.
Featured Post Today
print this page
Latest Post
>>>>> SEMOGA SEMUA MAKHLUK HIDUP BERBAHAGIA <<<<<


Tampilkan postingan dengan label Serat Gatholoco. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serat Gatholoco. Tampilkan semua postingan

SERAT GATHOLOCO_10

Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa

yang disimpan oleh

PRAWIRATARUNA.


Digubah ke aksara Latin oleh :

RADEN TANAYA


Diterjemahkan dan diulas oleh :

DAMAR SHASHANGKA
48. Para santri tutup grana, wontên ingkang ngalih denira linggih, Kasan Bêsari amuwus, Sira jênêngmu sapa, wangsulane Gatholoco araningsun, Kasan Bêsari têtanya, Apa kang sira-sangkêlit.
Seluruh santri menutup hidung, bahkan ada yang pindah tempat duduk (menjauh), (Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) bertanya, Siapa namamu? Menjawab yang ditanya Gatholoco namaku, (Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) kembali bertanya, Apa yang kamu selipkan dipinggang (itu)?

49. Sumaur iki watangan, watangane cipta pikir kang êning, ana dene pêntholipun, iki arane cupak, prêlu kanggo mapak kawruh ingkang luput, obate candu lan bakal, ron awar-awar kinardi.
Menjawab (Gatholoco) Ini lambang dari batang, batang kesadaran yang jernih, sedangkan bulatannya, namanya CUPAK, lambang dari pucuk kesadaran yang berguna untuk MAPAK (MEMOTONG) kesadaran yang salah (rendah), ramuan yang terdiri dari candu dan, calon daun awar-awar (daun awar-awar sangat gatal).

50. Dadi arang ingkang tawar, yen kacampuh obat kalawan mimis, ora wurung kêna bêndu, mimis glintiran madat, yen wus awas patitise damar murub, lesane pucuking ilat, sênthile napas kang lungid.
Jarang manusia yang tawar, menikmati candu yang sudah dibuat bagai mimis (mimis adalah peluru kuno, berwujud bulatan. Candu yang sudah dibuat bagai mimis maksudnya dibentuk bulatan siap untuk dinikmat), jika tidak kuat hidup bagai terkena kutuk (disudutkan dan dihakimi oleh manusia-manusia yang rendah kesadarannya), jika sudah dinikmati akan awas kesadaran ini kepada Damar Murub (Pelita Yang Menyala, maksudnya Cahaya Kebenaran Sejati), lesannya puncak lidah (ini bahasa simbolik, maksudnya suara yang sejati untuk mencari Tuhan adalah puncak Rasa. Lidah symbol Rasa. Puncak Lidah berarti Puncak Rasa. Suara sejati dari puncak rasa untuk mencari Tuhan berarti suara yang tak terbahasakan, melampaui segala suara, melampaui segala bahasa. Itulah suara Ruh), yang menggetarkan (suara tersebut) adalah Nafas Yang Misterius (Maksudnya Dia Yang Hidup Tanpa Nafas, Brahman, Sumber Semesta).

51. Cêthute aran Dzatullah, rasa awor ngumpul dadi sawiji, manjing marang cêthutipun, rumasuk jroning badan, sumarambah kulit daging balung sungsum, tyasingsun padhang nêrawang, ora kewran kabeh pikir.
Tempat hisapnya lambang Dzatullah (Dzat Allah, Inti Allah), (Puncak) Rasa bercampur dan menyatu menjadi satu, manunggal kedalam Tempat hisap (Dzatullah), menjadi satu kesatuan dalam satu badan, menyatu pada kulit daging tulang dan sumsum, Kesadaran-pun terang benerang, tak ada lagi illusi.

Pada (Syair) 49-51, maksudnya adalah sebagai berikut : Pipa hisap yang dibawa Gatholoco adalah lambang Kesadaran (Buddhi), hiasan bulatan pada batang pipa adalah lambng Awasnya Kesadaran untuk memilah mana yang patut dipakai demi peningkatan Kesadaran itu sendiri atau tidak (Wiweka), Candu yang dicampur bakal daun Awar-Awar, lambang begitu memabukkannya spiritualitas itu bila seorang manusia telah menyelaminya. Tapi jarang yang sanggup bertahan, karena spiritualitas menuntut keteguhan dan kekuatan yang luar biasa. Godaan dari dalam diri maupun penghakiman dari manusia lain, sangat sukar untuk dilampaui. Namun jika telah merasakan mabuk spiritual, maka kecenderungan Kesadaran akan terus lekat pada Damar Murub atau Cahaya Kebenaran Sejati.

Kompas spiritualitas, bukan teks-teks kitab suci, tapi LESANE PUCUKING ILAT. LESAN berguna untuk mengeluarkan suara, PUCUKING ILAT (PUNCAK LIDAH) adalah symbol Puncak Rasa. Puncak Rasa adalah ATMA/RUH.

SUARA DARI PUNCAK RASA berarti SUARA RUH. Inilah Radar sejati penuntun kita dijalan spiritualitas. Karena SENTHILE NAPAS KANG LUNGID (Yang menggetarkan suara itu adalah NAPAS YANG MAHA GAIB). Jelas sudah, yang membuat SUARA RUH itu tak lain adalah DIA YANG HIDUP TANPA NAFAS atau BRAHMAN itu sendiri.

Pangkal pipa ditempat penghisapan adalah lambing Dzatullah (Dzat Allah, Inti Brahman), Puncak Rasa (Ruh/Atma) apabila telah menyatu dengan Pangkal pipa (Brahman), maka menyatulah dalam satu kesatuan Wujud.

Disaat itulah semua illusi akan lenyap dan KESADARAN TOTAL PARIPURNA telah kita capai lagi.

52. Kasan Bêsari ngandika, Sira wani mapaki kawruh mami, nganggo sira wani nglêbur, mring sarak Rasulullah, apa sira nampik urip dhêmên lampus, ora wêdi manjing nraka, ora melik munggah swargi.
(Kyai) Kasan Besari (Hassan Bashori) berkata, Kamu bernai menantang ilmuku, dengan mencoba melebur, segala syari’at Rasulullah, apa kamu menolak hidup dan pilih mati? Tidak takutkah kamu masuk neraka? Tidak inginkah kamu naik surga?

53. Gatholoco alon ngucap, Kaya apa bisane nampik milih, wus pinêsthi mring Hyang Agung, sakehing kasusahan, iku dadi duweke marang wong lampus, dene sakehing kamulyan, dadi duweke wong urip.
Gatholoco pelan menjawab, Bagaimana bisa aku mau menolak (kehidupan)? Sudah menjadi kehendak Hyang Agung, (ketahuilah sesungguhnya apa yang dimaksud hidup dan mati itu), segala ‘kesedihan dan kesusahan’ (lahir berulang-ulang didunia) itulah yang disebut ‘kematian’, sedangkan segala ‘kemuliaan’ (lepas dari rantai kelahiran dan kematian), itulah yang disebut ‘kehidupan’.

54. Yen wong urip iku susah, mêtu saking takdirira pribadi, ingkang gawe susah iku, dene Kang Maha Mulya, sipat murah puniku kagunganipun, nanging kabeh sipat samar, ora keno tinon lair.
Pun sesungguhnya jika manusia yang hidup didunia ini terus dilanda kesusahan, sesungguhnya itu juga karena hasil perbuatan pribadinya sendiri (karmaphala), itulah yang membuat kesedihan, sedangkan Yang Maha Mulia, sifat KASIH itulah sifat-Nya, akan tetapi semua tersamarkan, tak bisa dilihat oleh mata lahir. (Maksudnya ‘mata lahir’ adalah tak bisa disadari oleh mereka yang ‘mata’ kesadarannya belum melek, belum terbuka!)

55. Sira ingkang tanpa nalar, endah-endah ingkang sira rasani, suwarga naraka iku, mangka katon wus cêtha, sapa-sapa ingkang mulya uripipun, iku ingkang manjing swarga, sapa mlarat manjing gêni.
Dirimu yang tak punya nalar, muluk-muluk yang kamu bicarakan, Surga dan Neraka itu, sesungguhnya telah terlihat nyata, siapa saja yang mulia hidupnya didunia ini, dialah yang masuk Surga, siapa yang melarat dialah yang masuk api.

