara lain, Islam boleh berkembang atau disebarkan di Tanah Jawa tetapi tidak boleh dilakukan dengan pemaksaan. Islam harus menghormati dan menghargai budaya, adat istiadat setempat. Islam tidak boleh memaksa orang yang berbeda keyakinan untuk memeluk agama baru tersebut. Dan kalau orang Islam yang memimpin atau jadi pemimpin harus mengayomi semua orang, semua agama, dan semua kepercayaan. Menjunjung tinggi kearifan lokal. Dan sejak itu Sabdo Palon bersama pengikutnya, termasuk Mbah Petruk moksa. Mereka hilang dari pandangan umum dan tidak mudah dilihat oleh manusia biasa. Hanya mereka yang memiliki kelebihan dan paham ilmu ghoib yang dapat melihatnya.

Sebelum menghilang Sabdo Palon sempat berpesan kepada Syekh Subakir. Bahwa suatu ketika dia (Sabdo Palon) atau pengikutnya (Mbah Petruk) akan kembali menunjukan jati dirinya, kalau pemimpin negeri ini tidak amanah. Tidak mencintai rakyat. Hanya berbuat untuk kesenangan dirinya dan kelompoknya saja. Sementara membiarkan rakyat dalam kesengsaraan dan penderitaan. Kemunculan Sabdo Palon dan para pengikutnya, Mbah Petruk untuk menagih janji. Sekaligus mengingatkan agar para pemimpin negeri segera sadar, ingat rakyat, dan ingat bangsa. Kalau tidak. Selain akan banyak lagi bencana yang akan melanda negeri ini. Mereka, para pemimpin pada gilirannnya juga akan menerima bencana. Bahkan bencana yang akan menimpa mereka lebih dasyat, lebih mengerikan, dan menakutkan. Silakah Anda boleh percaya kepada cerita babad Tanah Jawa ini atau tidak. Terserah saja. 
Inilah Serat Sabdo Palon Penguasa Ghaib Tanah Jawa

1. Pada sira ngelingana Carita ing nguni-nguni Kang kocap ing serat Babad Babad nagari Mojopahit Nalika duking nguni Sang-a Brawijaya Prabu Pan samya pepanggihan Kaliyan Njeng Sunan Kali Sabda Palon Naya Genggong rencangira.

Ingatlah kalian semua, Akan cerita masa lalu, Yang tercantum didalam Babad ( Sejarah ) Babad Negara Majapahit, Ketika itu, Sang Prabhu Brawijaya, Tengah bertemu, Dengan Kangjeng Sunan Kalijaga, Ditemani oleh Sabdo Palon dan Naya Genggong.

2. Sang-a Prabu Brawijaya Sabdanira arum manis Nuntun dhateng punakawan Sabda Palon paran karsi Jenengsun sapuniki Wus ngrasuk agama Rasul Heh ta kakang manira Meluwa agama suci Luwih becik iki agama kang mulya.

Sang Prabhu Brawijaya, Bersabda dengan lemah lembut, Mengharapkan kepada kedua punakawan ( pengiring dekat)-nya, Tapi Sabdo Palon tetap menolak, Diriku ini sekarang, Sudah memeluk Agama Rasul (Islam), Wahai kalian kakang berdua, Ikutlah memeluk agama suci, Lebih baik karena ini agama yang mulia.

3. Sabda palon matur sugal Yen kawula boten arsi Ngrasuka agama Islam Wit kula puniki yekti Ratuning Dang Hyang Jawi Momong marang anak putu Sagung kang para Nata Kang jumeneng ing tanah Jawi Wus pinasthi sayekti kula pisahan.

Sabdo Palon menghaturkan kata-kata agak keras, Hamba tidak mau, Memeluk agama Islam, Sebab hamba ini sesungguhnya, Raja Dahnyang (Penguasa Gaib) tanah Jawa, Memelihara kelestarian anak cucu (penghuni tanah Jawa), (Serta) semua Para Raja, Yang memerintah di tanah Jawa, Sudah menjadi suratan karma (wahai Sang Prabhu), kita harus berpisah.