56. Ya iku manjing naraka, Kyai Kasan Bêsari amangsuli, Suwarga naraka iku, besuk aneng akerat, Gatholoco sumaur sarwi gumuyu, Lamun besuk ora nana, anane namung saiki.
Yaitu masuk (api) Neraka, Kyai Kasan Bêsari (Hassan Bashori) menjawab, Surga dan Neraka itu, (adanya) tergelar besok diakherat! Gatholoco menjawab sembari tertawa, Kelak tidak ada, yang ada sekarang ini!

57. Kyai Guru saurira, Nyata nakal rêmbuge janma iki, maido marang Hyang Agung, lan sarak Rasulullah, pancen wajib pinatenan dimen lampus, lamun maksih awet gêsang akarya sêpining masjid.
Kyai Guru (Hassan Bashori) berkata, Benar-benar kurang ajar ucapan manusia ini, menghujat Hyang Agung, dan syari’at Rasulullah, wajib dibunuh agar mampus, jika masih awet hidup, akan membuat semua masjid sepi.

58. Gatholoco alon ngucap, Ora susah sira mateni mami, nganggo gaman tumbak dhuwung, saiki ingsun pêjah, Kyai Kasan Bêsari asru sumaur, Iku lagi tatanira, wong mati cangkême criwis.
Gatholoco pelan menjawab, Tidak perlu repot membunuhku, dengan senjata tombak atau keris, saat inipun aku sudah mati, Kyai Kasan Bêsari (Hassan Bashori) keras membentak, Dasar tak tahu diri, mati kok mulutnya ceriwis!

59. Awake wutuh lir rêca, Gatholoco alon dennya nauri, Yen patine kewan iku, nganti gograge badan, mati aking ya iku patining kayu, yen ilang patining setan, ingkang kaya awak-mami.
Dan badanmu masih tegak bagai arca, Gatholoco pelan menjawab, Hewan disebut mati, jika tubuhnya hancur lebur, tumbuhan disebut mati jika sudah kering, jika setan mati hilang tak diketahui jejaknya, tapi kematian manusia sesungguhnya.

60. Ora mujud ora ilang, mangka iku ingsun uga wus mati, kang mati iku nêpsuku, mulane kabeh salah, ingkang urip budi pikir nalar jujur, pisahe raga lan nyawa, kinarya tundhaning lair.
Tidak bisa dilihat secara fisik juga tidak hilang (wujud) manusianya, ketahuilah sesungguhnya aku ini sudah mati, yang mati nafsuku, makanya aku mampu melihat kesalahan kalian, yang hidup adalah Budi (Buddhi:Kesadaran) dan menyisakan pikiran dan nalar yang jujur, terpisahnya Raga dan Nyawa, (itu bukan kematian) itu hanya proses menuju kelahiran kembali.

61. Iku ingkang aran Sadat, pisahira Kawula lawan Gusti, lunga pisah têgêsipun, dadi Roh Rasulullah, yen wis pisah Ragane lan Suksma iku, Rasa Pangrasa lan Cahya, panggonane ana ngêndi.
Itulah yang disebut Sahadat (Kesaksian) yang sesungguhnya (Dalam kondisi seperti ini, dimana kita telah mampu terpisah dari Badan Fana dan murni menjadi Badan Sejati, disaat seperti inilah kita akan mengetahui apa itu makna Sahadat yang Sejati), pisahnya Kawula (Hamba : Badan Maya/Fana yang berasal dari alam) dengan Gusti (Tuhan: Badan Sejati/Brahman yang berwujud Atma yang selama ini terjebak Maya), murni menjadi Roh Rasulullah (Roh Utusan Allah/Atma yang suci kembali), manakala telah berpisah Raga/Badan Fisik dan Suksma/Badan Halus, Rasa berikut Perasaan (maksudnya juga Suksma/Badan Halus) dan Cahaya (maksudnya Atma atau Badan Sejati), lantas kemanakah perginya semua itu?

62. Kyai Guru saurira, Bênêr ingsun luluh awor lan siti, Rasa lan Pangrasa iku, kalawan Cahya Gêsang, pan kagawa iya marang Suksmanipun, kabeh munggah mring suwarga, Sang Ijrail ingkang ngirid.
Kyai Guru (Hassan Bashori), Yang benar aku (Badan Fana) hancur menjadi tanah, sedangkan Rasa berikut Perasaan (Badan Halus) beserta Cahaya Hidup (Badan Sejati), dibawa oleh (Hyang) Suksma (Tuhan), semua naik ke Surga, Sang (Malaikat) Ijrail yang mengiringi.

63. Lamun Suksmane wong Islam, kang nêtêpi salat limang prakawis, sarta akeh pujinipun, rina wêngi tan owah, anêtêpi jakat salat pasanipun, pitrah ing dina riyaya, yen katrima ing Hyang Widdhi.
Jika Badan Halus orang Islam, yang menjalani shalat lima waktu, serta banyak beribadah, siang malam tiada goyah, memenuhi zakat shalat dan puasa, zakat fitrah menjelang hari raya, jika diterima oleh Hyang Widdhi.

64. Kaunggahaken suwarga, krana manut parentahe Jêng Nabi, kabeh oleh-olehingsun, kang wus kasêbut sarak, yen Suksmane wong kapir ingkang tan manut, dhawuhe Jêng Rasulullah, pinanjingakên yumani.
Akan naik ke Surga, karena menuruti perintah (Kang)jêng Nabi, yaitu semua yang aku jalani ini yang disebut syari’at, tapi Badan Halus manusia kafir yang tidak menuruti, perintah (Kang)jêng Rasulullah, dimasukkan tempat siksaan (Neraka).

65. Awit mukir mring Panutan, yen wong kapir dadi satruning Widdhi, Gatholoco asru muwus, dene Ingkang Kuwasa, nganggo nyatru marang wong kapir sadarum, lamun sira tan pracaya, maring kudrating Hyang Widdhi.
Sebab telah melawan Panutan, manusia kafir itu menjadi musuh (Hyang) Widdhi, Gatholoco keras berkata, Sangat konyol jika Yang Maha Kuasa, memusuhi manusia kafir, kamu nyata tidak mempercayai, kepada Kekuasaan (Kasih) Hyang Widdhi.

66. Maido kuwasaning Hyang, dennya karya warnane umat Nabi, anane kapir punika, sapa kang gawe kopar, lawan maneh ingkang karya uripipun, akarya bêja cilaka, tan liya Hyang Maha Suci.
Kamulah sesungguhnya yang menghujat Hyang (Widdhi)! Membagi-bagi manusia menjadi umat Nabi (dan yang bukan umat Nabi), adanya sebutan kafir itu, siapa yang membuat? Lantas pula siapa yang menciptakan mereka, yang memberikan kemuliaan dan celaka, tiada lain juga Hyang Maha Suci.

67. Upama Allah duweya, satru kapir murtad marang Hyang Widdhi, bêcik sadurunge wujud, tinitah aneng dunya, dadi ora duwe satru ing Hyang Agung, yen mêngkono Allahira, iku ora duwe budi.
Jikalau Allah mempunyai, musuh yang disebut kafir yang katanya murtad kepada Hyang Widdhi, sebaiknya Dia tidak usah menciptakan, dan mentitahkan (orang kafir) hidup didunia, sehingga Hyang Agung (tidak repot-repot) mempunyai musuh (yang membuat Dia marah-marah), jikalau memang demikian Allah-mu, tidak mempunyai Budi (Buddhi :Kesadaran)!

68. Dhêmên karya kasusahan, adu-adu wong Islam lawan kapir, beda kalawan Allahku, mêpêki ing aguna, anuruti sakarepe umatipun, ora ana kapir Islam, beda-beda kang agami.
Hanya membuat pekerjaan tak berguna, mengadu orang Islam dengan orang kafir, berbeda dengan Allah-ku, penuh kebijaksanaan, memberikan kebebasan bagi manusia, tiada yang disebut kafir dan Islam, manusia diberi kebebasan memeluk agama!

69. Têgêse aran agama, panggonane ngabêkti mring Hyang Widdhi, ing sasêbut-sêbutipun, waton têrus kewala, tanpa salin agamane langgêng têrus, sapa kang salin agama, anampik agama lami.
Yang dinamakan agama itu, sekedar wadah yang mengatur tata cara untuk menyembah Hyang Widdhi, apapun sebutan (nama agama maupun menyebut Tuhan)-nya, asal terus memantapkan diri dalam satu jalan, tiada bersalin agama dan terus mantap (pasti akan diterima), (ketahuilah) sesungguhnya siapa yang berpindah agama, menolak agama lama (yang sudah ditetapkan Hyang Widdhi bagi dia).

70. Iku kapir aranira, krana nampik papêsthene Hyang Widdhi, agamamu iku kupur, nampik leluhurira, sasat nampik papêsthenira Hyang Agung, panyêbutmu siya-siya, anêbut namaning Widdhi.
Itulah manusia kafir, karena menolak kepastian Hyang Widdhi, dirimu itu kufur, menolak (agama) leluhur, jelas menolak kepastian Hyang Agung (yang telah menetapkan bahwa agama leluhur Jawa adalah agama yang pas bagi orang Jawa), doamu seolah sia-sia, saat kamu menyebut nama (Hyang) Widdhi (dengan bahasa asing)

71. Sira iku bisa kandha, lamun kapir Suksmane manjing gêni, Suksmane wong Islam iku, kabeh manjing suwarga, apa sira wis tau nglakoni lampus, wêruh suwarga naraka, panggonane aneng ngêndi.
Dan lagi kamu bisa mengatakan, apabila manusia kafir Badan Halusnya masuk kedalam api (Neraka), (sedangkan) Badan Halus manusia Islam, semua naik Surga, apakah kamu sudah pernah mati, sehingga tahu Surga dan Neraka? Dimanakah tempatnya?

72. Kasan Bêsari angucap, kang kasêbut sajroning kitab mami, Gatholoco sru gumuyu, sira santri kêparat, ngandêl marang daluwang mangsi bukumu, nurun bukune wong sabrang, dudu tinggalan naluri.
(Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) menjawab, Itulah yang disebutkan dalam kitab! Gatholoco tertawa keras. Kamu santri bodoh, mempercayai begitu saja kepada kertas dan tulisan yang kamu sebut kitab, kitab yang kamu sadur begitu saja dari kitab milik orang seberang, bukan (kitab suci) yang sudah melekat semenjak dulu (dalam dirimu).

73. Buku têmbung cara Arab, tan ngopeni buku saking naluri, sayêktine kabisanmu, mung kitab sembarangan, sira gawa oleh-oleh lamun lampus, katur marang Gusti Allah, bali ingkang duwe maning.
Kitab yang berbahasa Arab (saja yang kamu agungkan), tidak mempelajari kitab (suci) yang sesungguhnya (yaitu Suara Ruh/Nurani), sesungguhnya wawasanmu, kamu peroleh dari kitab sembarangan, (segala kesadaran dangkalmu hasil mempelajari kitab Arab) kamu bawa sebagai oleh-oleh saat kamu mati kelak, kamu haturkan (kesadaran semacam itu) kepada Gisti Allah, kepada yang mempunyai.

74. Bakale apa katrima, krana iku kagungane pribadi, sakehe puji dikirmu, kabeh pangucapira, iku uga kagunganira Hyang Agung, mangka sira aturêna, bali marang kang ndarbeni.
(Kesadaran) semacam itu mana mungkin diterima? Karena semua ini adalah milik-Nya, seluruh puji dan dzikir-mu, seluruh ucapanmu, itu semua milik Hyang Agung, tapi kamu malah bermaksud mengembalikan, kepada yang mempunyai (maksudnya pemahaman merasa terpisah dengan Tuhan, terpisah dengan Sumber Semesta dan merasa bahwa manusia ini eksis sendiri, bukan wujud Tuhan, adalah pemahaman konyol menurut Gatholoco. Manusia itu nisbi, manusia itu tidak ada, semua ini adalah wujud Tuhan. Lantas jika ada yang meyakini, tubuh fisik ini milik kita yang dipinjamkan oleh Tuhan, dan nanti akan kita kembalikan kepada-Nya, pemahaman semacam itu masih kurang tepat menurut Gatholoco. Tidak ada pihak yang meminjamkan atau yang dipinjami. Yang ada hanyalah TUHAN. Yang meminjamkan dan yang dipinjami, hanyalah illusi. Illusi dari hasil mempelajari kitab-kitab seberang tersebut)

75. Apa ora nêmu dosa, iku kabeh kagungane Hyang Widdhi, kêpriye olehmu matur, Kyai Guru saurnya, Sira iku maido kitabing Rasul, Gatholoco alon ngucap, Tan pisan maido mami.
Sangat berdosa dirimu, karena ini semua adalah wujud Hyang Widdhi, bagaimana kamu hendak menghaturkan (kembali), Kyai Guru menjawab, Kamu menghina kitab Rasul, Gatholoco pelan menjawab, Bukan sekali ini aku menghina.
76. Sawuse sira tumingal, mring unine buku daluwang mangsi, landhatên kanyatahanmu, rasane saking sastra, sarta maneh sira iku mau ngaku, besuk lamun sira pêjah, anggawa sanguning brangti.
(Dengarkan) setelah dirimu membaca, segala yang tercantum dalam kertas bertuliskan tinta yang kamu sebut kitab suci itu, nyatakan dalam dirimu sendiri (jangan hanya meyakini secara buta), intisari dari sastra (ayat) yang sudah kamu pelajari. Dan lagi kamu tadi mengaku, kelak jika kamu meninggal, kamu membawa oleh-oleh yang sangat kamu cintai. (cinta dalam bahasa Jawa adalah BRANGTA/BRANGTI atau ASMARADANA. Menyiratkan pupuh selanjutnya adalah pupuh ASMARADANA)
0 komentar

SERAT GATHOLOCO _9

Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa
yang disimpan oleh
PRAWIRATARUNA.


Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA

PUPUH IV
Pangkur
(Kumpulan syair IV, Lagu ber-irama Pangkur)

1. Kacarita ing Cêpêkan, pondhok agêng panggenan santri ngaji, punika sampun misuwur, kawêntar manca praja, wontên Kyai pinunjul jumênêng Guru, alim jamhur tanpa sama, kang nama Kasan Bêsari.
Diceritakan di Cêpêkan, pondok (pesantren) besar tempat para santri belajar mengaji, sudah terkenal, tersohor keluar daerah, terdapat seorang Kyai berkedudukan sebagai Guru, sangat alim tersohor tiada tandingan, yang bernama Kasan Bêsari (Hassan Bashori).

2. Kajuwara yen ulama, mila unggul ginuron para santri, muridipun tigang atus, ing wanci bakda isak, wus salat neng langgar ngaji sadarum, Kyai Guru arsa mulang, kitab Pêkih miwah Tapsir.
Unggul diantara para ulama, maka banyak didatangi para santri, muridnya berjumlah tiga ratus orang, dikala bakda isya’, selesai bersembahyang di-Langgar (Musholla), Kyai Guru hendak mengajar, kitab Pêkih (Fiqih) dan Tapsir (Tafsir Al-Qur’an).

3. Undha usuk warna-warna, wontên santri ingkang lagya niteni, makna lapal Kuran-ipun, ngasil-ingasil ika, samya taken-tinaken mring kancanipun, wontên ingkang sampun paham, ngapalakên kitab Sitin.
Tingkah para santri bermacam-macam, ada yang tengah serius memperhatikan, makna lapal Kuran (lafadz Al-Qur’an), apa yang dapat mereka pahami, beberapa orang tengah saling tanya dengan temannya, ada yang sudah paham (ada yang belum), lantas menghafalkan Kitab Sittin.

4. Tanapi sagunging kitab, sasênênge santri sawiji-wiji, santri ingkang sampun putus, ing makna lapal Kuran, mêncil mêncul madoni mring Kyai Guru, maknanira lapal Kuran, angambil sagunging misil.
Serta beberapa Kitab lagi, sesuai keinginan para santri sendiri-sendiri, santri yang sudah berhasil, menghafal makna lapal Kuran (lafadz Al-Qur’an), segera mencoba mendebat Kyai Guru, untuk semakin memahami maknanya, mencari arti yang sesungguhnya.