4. Klawan Paduka sang Nata Wangsul maring sunya ruri Mung kula matur petungna Ing benjang sakpungkur mami Yen wus prapta kang wanci Jangkep gangsal atus taun Wit ing dinten punika Kula gantos agami Gama Budhi kula sebar ing tanah Jawa.

Dengan Paduka Wahai Sang Raja, Kembali ke Sunyaruri (Alam kosong tapi ber-'isi'; Alam yang tidak ada tapi ada), Hanya saja saya menghaturkan sebuah pesan agar Paduka menghitung, Kelak sepeninggal hamba, Apabila sudah datang waktunya, Genap lima ratus tahun, Mulai hari ini, Akan saya ganti agama (di Jawa), Agama Buddhi akan saya sebarkan ditanah Jawa.

5. Sinten tan purun nganggeya Yekti kula rusak sami Sun sajakken putu kula Berkasakan rupi-rupi Dereng lega kang ati Yen durung lebur atempur Kula damel pratandha Pratandha tembayan mami Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar.

Siapa saja yang tidak mau memakai, Akan saya hancurkan, Akan saya berikan kepada cucu saya sebagai tumbal, Makhluk halus berwarna-warni, Belum puas hati hamba, Apabila belum hancur lebur, Saya akan membuat pertanda, Pertanda sebagai janji serius saya, Gunung Merapi apabila sudah meletus mengeluarkan lahar.

6. Ngidul ngilen purugira Nggada banger ingkang warih Nggih punika wedal kula Wus nyebar agama budi Merapi janji mamai Anggereng jagad satuhu Karsanireng Jawata Sadaya gilir gumanti Boten kenging kalamunta kaowahan.

Kearah selatan barat mengalirnya, Berbau busuk air laharnya, Itulah waktunya, Sudah mulai menyebarkan agama Budhi, Merapi janji saya, Menggelegar seluruh jagad, Kehendak Tuhan, (Karena) segalanya (pasti akan) berganti, Tidak mungkin untuk dirubah lagi.

Note: Agama Budhi bukan berarti semata agama Buddha, tetapi adalah AGAMA KESADARAN / ELING / HAKIKAT yang bisa meredam kemurkaan alam..

7. Sanget-sangeting sangsara Kang tuwuh ing tanah Jawi Sinengkalan tahunira Lawon Sapta Ngesthi Aji Upami nyabarang kali Prapteng tengah-tengahipun Kaline banjir bandhang Jeronne ngelebna jalmi Kathah sirna manungsa prapteng pralaya.

Sangat sangat sengsara, Yang hidup ditanah Jawa, Perlambang tahun kedatangannya, LAWON SAPTA NGESTI AJI ( LAWON ; 8, SAPTA ; 7, NGESTHI ; 9, AJI ; 1 = 1978), Seandainya menyeberangi sebuah sungai, Ketika masih berada ditengah-tengah, Banjir bandhang akan datang tiba-tiba, Tingginya air mampu menenggelamkan manusia, Banyak manusia sirna karena mati.

8. Bebaya ingkang tumeka Warata sa Tanah Jawi Ginawe kang paring gesang Tan kenging dipun singgahi Wit ing donya puniki Wonten ing sakwasanipun Sedaya pra Jawata Kinarya amertandhani Jagad iki yekti ana kang akarya.

Bahaya yang datang, Merata diseluruh tanah Jawa, Diciptakan oleh Yang Memberikan Hidup, Tidak bisa untuk ditolak, Sebab didunia ini, Dibawah kekuasaan, Tuhan dan Para Dewa, Sebagai bukti, Jagad ini ada yang menciptakan.

9. Warna-warna kang bebaya Angrusaken Tanah Jawi Sagung tiyang nambut karya Pamedal boten nyekapi Priyayi keh beranti Sudagar tuna sadarum Wong glidhik ora mingsra Wong tani ora nyukupi Pametune akeh sirna aneng wana.