5. Ingkang sampun kinawuhan, kang sawêneh ana santri pradondi, ing lapal makna puniku, udrêg paben grêjêgan, santri kalih mara mêrak marang Guru, gya kasaru tamu prapta, Abdul Jabar Ahmad Ngarip.
Makna yang bisa mereka tangkap, ada juga beberapa santri yang tengah bertengkar, mengenai sedikit makna yang berhasil mereka mengerti, bertengkar rame saling ngotot, dua orang santri mendekat kehadapan (Sang) Guru, berbarengan dengan kedatangan para tamu, Abdul Jabar Ahmad Ngarip (‘Arif).

6. Miwah Kyai Abdul Manap, sabat nênêm datan pisah tut wuri, sinauran salamipun, kang ngaji tutub kitab, tamu wau nulya minggah nglanggar gupuh, apan samya sêsalaman, jawat tangan gênti-gênti.
Berikut Kyai Abdul Manap (Manaf), enam sahabat terlihat mengikut dibelakang, telah dijawab salam yang mereka ucapkan, seluruh yang tengah mengaji segera menutup kitab (masing-masing), para tamu naik keatas Langggar (Musholla) segera, sebentar kemudian saling bersalaman, mempertemukan tangan dengan tangan berganti-gantian.

7. Sawustru sêsalaman, sampun warata sadaya para santri, munggeng langgar tata lungguh, Kasan Bêsari mojar, Dene gati kados wontên karsanipun, pukul pintên mangkatira, saking pondhok Rêjasari.
Setelah bersalaman, merata kepada seluruh santri, masing-masing para tamu segera bersila, (Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) berkata, Sepertinya ada hal yang sangat penting, pukul berapa tadi berangkat, dari pondhok (pesantren) Rêjasari?

8. Angling Kyai Abdul Jabar, Bakda subuh mangkat wanci byar enjing, milahipun ngantos dalu, kêdangon wontên marga, mandhêg bantah kawon mêngsah tiyang kupur, Gatholoco namanira, dhapure mbotên mêjaji.
Menjawab Kyai Abdul Jabar, Selepas Subuh tepat pagi menjelang (kami) berangkat, tiba disini hingga malam, (sebab) terlalu lama, berhenti dijalan berbantahan ilmu dengan manusia Kupur (Kufur) dan (kami) kalah, Gatholoco namanya, orangnya sangat jelek.

9. Punika setan katingal, anak Bêlis ambêgta wadhung linggis, pan kinarya ngrusak ngrêmuk, ing sarak Rasulullah , ingkang lêrês dipun wadhung lêmah putung, yen pokah rêbah binubrah, agami den obrak-abrik.
Orang ini adalah Setan yang mewujud, anak Iblis yang tengah membawa pedang dan linggis, yang hendak dipergunakan untuk merusak dan meremukkan, syari’at Rasulullah, yang sudah lurus hendak ditebas dengan pedang, yang sudah benar hendak dirusak, agama diobrak-abrik!

10. Sadaya sarak tinêrak, morak-marik sirik den orak-arik, amung nekad gasruh rusuh, jinawab mung sakêcap, gulagêpan kula tan bangkit sumaur, sagung karam rinampasan, ambubrah sarak lan sirik.

Seluruh syari’at (peraturan) diterjang, kacau balau larangan dijungkir-balikkan, niatnya memang hendak membikin rusuh, satu ucapan dari mulutnya, membikin hamba gelagepan tak bisa menjawab, segala yang haram dipakainya, membuat bubrah syari’at (peraturan) dan larangannya!

11. Wungkul akal mokal nakal, sangêt ngrengkel ngungkil nyrekal mêthakil, sakeh kawruh kabarubuh, sagung pasal kasingsal, dalil-dalil katail ing misilipun, kula mapan mung kasoran, kula nyingkring botên mlangkring.

Sangat pintar dan cerdik, sangat alot tajam (kritis) seenaknya dan semaunya, seluruh ilmu kami tertindih (oleh ilmu)nya, seluruh jawaban (kami) tiada berguna, dalil-dalil (kami) mentah maknanya (dihadapan dia), kami semua menerima kalah, kami kejarpun tak mampu kami memegang (ilmu)nya.

12. Panggah bantah mêksa kalah, boten bêtah isin den iwi-iwi, sakeh padu dipun buru, sakeh jawab tan mênang, salin pisuh botên pasah saya rusuh, malah munggah ngarah sirah, lir maling nêja anjiling.
Memaksakan terus berdebat tetap juga kami kalah, (kami) tak bisa menahan malu manakala dicemooh, segala debat mampu dijawabnya, segala bantahan kami tiada menang, hingga kami maki-pun tetap saja kami kalah, malahan semakin lancang menginjak kepala, bagai maling yang kurang ajar (kepada pemilik barang yang dimalinginya).

13. Kula tansah kaungkulan, pijêr kojur botên sagêd ngungkuli, kula suwun mring Hyang Agung, salami-kula gêsang, sampun ngantos kêpranggul tiyang kayeku, yen kapêthuk kula nyimpang, jejera kula sumingkir.
Kami selalu diunggulinya, senantiasa kalah tak dapat mengungguli, kami meminta kepada Hyang Agung (Tuhan), semoga selama hidup, jangan sampai bertemu lagi dengan manusia seperti itu, apabila berpapasan kami akan menghindar, jika bersebelahan kami akan menyingkir!

14. Manah kula sampun jinja, krana saking kapok den iwi-iwi, Kasan Bêsari duk ngrungu, mring nalar kang mangkana, sanalika dennya ngontor asru bêndu, jaja bang mawinga-winga, muring-muring waja gathik.
Hati kami sudah enggan, sebab kapok terus dicemooh, (Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) manakala mendengarnya, akan kelakuan manusia semacam itu, seketika murka, dada bergemuruh wajah memerah, marah-marah gigi bergemeletukan!

15. Netra andik angatirah, Kyai Kasan Bêsari ngucap bêngis, Patut kang kaya dhapurmu, santri remeh kewala, bênêr sira mantholos êndhasmu gundhul, buntu buntêt tanpa nalar, mung jakat kang sira-incih.
Mata melotot tajam, Kyai Kasan Bêsari (Hassan Bashori) berkata kasar, Pantas jika seperti kalian (kalah), para santri bodoh, memang benar kepala kalian pelontos gundhul, tapi otak kalian buntu tanpa kepintaran, hanya Jakat (Zakat Fitrah) semata yang kalian ketahui!

16. Durung patut ginuronan, guru bodho kawruhmu mung sanyari, ora liya kabisanmu, marani anggêr wisma, kang ginawa kasang wadhah karag sêkul, bisane Ndonga Kabula, ngaji kulhu lamyakunil.
Belum pantas digurui (oleh para murid), guru bodoh ilmumu hanya sejengkal jari, tiada lain yang kalian bisa, keluar masuk rumah, sembari membawa bakul nasi (maksudnya untuk memimpin acara tahlilan atau selamatan saja dan pulang-pulang membawa makanan dari acara tersebut), bisanya hanya membaca Doa Kabula (Do’a Qabul : Do’a agar niat tuan rumah yang mengadakan acara tahlilan atau selamatan terlaksana), hanya bisa membaca Kulhu lamyakunil (Kulhu Allahu Ahad, Allahu Shomad…dst. Maksudnya, doa yang umum diketahui semua orang!)

17. Ora padha kaya ingwang, marma gun-DHUL kasun-DHUL ing agami, mila pu-TIH surbaningsun, ti-TIH te-TEH micara, kalah iki mêsti ngambil saking biku, mila kêthu taranca-NGAN, panja-LIN ingkang kinardi.