Bermacam-macam mara bahaya, Merusak tanah Jawa, Semua yang bekerja, Hasilnya tidak mencukupi, Pejabat banyak yang lupa daratan, Pedagang mengalami kerugian, Yang berkelakuan jahat semakin banyak, Yang bertani tidak mengahasilkan apa-apa, Hasilnya banyak terbuang percuma dihutan.

10. Bumi ilang berkatira Ama kathah kang ndhatengi Kayu katahah ingkang ilang Cinolong dening sujanmi Pan risaknya nglangkungi Karana rebut rinebut Risak tataning janma Yen dalu grimis keh maling Yen rina-wa kathah tetiyang ambengal.

Bumi hilang berkahnya, Banyak hama mendatangi, Pepohonan banyak yang hilang, Dicuri manusia, Kerusakannya sangat parah, Sebab saling berebut, Rusak tatanan moral, Apabila malam hujan banyak pencuri, pabila siang banyak perampok.

11. Heru hara sakeh janma Rebutan ngupaya anggering praja Tan tahan perihing ati Katungka praptaneki Pageblug ingkang linangkung Lelara ngambra-ambara Warading saktanah Jawi Enjing sakit sorenya sampun pralaya.

Huru hara seluruh manusia, Berebut kekuasan kerajaan, Tidak tahan perdihnya hati, Disusul datangnya, Wabah yang sangat mengerikan, Penyakit berjangkit kemana-mana, Merata seluruh tanah Jawa, Pagi sakit sorenya mati.

12. Kesandhung wohing pralaya Kaselak banjir ngemasi Udan barat salah mangsa Angin gung nggegirisi Kayu gung brasta sami Tinempuhing angin agung Kathah rebah amblasah Lepen-lepen samya banjir Lamun tinon pan kados samodra bena.

Belum selesai wabah kematian, Ditambah banjir bandhang semakin menggenapi, Hujan besar salah waktu, Angin besar mengerikan, Pohon-pohon besar bertumbangan, Disapu angin yang besar, Banyak yang roboh berserakan, Sungai-sungai banyak yang banjir, Apabila dilihat bagaikan lautan.

13. Alun minggah ing daratan Karya rusak tepis wiring Kang dumunung kering kanan Kajeng akeh ingkang keli Kang tumuwuh apinggir Samya kentir trusing laut Sela geng sami brasta Kabalebeg katut keli Gumalundhung gumludhug suwaranira.

Ombak naik kedaratan, Membuat rusak pesisir pantai, Yang berada dikiri kanannya, Pohon banyak yang hanyut, Yang tumbuh dipesisir, Hanyut ketengah lautan, Bebatuan besar hancur berantakan, Tersapu ikut hanyut, Bergemuruh nyaring suaranya.

14. Hardi agung-agung samya Huru-hara nggegirisi Gumleger swaranira Lahar wutah kanan kering Ambleber angelebi Nrajang wana lan desagung Manungsanya keh brasta Kebo sapi samya gusis Sirna gempang tan wonten mangga puliha.

Gunung berapi semua, Huru hara mengerikan, Menggelegar suaranya, Lahar tumpah kekanan dan kekirinya, Menenggelamkan, Menerejang hutan dan perkotaan, Manusia banyak yang tewas, Kerbau dan Sapi habis, Sirna hilang tak bisa dipulihkan lagi.

15. Lindhu ping pitu sedina Karya sisahing sujanmi Sitinipun samya nela Brekasakan kang ngelesi Anyeret sagung janmi Manungsa pating galuruh Kathah kang nandhang roga Warna-warna ingkang sakit Awis waras akeh klang prapteng pralaya.

Gempa bumi sehari tujuh kali, Membuat ketakutan manusia, Tanah banyak yang retak-retak, Makhluk halus yang ikut membantu amarah alam, menyeret semua manusia, Manusia menjerit-jerit, Banyak yang terkena penyakit, Bermacam-macam sakitnya, Jarang yang bisa sembuh malahan banyak yang menemui kematian.