Tidak seperti aku, ‘gun-DUL’ kepalaku karena ‘sun-DHUL’ (menggapai langit) ilmu agamaku! ‘Pu-TIH’ sorbanku, karena mulutku ‘ti-TIH te-THE’ (jelas dan lugas) menyampaikan ilmu, memakai kethu (kopiah/songkok model kuno) berbentuk ‘têranca-NGAN’ (bersusun indah) terbuat dari jalinan ‘pênja-LIN’
.
18. Keri-NGAN santri ulama, ora kewran kawruhku saLIN-saLIN, nrawang putus ngisor dhuwur, mila klambi kêba-YAK, bisa mi-YAK marang kawruh agal alus, sabuk poleng MANCA WARNA, kawruh ingsun WARNI-WARNI.
(Karena aku) ‘Keri-NGAN’ (Terkenal) diantara para santri dan ulama, bahkan tidak hanya itu ilmuku bisa ‘sa-LIN sa-LIN’ (Berganti-ganti karena saking banyaknya ilmu), jelas dan terang mulai hal yang rendah hingga yang tinggi, aku memakai busana ‘kêba-YAK’ (kebayak model untuk pakaian santri), karena aku bisa ‘mi-YAK’ (membuka) rahasia ilmu yang kasar dan ilmu yang halus (maksudnya dari ilmu yang tergampang hingga ilmu yang tersulit), berikat pinggang model Poleng (berbelang-belang) ‘BERANEKA WARNA’, karena ilmu-ku pun ‘ber-WARNA-WARNI’

19. Ilmu Jawa Landa Cina, Turki Koja Hindhu Bênggala Kêling, kabeh iku wus kacakup, sun-simpên aneng kasang, kawruh Arab awit timur nganti lamur, kawruh Jawa tan kuciwa, dhasar ingsun bangsa Jawi.
Ilmu Jawa Belanda China, Turki Koja Hindhu Bênggala Kêling, semua sudah aku kuasai, aku simpan dalam penyimpanan yang rapi, ilmu Arab aku kuasai semenjak muda hingga mataku mulai kabur, ilmu Jawa-pun tak mengecewakan, karena dasarnya aku memang orang Jawa!

20. Mila bêbêd sarung amba, omber jêmbar ngungkuli ingkang dakik, kabeh ilmu ingsun wêruh, nganggo tês-BEH sanyata, ka-BEH kawruh ingkang luwih saking alus, ora nana bisa mada, amadani marang mami.
Makanya aku memakai sarung yang lebar, karena ilmuku lebar dan luas melebihi semua orang yang ahli ilmu, segala ilmu aku ketahui, akupun memegang ‘tas-BEH’ (tasbih), karena ‘ka-BEH’ (semua) ilmu yang terhalus sekalipun (aku kuasai), tak ada yang bisa menghina, mencemooh kepada diriku.

21. Mulane nganggo gam-PARAN, sa-PARAN-ku angungkuli sasami, mulane CIS têkêningsun, kumê-CIS nora cidra, anêrawang jaba jero ngisor dhuwur, upamane ingsun kalah, mungsuh janma tanpa budi.

Oleh karenanya pula aku memakai ‘gam-PARAN’ (terompah), (karena) ‘sa-PARAN-ku’ (dimanapun diriku) akan melebihi sesama, oleh karenanya ‘CIS’ (tongkat) tongkatku (Cis itu padanan kata Tongkat), ‘kumê-CIS’ (berani) tak akan mundur, ku ketahui segala hal mulai bagian luar dalam bawah hingga atas, seumpama aku sampai kalah, melawan manusia tanpa Budi (Buddhi ; Kesadaran).

22. Sayêktine ingsun wirang, golekana saiki ana ngêndi, si Gatholoco wong kumprung, ingsun arsa uninga, mring warnane janma ingkang kurang urus, Ahmad Ngarip ujarira, Duk wau sapungkur mami.
Aku akan sangat-sangat malu, carilah sekarang dimana, si Gatholoco manusia tidak tahu aturan itu, aku ingin melihat, (bagaimana) wujud manusia yang kurang ajar tersebut, Ahmad Ngarip (‘Arif) menjawab, Sepeninggal kami tadi.

23. Tut wingking lampah kawula, kintên-kintên dalu punika ugi, nyipêng wontên kitha Pungkur, Kasan Bêsari ngucap, Lamun mrene sun jewere kupingipun, mungsuh janma ngrusak sarak, kalah lambene sun juwing.
Sepertinya berjalan mengikuti langkah kami, kira-kira malam ini juga, tengah bermalam di kota Pungkur, (Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) berkata, Jika ada disini akan aku jewer telinganya! Berdebat dengan manusia perusak syari’at seperti dia, jika nanti sampai dia kalah akan aku cincang mulutnya!

24. Sun karya pangewan-ewan, Duk samana dupi sampun byar enjing, wanci bakda salat subuh, prentah mring santri tiga, Golekana Gatholoco den katêmu, têkakna mring ngarsaningwang, Santri tiga gya lumaris.

Benar-benar aku berjanji, Bersamaan dengan datangnya pagi, seusai shalat subuh, (Kyai Hassan Bashori) memberikan perintah kepada ketiga santri, Carilah Gatholoco hingga ketemu, bawa kehadapanku, Ketiga santri segera berangkat.

25. Datan winarna ing marga, santri tiga lampahnya sampun prapti, ing pacandhon kutha Pungkur, nulya manjing ngêpakan, santri tiga pramana samya andulu, ing pacandhon wonten janma, êndhek cilik bokong canthik.
Tidak diceritakan dalam perjalanan, ketiga santri akhirnya sampai, ditempat madat kota Pungkur, langsung masuk ke-tempat madat tersebut, ketiga santri awas melihat-lihat, didalam tempat madat terdapat manusia, (berpostur) pendek pantat tepos.

26. Tinakenan namanira, gya sumaur Yen sira takon mami, Gatholoco araningsun, santri tiga tuturnya, Katimbalan sireku mring ngarsanipun, Guruning santri Cêpêkan, Kiyai Kasan Bêsari.
Manakala ditanya siapa namanya, segera dijawab Jika kalian bertanya siapa namaku, Gatholoco namaku, Ketiga santri berujar, Kamu dipanggil untuk menghadap, Guru para santri di (pondok pesantren) Cêpêkan, Kyai Kasan Bêsari (Hassan Bashori).

27. Kinen sareng lampah kula, Gatholoco maleleng ngiwi-iwi, gela-gelo manggut-manggut, nanging kendêl kewala, cangkêmipun macucu boten sumaur, nulya nêmbang ura-ura, larase mung anggêr muni.
Menghadap bersama dengan kami sekarang, Gatholoco acuh sembari mencibir, mempermainkan kepala manggut-manggut, akan tetapi tak bersuara, mulutnya dimonyongkan tak ada jawaban, lantas menyanyikan tembang, iramanya asal bunyi.

28. Piyik anak manuk Dara, Pêdhet iku jarene anak sapi, Cêmpe cilik anak Wêdhus, Gudel anak Maesa, Kirik cilik iku jare anak Asu, Belo kêpêl anak jaran, Gênjik cilik anak Babi.
Anak burung Dara (Merpati) namanya Piyik, anak Sapi namanya Pêdhet, anak Wêdhus (Kambing) namanya Cêmpe, anak Maesa (Kerbau) namanya Gudel, anak Asu (Anjing) namanya Kirik, anak Jaran (Kuda) namanya Bêlo, anak Babi namanya Gênjik.

29. Sêkar Pucang jare Mayang, sêkar Mlathi jarene sêkar Mlathi, kêmbang Gêdhang jare Jantung, yen kêmbang Klapa Manggar, dhuh lae dhuh kêmbang Mênur kêmbang Mênur, kêmbang Pacar kêmbang Pacar, kêmbang Sruni kêmbang Sruni.
Kêmbang pohon Pucang namanya Mayang, kêmbang pohon Melathi katanya kêmbang Melathi, kêmbang Gêdhang (Pisang) namanya Jantung, kalau kêmbang Klapa (Kelapa) namanya Manggar, aduh aduh kêmbang Mênur kêmbang Mênur, kêmbang Pacar kêmbang Pacar, kêmbang Sêruni kêmbang Sêruni.

30. Santri murid kang dinuta, samya eram sadaya tyasnya gêli, kapingkêl-pingkêl gumuyu, wacana jroning driya, apa baya pancen duwe lara gêmblung, dene pijêr ura-ura, bêcik kudu diasori.
Para murid santri yang diutus, keheranan melihat tingkah Gatholoco dan geli, terpingkal-pingkal ketawa, membatin dalam hati, apa memang memiliki sakit gila, ditanya kok malah bernyanyi tidak karuan nadanya, lebih baik diambil hatinya agar menurut.

31. Murid tiga angrêrêpa, sanjang malih sarana ngarih-arih, ingarah mung murih purun, Mangga tumuntên mangkat, mring Cêpêkan manggihana Kyai Guru, manawi den arsa-arsa, kedangon kula ngêntosi.
Ketiga murid memohon, kembali meminta dengan mengharap-harap, agar supaya bersedia, Mohon bersedia menghadap, ke (pondok pesantren) Cêpêkan bertemu Kyai Guru, siapa tahu sudah ditungggu-tunggu, kami kelamaan menanti jawaban (anda).

32. Gatholoco klewa-klewa, sarwi ngucap Apa sira tan uning, ingsun iki lagya ewuh, lan bangêt kêtagihan, lamun sira paripaksa ngundang mring sun, kêthumu bae sun-sêlang, prêlu kanggo gadhen dhingin.
Acuh tak acuh Gatholoco, sembari berkata Apa kalian tak melihat, aku ini sedang kebingungan, dan sangat ketagihan, apabila kalian memaksa aku, kêthu (kopiah) kalian saja aku pinjam, perlunya untuk aku gadaikan.

33. Candu rong timbang kewala, nanging jangji sira têbus pribadi, mêngko yen wus mêndêm ingsun, tumuli mangkat mrana, lamun sira ora lila kêthu iku, ingsun wêgah lunga-lunga, moh nêmoni Kyai Kaji.
Aku tukarkan candu sebanyak dua timbangan saja, akan tetapi harus berjanji kalian yang menebus sendiri nanti, jika aku sudah mabuk, baru berangkat kesana, apabila kalian tidak rela meminjamkan kêthu (kopiah) kalian, aku tidak sudi pergi, menemui Kyai Kaji (Kyai Haji).

34. Santri tiga duk miyarsa, rêrêmbugan lawan rowange sami, lamun ora sinung kêthu, sayêkti tan lumampah, ora wurung Kyai Guru mêngko bêndu, upama ingsun wenehna, luwih bêcik den turuti.
Mendengar hal itu maka ketiga santri, saling berembug, apabila tidak diberikan kêthu, pasti tak mau beranjak pergi, ujung-ujungnya nanti Kyai Guru akan marah, lebih baik di berikan dan lebih baik dituruti.

35. Santri duta kang satunggal, amangsuli mangkana dennya angling, wus têtela nalar kojur, iku padha kewala, kêthu mami uga anyar oleh tuku, lawase satêngah wulan, rêgane srupiyah putih.
Salah seorang santri, menjawab beginilah katanya, Sudah terlanjur memang nasib kita, semua sama saja, kêthu-ku juga masih baru beli, setengah bulan yang lalu, harganya satu rupiah perak.

36. Kang satunggal tumut ngucap, ora beda anyare kêthu mami, lagi nganggo patang taun, mangka utang pitung wang, bayar nicil setheng setheng sabên esuk, sun-lowongi durung êsah, isih kurang limang kêthip.
Yang seorang berkata, Sama juga milikku juga masih baru, ku pakai empat tahun, padahal aku berhutang 7 Wang, menyicil 1 Setheng tiap pagi, belum juga lunas. Masih kurang 5 Kêthip. (Nilai 12 Wang sama dengan 1 Rupiah. Nilai 1 Setheng sama dengan 1/2Sen. Nilai 1 Kêthip sama dengan 5 Sen, sedangkan nilai 1 Sen sama dengan Seperseratus rupiah.)

37. Najan camah awakingwang, waton oleh alême guru mami, santri tiga samya muwus, niki kêthu kawula, tampenana Gus Nganten sampeyan pundhut, gadhekna kula sumangga, sakmana dipun tampeni.
Walau harus rugi, asal dapat pujian Guru, Ketiga santri lantas sepakat, Ini kêthu kami, terimalah manusia bagus, silakan digadaikan, Segeralah diterima.

38. Wusnya kêthu tinampenan, santri duta malah den iwi-iwi, ngisin-isin sarwi muwus, Sireku ngêntenana, kêthu tiga dipun gantosakên candu, rong timbang cinukit ngingkrang, sinêrêt bantalan dingklik.
Setelah kêthu diterima, para santri utusan malah diejek, diperpermalukan sembari berkata, Kalian semua tunggulah. Tiga kethu ditukar candu, sebanyak dua timbangan segera diungkit, lantas dihisap (oleh Gatholoco) sembari berbantalkan kursi kecil.

39. Wus tuwuk panyêrêtira, bêdudane nulya dipun sangkêlit, Gatholoco gya lumaku, den iring santri tiga, sadangune lumampah urut dalanggung, ngupaya sênênging driya, rêrêpen sinawung gêndhing.
Setelah puas menghisap (candu), pipa pun lantas ditaruh dipinggang, Gatholoco segera berjalan diiringi ketiga santri, sepanjang jalan, mencari senangnya hati, dengan bernyanyi dan menembang.

40. Bismillah sun-ura-ura, sun-wangsalan Pêtis apyun (CANDU) upami, ana kêthu dadi CANDU, candu dadi gêlêngan, Patek tungkak (BUBUL) gêlêngane dadi kê-BUL, kêbule mrasuk mring badan, sumrambah dadi nyêgêri.
Bismillah aku hendak bernyanyi, bersyair ‘wangsalan’ (kata-kata yang vocal-nya berupa sandi) ‘Pêtis apyun’ (CANDU) seumpama, ada kêthu (kopiah) menjadi ‘CANDU’, candu menjadi gelintiran, ‘Patek (penyakit kulit) di telapak kaki’ (BUBUL) gelintiran menjadi ‘ke-BUL’ (Asap), asapnya merasuk badan, menyebar membuat segar.

41. Jênang sobrah (AGÊR-AGÊR) Ancur kaca (RASA), Balung tipis munggeng pucuk dariji (KUKU), sê-GÊR dadi ro-SA mla-KU, nanging ingkang kelangan, paribasan Sabêt kuda (CÊMÊTHI) mês-THI gêtun, aranira Tirta maya (WISUHAN), mi-SUH-mi-SUH jroning batin.
‘Bubur sobrah’ (AGER-AGER) ‘Ancur (bubuk) dari pecahan kaca’ (RASA), ‘Tulang kecil berada diujung jemari’ (KUKU) ‘se-GER’ (Segar) jadi ‘ro-SA’ (Kuat) ‘luma-KU’ (berjalan), akan tetapi yang kehilangan, bagaikan ‘Alat pemukul untuk kuda’ (CEMETHI) ‘mes-THI’ (Pasti) merasa sayang, disebut ‘Air berwarna’ (WISUHAN/AIR PEMBASUH), ‘mi-SUH mi-SUH’ (Memaki-maki) didalam hati.

42. Dhuh bakul Sotya kêncana (PARA), Sela ingkang kinarya ngasah lading (WUNGKAL), mani-RA bakal katêmu Guru santri Cêpêkan, Paksi alit kang dadya sasmiteng tamu (PRÊNJAK), Pêthel panjang tanpa sangkal (TATAH), nêja nga-JAK ban-TAH ilmi.
Wahai ‘Penjual perhiasan’ (PARA), ‘Batu yang dipakai untuk menajamkan besi’ (UNGKAL). ‘mani-RA’ (Aku) ‘ba-KAL’ (Hendak) bertemu dengan Guru para santri di Cêpêkan, ‘Burung mungil yang sering dipakai pertanda jika hendak ada tamu datang’ (burung PRÊNJAK), ‘Palu panjang’ (TATAH), hendak ‘menga-JAK’ ‘ban-TAH’ ilmu.