16. Sabda Palon nulya mukswa Sakedhap boten kaeksi Wangsul ing jaman limunan Langkung ngungun Sri Bupati Njegreg tan bisa angling Ing manah langkung gegetun Kedhuwung lepatira Mupus karsaning Dewadi Kodrat iku sayekti tan kena owah.

Sabdo Palon kemudian menghilang, Sekejap mata tidak terlihat sudah, Kembali ke alam misteri, Sangat keheranan Sang Prabhu, Terpaku tidak bisa bergerak, Dalam hati merasa menyesal, Merasa telah berbuat salah, Akhirnya hanya bisa berserah kepada Tuhan, Janji yang telah terucapkan itu sesungguhnya tak akan bisa dirubah lagi.

Sabdo Palon dan Naya Genggong adalah 'PENUNTUN GAIB YANG MEWUJUD'. Beliau berdua senantiasa hadir mengiringi Raja-Raja Jawa jaman Hindhu Buddha. Beliau berdua pergi meninggalkan tanah Jawa semenjak Keruntuhan Majapahit pada tahun 1400 Saka, atau 1478 Masehi. Terkenal dengan SURYA SANGKALA (KATA SANDHI PENANDA TAHUN KEJADIAN) yang sangat populer di Jawa, yaitu SIRNA ILANG KERTHANING BHUMI ( SIRNA : 0, ILANG : 0, KERTHA : 4, BHUMI : 1 = 1400 Saka). Kalimat KERTHAning BHUMI, diambil dari nama asli PRABHU BRAWIJAYA PAMUNGKAS (PAMUNGKAS=TERAKHIR), yaitu RADEN KERTHABHUMI.

Janji kedatangan Beliau berdua diucapkan di Blambangan, ketika Majapahit hancur diserang oleh pasukan Demak Bintara. Prabhu Brawijaya meloloskan diri ke arah Timur, hendak menyeberang ke Pulau Bali, namun masih bertahan sementara di Blambangan ( Banyuwangi sekarang).

Raden Patah, Pemimpin Demak Bintara, merasa bangga telah menghancurkan Majapahit yang dia anggap sebagai negara kafir. Serta merta, setelah mendengar kabar berhasil dikuasainya Majapahit oleh tentara Islam, Raden Patah datang dari Demak, ingin melihat langsung keadaan Majapahit yang berhasil dihancurkan. Setelah itu, dengan bangga beliau meneruskan perjalanannya ke Pesantren Ampeldhenta, hendak mengabarkan keberhasilan itu.

Namun ternyata, Nyi Ageng Ampel, istri almarhum Sunan Ampel, malah mempersalahkannya. Nyi Ageng Ampel mengingatkan bahwa dulu semasa Sunan Ampel masih hidup, beliau pernah berpesan bahwasanya jangan sekali-kali murid-murid beliau ikut campur masalah politik, atau malah berani merebut kekuasaan Majapahit. Bahkan Nyi Ageng dengan tegas menambahkan, Raden Patah telah berdosa tiga hal :

1. Kepada Guru, yaitu melanggar wasiat Sunan Ampel.
2. Kepada Ayah, karena Prabhu Brawijaya adalah ayah kandung Raden Patah.
3. Kepada Raja, karena Raja adalah Imam, tidak boleh dilawan tanpa alasan yang benar. Sebab, selama memerintah, Prabhu Brawijaya tidak pernah melarang penyebaran agama Islam, bahkan menghadiahkan tanah Ampeldhenta (didaerah Surabaya sekarang), sebagai tanah otonom. Diijinkan untuk dipakai sebagai basis pendidikan agama bagi orang-orang muslim.

Dengan sangat menyesal, Raden Patah meminta petunjuk, bagaimanakah cara untuk menghapus kesalahannya. Nyi Ageng menyarankan agar kedudukan Prabhu Brawijaya Pamungkas sebagai Raja harus dikembalikan. Namun yang menjadi masalah, kemanakah Sang Prabhu meloloskan diri? Nyi Ageng memperkirakan, Sang Prabhu pasti menuju ke Pulau Bali. 

Raden Patah berniat menyusul sendiri, namun dicegah Nyi Ageng Ampel, karena setelah kejadian penyerangan Majapahit oleh tentara Islam terjadi, maka, tidak akan ada satupun orang Islam yang akan dipercayai oleh Sang Prabhu. Tidak Raden Patah, tidak Nyi Ageng Ampel, tidak pula Para Wali yang lain, yang turut serta membantu penyerangan tersebut. Namun, hanya ada dua Wali yang mungkin masih beliau percayai, pertama Syeh Siti Jenar dan kedua Sunan Kalijaga. Karena kedua Wali ini terang-terangan menentang penyerangan pasukan Islam ke Majapahit. Karena hubungan Raden Patah tidak begitu baik dengan Syeh Siti Jenar, maka dia meminta pertolongan Sunan Kalijaga untuk melacak keberadaan ramanda-nya. Dan jika ditemukan, dimohon dengan segala hormat untuk kembali ke Trowulan, ibukota Majapahit, untuk dikukuhkan lagi sebagai Raja. Sunan Kalijaga bersedia membantu, ditemani beberapa santri beliau langsung melakukan pencarian ke arah Timur. Dan ternyata benar, di Blambangan, banyak umbul-umbul pasukan Majapahit serta para prajurit Majapahit yang siap tempur berkumpul disana. Dan benar pula, Prabhu Brawijaya masih ada disana, belum menyeberang ke Pulau Bali. Agak kesulitan Sunan Kalijaga memohon bertemu dengan Sang Prabhu. Namun karena Sang Prabhu tahu betul, Sunan Kalijaga, yang seringkali beliau panggil Sahid itu, menurut pasukan sandhi (intelejen) Majapahit , Sunan Kalijaga bersama pengikutnya, sama sekali tidak ikut dalam penyerangan ke Majapahit, maka Sunan Kalijaga dipersilahkannya menghadap, walau dengan kawalan ketat.

Disinilah dialog SERAT SABDO PALON terjadi. Sang Prabhu Brawijaya, ditemani Sabdo Palon dan Naya Genggong, dihadap oleh Sunan Kalijaga, beserta sesepuh Majapahit yang kebetulan bersama-sama Sang Prabhu hendak menuju Pulau Bali, menyusul beberapa masyarakat Jawa lainnya yang lebih dahulu melarikan diri kesana. Mendengar penuturan Sunan Kalijaga,Sang Prabhu luruh hatinya. Karena sejatinya, Sang Prabhu kini tengah menggalang kekuatan besar untuk merebut kembali tahta dari tentara Islam. Tidak bisa dibayangkan apabila itu terjadi, karena pendukung Sang Prabhu Brawijaya masih banyak tersebar diseluruh Nusantara.

Pertumpahan darah yang lebih besar pasti akan terjadi. Putra-putra Prabhu Brawijaya masih banyak yang berkuasa dan mempunyai kekuatan tentara yang besar, seperti Adipati Handayaningrat IV di Pengging, Lembu Peteng di Madura, Bondhan Kejawen di Tarub dan masih banyak lagi.

Sunan Kalijaga meminta, agar pertikaian dihentikan, dan sudilah kiranya Sang Prabhu kembali memegang tampuk pemerintahan. Prabhu Brawijaya menolak, karena jikalau itu terjadi, maka beliau akan merasa terhina oleh putra selirnya sendiri, Raden Patah, yang lahir dari putri China Eng-Kian dan dibesarkan di Palembang dalam asuhan Adipati Arya Damar atau Swan Liong. Bagaimana tidak, seorang ayah harus menerima tahta dari anaknya sendiri, memalukan. Ketika perundingan menemui jalan buntu, maka Sunan Kalijaga mengusulkan agar beliau dengan kebesaran jiwa, mau memeluk Islam. Dengan demikian, seluruh pendukung beliau pasti akan meninggalkan beliau satu persatu, dan pertumpahan darah yang lebih besar lagi akan terhindar. Mendengar akan hal itu, Prabhu Brawijaya tercenung, untuk menghindari peperangan lebih besar, setidaknya, usulan Sunan Kalijaga memang masuk akal. Demi perdamaian, Sang Prabhu mengesampingkan ego-nya. Maka PENUH dengan kebesaran hati, beliau menyatakan MASUK ISLAM.
Terkejut seluruh yang hadir, termasuk Sabdo Palon dan Naya Genggong. Hingga, terlontarlah sebuah janji seperti tercantum pada SERAT SABDO PALON diatas.