43. Kadhal gung wismeng bangawan (BAJUL), Jambu ingkang isi lir mirah edi (DLIMA), sanajan guru pinun-JUL, alim jamhur ula-MA, Wadhung pari (ANI-ANI) ingsun uga wa-NI mungsuh, mrica kêcut dedompolan (WUNI), sagêndhinge sun lade-NI.
‘Kadal bertubuh besar yang tinggal disungai’ (BAJUL/Buaya), ‘Buah jambu yang bijinya bagai batu mirah’ (DLIMA/Delima), walaupun Guru ‘pinun-JUL’ (Terkenal), alim pandai dan berstatus ‘ula-MA’, ‘Cangkul padi’ (ANI-ANI) aku tetap ‘wa-NI’(Berani), ‘Merica bergerombol yang rasanya kecut’ (WUNI), apa yang diminta akan aku ‘lade-NI’ (Layani).

44. Dumugi pondhok Cêpêkan, kacarita ing pondhok para santri, miwah sagung para guru, mulat kang lagya prapta, maksih wontên plataran ngandhap wit jêruk, Kyai Abdul Jabar ngucap, mring Kyai Kasan Bêsari.
Sesampainya di pondok (pesantren) Cêpêkan, tampaklah para santri, berikut para guru, melihat siapa yang baru datang, masih berada di pelataran tepat dibawah pohon jeruk, Kyai Abdul Jabar berkata, kepada Kyai Kasan Bêsari (Hassan Bashori).

45. Tiyang makaten punika, najis mêkruh tan pantês minggah mriki, Kasan Bêsari sumaur, najan mêkruh najisa, nanging iku têkane saking karêpmu, bêcik kinen munggah langgar, dimene tumuli linggih.
Manusia seperti itu, najis tak pantas naik ke (atas musholla) ini, (Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) menjawab, Walaupun najis, akan tetapi yang menyebabkan dia hadir disini juga kamu, lebih baik suruh naik ke Langgar (Musholla), agar supaya bisa duduk.

46. Rêgêd ora dadi ngapa, yen wus lunga tilase disirami, Kasan Bêsari gya dhawuh, Uwong ala lungguha, kono bae ing jrambah lor wetan iku, Gatholoco sigra minggah, marang langgar mapan linggih.
Kotor-pun tak menjadi masalah, manakala sudah pergi nanti bekas dimana dia duduk disiram dengan air, (Kyai)Kasan Bêsari (Hassan Bashori) berkata, Manusia jelek duduklah, disitu saja diteras (mushola) sebelah timur laut, Gatholoco segera naik, ke atas Langgar (Musholla) dan duduk.

47. Sendheyan prênah lor wetan, bêdudane maksih dipun sangkêlit, nulya nitik karya latu, ngakêp rokok têgêsan, têgêsane sadriji kêbule mabul, mratani sajroning langgar, ambêtipun sêngak sangit.
Duduk disebelah timur laut dan bersandar, pipa masih di selipkan dipinggang, lantas menyalakan api, rokok candu disulut, rokok candu sebesar jemari tangan asapnya menyebar, merata memenuhi Langgar (Musholla), baunya sêngak (tidak enak) sangit (bau barang terbakar).

Damar Shashangka
0 komentar

SERAT GATHOLOCO _8

Diambil dari naskah asli
bertuliskan huruf Jawa

yang disimpan oleh
PRAWIRATARUNA.

Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA

38. Guru tiga duk miyarsa, sru nyêntak sarwi nudingi, Gatholoco sira gila, Gatholoco anauri, Ingsun gila sayêkti, yen wêruh kaya dhapurmu, wêdi bok katularan, ora duwe mata kuping, kawruhira amung jakat lawan pitrah.

Ketiga Guru begitu mendengarnya, keras membentak sembari menuding, Gatholoco kamu gila! Gatholoco menjawab, Aku memang gila, jika bertemu orang sepertimu, aku takut ketularan, tidak memiliki mata dan telinga, pengetahuan kalian hanya melulu berkisar tentang jakat pitrah (zakat fitrah) saja.


39. Kyai Guru tiga pisan, tyasnya runtik anauri, Nyata sira anak Jalang, Gatholoco amangsuli, Iku bênêr tan sisip, bapa biyung kaki buyut, kabeh kêna ing pêjah, lamun wis tumêkeng jangji, yêkti mulih mring asale padha Ilang.

Ketiga Guru semua, dengan hati panas menyahuti, Nyata kamu anak Jalang! Gatholoco menjawab seenaknya, Ucapanmu benar tidak keliru, bapak ibu kakek dan buyut-ku, semua terkena mati, jika sudah sampai pada saatnya mati, pasti pulang keasalnya semua meng-Hilang! (Inilah sikap bijak seorang yang tercerahkan. Manakala dia dihina, maka dia akan merespon dan memaknai hinaan itu dengan makna positif. Gatholoco di caci sebagai anak Jalang, tapi Gatholoco seolah tak mendengar kata Jalang tapi malah mendengar kata Hilang. Contohlah sikap seperti ini.)

40. Kiraku manawa sira, mêtu saking rêca wêsi, dene wujud tanpa nyawa, sira ora duwe budi, Kyai Guru nauri, samya misuh Truk biyangmu, Gatholoco angucap, Iku bangêt trima-mami, krana sira têlu pisan misuh mring wang.

Kukira mungkin kalian, lahir dari arca besi, berwujud tapi tanpa nyawa, karena terlihat kalian tidak mempunyai budi (buddhi : kesadaran), Kyai Guru menjawab, dengan mengumpat Turuk biyang-mu (Dasar terlahir dari Vagina)! Gatholoco berkata, Sangat berterima kasih aku, karena kalian bertiga mengumpati aku (dan ibuku).

41. Sira nuduhake biyang, ingsun iki tan udani, duk lair saking wadonan, amung ingkang sun-gugoni, wong tangga kanan kering, bapa biyang ingkang ngaku, nganakake maring wang, iku ingkang sun-sungkêmi, nanging batin ingsun ora wani sumpah.

Kalian telah berani menunjukkan darimana Aku telah terlahirkan, akan tetapi Aku sendiri tidak yakin pasti, apakah benar aku terlahirkan dari vagina, hanya yang Aku jadikan pegangan, kesaksian tetangga kiri kanan, berikut bapak dan ibu yang mengakui, telah memperanakkan Aku, keduanya Aku junjung tinggi, akan tetapi didalam hati sesungguhnya Aku tidak berani bersumpah (telah terlahir dari sebuah vagina!)

42. Iya iku bapa biyang, ingkang wêruh lair-mami, saikine sira bisa, nuduhake biyang-mami, wismane ana ngêndi, lawan sapa aranipun, amba-ciyute pira, duweke wong tuwa-mami, yen tau wêruh iku ujar ambêlasar.

(Mungkin) hanya bapak dan ibu-ku, yang mengetahui dengan pasti darimana Aku terlahirkan, akan tetapi sekarang kalian (yang baru bertemu denganku saat ini saja), telah berani menyatakan bahwa Aku terlahir dari vagina ibu, jika memang benar kalian tahu pasti, dimanakah rumah ibu-Ku, lantas siapakah namanya, serta seberapa ukuran, milik (vagina) ibu-Ku? Jika tidak bisa menjawab nyata kalian telah bersaksi palsu!

43. Krana ingsun nora wikan, wujude Ingsun saiki, mujud dhewe tanpa lawan, Allah ora karya mami, anane raga-mami, gaweyanira Hyang Agung, duk aneng alam dunya, ana satêngahing bumi, lawan sira kala karya raganira.

(Ketahuilah) sesungguhnya Aku tidak ragu bahwa, wujud(Atma)-Ku ini, berwujud dengan sendirinya (bukan dilahirkan oleh vagina) dan tiada tandingan, Allah tidak menciptakan Aku (Maksudnya Allah saja tidak menciptakan Atma atau Ruh: Atma atau Ruh tidak diciptakan, tidak ada yang menciptakan Atma atau Ruh. Atma dan Ruh adalah percikan-Nya), (sedangkan) adanya Raga(Tubuh Fisik)-Ku, (memang) buatan Hyang Agung (Maksudnya Hyang Agung/Allah hanya menciptakan Raga atau Tubuh Fisik semata), (diciptakan) saat ada di alam dunia, ada ditengah-tengah bumi, manakala membuat raga kalian (Maksudnya dicipta ditengah ruang dan waktu relatif semesta raya).

44. Sawindu lawan sawarsa, rolas wulan pitung ari, pêndhak pasar ratri siyang, saêjam sawidak mênit, ora kurang tan luwih, wukune mung têlung puluh, raganingsun duk daya, sarta wus wani nyampahi, wruhaningsun sanajan saiki uga.