Sepeninggal Sabdo Palon dan Naya Genggong, Sang Prabhu-pun bersedia kembali ke Trowulan, namun bukan hendak kembali menduduki tahta, akan tetapi mendamaikan seluruh kerabat Majapahit agar merelakan tahta dipegang oleh Raden Patah. Dalam perjalanan pulang inilah, Sunan Kalijaga meminta bukti ketulusan Sang Prabhu dalam memeluk Islam. 

Sunan Kalijaga memohon untuk memotong rambut panjang Sang Prabhu. Dengan sebilah keris, setelah diijinkan, Sunan Kalijaga memotong rambut beliau. Tapi ternyata, tidak satu helai-pun terpotong. Sekali lagi, Sunan Kalijaga meminta keikhlasan Sang Prabhu memeluk Islam, dan sekali lagi Sunan Kalijaga memotong rambut beliau. Kali ini, terpotong sudah. Namun, Sunan Kalijaga belum puas, menjelang berangkat kembali ke Trowulan, Sunan Kalijaga mengambil air comberan yang berbau tidak sedap dimasukkan kedalam sebilah bambu. Dihadapan Sang Prabhu, beliau menyatakan, bahwasanya apabila air comberan ini sesampainya di Trowulan airnya berubah tidak berbau busuk, nyata sudahlah Sang Prabhu telah lahr bathin masuk Islam.

Berangkatlah rombongan itu ke Trowulan, sesampainya di Trowulan, disambut dengan suka cita oleh masyarakat Trowulan. Air dalam bilah bambu dicurahkan oleh Sunan Kalijaga, dan ternyata, bau busuknya hilang, bahkan airnya berubah jernih. Untuk mengingat kejadian itu, Blambangan diubah namanya menjadi BANYUWANGI hingga sekarang. Tidak berapa lama di Trowulan, Sang Prabhu jatuh sakit. Putra-putranya datang berkumpul, melalui Sunan Kalijaga, beliau mengamanatkan agar menghentikan pertumpahan darah Hindhu-Buddha dengan Islam. Biarkanlah Raden Patah bertahta sebagai Raja di Jawa walau sebenarnya, keturunan dari Pengging-lah yang lebih berhak. Menjelang akhir hayat beliau, beliau berpesan agar diatas pusara makam beliau jangan diberi tanda bahwasanya beliau adalah Prabhu Brawijaya, Raja Majapahit terakhir, namun tandailah dengan nama Putri Champa Anarawati, permaisuri beliau. Sebab beliau merasa diperhinakan sebagaimana wanita oleh putranya sendiri. Dan penghinaan itu didukung oleh permaisurinya sendiri, Dewi Anarawati, putri Champa yang beragama Islam. Dewi Anarawati inilah bibi Sunan Ampel. Dewi Anarawati-lah yang menyarankan agar Sang Prabhu memberikan Ampeldenta kepada Sunan Ampel untuk didirikan sebuah Pesantren Islam.

Maka jangan heran, apabila di Trowulan, tidak diketemukan makam Prabhu Brawijaya, melainkan Putri Champa. Padahal makam Putri Champa yang asli berada di Gresik. Begitu Majapahit diserang pasukan Islam, beliau diungsikan ke Gresik hingga beliau wafat.
Sumber Wikipedia  diedit oleh Bms_75 tanpa merubah maknanya
0 komentar
 
Support : Editing Website | Bms_75
Copyright © 2014. Bms_75
Template Editing and Published by Bms_75
Proudly powered by Blogger