Sawindu (siklus delapan tahunan) serta Setahun, Dua belas bulan Tujuh hari, Pêndhak Sêpasar (siklus hari dalam jumlah lima : Kliwon, Lêgi, Pahing, Pon dan Wage) Malam dan Siang, Satu jam Enam puluh menit, tak lebih dan tak kurang dari itu, Wuku-nya hanya tiga puluh (Wuku adalah perhitungan siklus tujuh harian/seminggu. Ada tiga puluh Wuku. Setiap Wuku berumur tujuh hari. Total tiga puluh Wuku memakan waktu 210 hari), (Didalam ukuran ruang dan waktu relatif duniawi seperti contoh diatas) Raga(Tubuh Fisik)-Ku memiliki bentuk (maksudnya tercipta), serta sudah berani menghina (maksudnya juga tercipta Tubuh Halus/Suksma Sariira yang menyelimuti kesadaran Atma sehingga berubah menjadi sosok makhluk yang tidak murni), ketahuilah hal ini sekarang juga.

45. Badanku kêna ing rusak, urip-mami wangawuhi, saobah-osiking badan, Rasulullah andandani, krana ingsun kêkasih, kinarya Pangeraningsun, marang sagunging sipat, nggêsangakên saliring tunggil, iya Ingsun iya Allah ya Muhammad.

Badanku bisa rusak, (akan tetapi) Hidup (Atma)-ku abadi, seluruh keberadaan tubuh ini, Rasulullah (Atma/Ruh)-lah yang menghiasi, karena Aku (Hidup/Atma/Ruh/Rasulullah) adalah kekasih(-Nya), dianggap sebagai Tempat untuk Mengabdi (bagi Tubuh Fisik/Sthula Sariira dan Tubuh Halus/Suksma Sariira), Tempat untuk Mengabdi bagi seluruh sipat (maksudnya segala sifat yang baik maupun yang buruk dari Suksma Sariira), menghidupi segalanya dalam satu kesatuan, (sesungguhnya) Aku (Ruh/Atma) adalah juga Allah adalah juga Muhammad.

46. Guru tiga asru mojar, Sira wani angakoni, tunggal wujud lan Pangeran, apa kuwasamu kuwi, Gatholoco nauri, Ngawruhi dadine lêbur, kalawan pêparêngan, karsane Kang Maha Suci, ingsun dhewe tan kuwasa apa-apa.

Ketiga Guru keras berkata, Kamu berani mengakui, satu kesatuan wujud dengan Tuhan, apa kekuasaanmu? Gatholoco menjawab, Menyadari menjadi dan leburnya (maksudnya menyadari sepenuhnya sepanjang kelahiran dan kematian saat terlahirkan sebagai Gatholoco saja), dengan ijin, dan kehendak Yang Maha Suci, aku sendiri tak berkuasa apa-apa. (Maksud Gatholoco, dalam kondisi Atma masih terikat oleh Suksma Sariira/Tubuh Halus dan Sthula Sariira/Tubuh Fisik, Atma hanya mampu mengetahui kelahiran dan kematiannya dalam satu siklus kehidupannya ini saja, sedangkan diluar itu, Atma belum mampu menyadari).

47. Ragengsun wujuding Suksma, angawruhi ing Hyang Widdhi, tumindak karsanira Hyang, aweh mosik liya mami, Muhammad kang nduweni, pangucap paningalingsun, pangganda pamiyarsa, dene lesan lawan dhiri, kabeh iku kagungane Rasulullah.

Ragaku adalah wujud Suksma (kata Suksma disini yang dimaksud adalah Hyang Suksma, yang artinya Tuhan. Bukan Suksma Sariira/Tubuh Halus), jelas-jelas adalah Hyang Widdhi yang terlihat, mampu eksis atas kehendak Hyang (Widdhi) sendiri, mampu pula beraktifitas (atas kehendak-Nya juga), Muhammad (Atma/Ruh juga adalah wujud Hyang Widdhi) yang memiliki, pengucapan penglihatanku, penciuman dan pendengaranku, lesan dan pribadi ini, semua itu milik Rasulullah (Atma/Ruh). (Maksudnya baik Raga/Sthula Sariira hingga Atma – dalam bahasa Gatholoco adalah Muhammad atau Rasulullah- semua adalah perwujudan Hyang Suksma atau Hyang Widdhi atau Tuhan. Atma ini tiada beda dengan Hyang Widdhi. Maka tepatlah jika dinyatakan, seluruh pengucapan, penglihatan, penciuman, pendengaran dan sebagainya sesungguhnya adalah milik Atma.)

48. Ingsun ora apa-apa, mung pangrasa duwek-mami, iku yen ana sihing Hyang, yen tan ana sihing Widdhi, duwekingsun mung sêpi, basa sêpi iku suwung, tan ana apa-apa, lir ingsun duk durung dadi, têtêp suwung ora wêruh siji apa.

Aku ini tidak memiliki apa-apa, hanya perasaan (merasa memiliki) saja yang menjadi miliku, itu saja jika mendapatkan kasih dari Hyang (Widdhi), jika tak mendapatkan kasih (Hyang) Widdhi, milikku hanyalah sêpi, arti kata sêpi adalah kosong, tidak ada apa-apa, bagaikan aku saat belum menjadi, tetap kosong tak mengetahui apa-apa. (Maksudnya wujud manusia ini sesungguhnya adalah perwujudan Tuhan juga. Manusia itu ‘tidak ada’. Yang ada hanya ‘perasaan merasa ada dan memiliki pribadi yang terpisah dengan Tuhan’. Jika ‘illusi merasa ada dan merasa memiliki pribadi yang terpisah dengan Tuhan’ ini tersingkap, maka yang ada hanyalah KOSONG. KOSONG itulah KEABADIAN DAN KEBAHAGIAAN MILIK KITA DULU. KOSONG ITULAH TUHAN!)

49. Abdul Jabar nulya mojar, Sira iku angakoni, wujudmu wujuding Suksma, ing mangka ragamu kuwi, kêna rusak bilahi, ora langgêng sira wutuh, Gatholoco angucap, Ingkang rusak iku bumi, kalimputan wujud-mami lan Pangeran.

Abdul Jabar lantas berkata, Kamu mengakui, wujudmu adalah wujud (Hyang) Suksma, padahal ragamu itu, bisa terkena rusak dan celaka, tidak utuh abadi selamanya, Gatholoco berkata, Yang bisa rusak itu badan yang berasal dari bumi (kata bumi hanya mewakili segala unsur alam semesta), yang terselimuti wujud-Ku (Atma) dan Tuhan (Brahman).

50. Ingsun Ingkang Maha Mulya, tan kêna rusak bilahi, ingkang langgêng swarga mulya, Kyai Guru anauri, Yen mangkono sireki, wêruh pêsthine Hyang Agung, kang durung kalampahan, Gatholoco anauri, Wêruh pisan pêsthine mring raganingwang.

Aku Yang Maha Mulia, tak bisa rusak dan celaka, yang langgeng dan sesungguhnya surga mulia (Jannatun Firdaus, Moksha, Nirwana, Kerajaan Allah) itu sendiri, Kyai Guru menyahut, Jikalau demikian kamu ini, mengetahui takdir Hyang Agung yang belum terjadi? Gatholoco menjawab, Bahkan aku bisa membuat takdir yang bakal terjadi pada diriku.

51. Ingsun pêsthi awakingwang, wayah iki dina iki, jêjagongan lawan sira, mêngko gawe pêsthi maning, kang durung den lakoni, kanggone mêngko lan besuk, supaya aja salah, dadi ora kurang luwih, lamun salah ngrusak buku sastra angka.

Telah aku tetapkan sendiri, pada saat ini hari ini, duduk bertemu dengan kalian semua, nanti aku akan membuat takdir lagi, yang belum terjadi, untuk hari esok dan kelak, harus hati-hati dalam membuatnya, sehingga tidak kurang dan tidak lebih (tetap dalam keseimbangan), jika salah bisa merusak kitab sastra angka. (Gatholoco sebenarnya hendak menjelaskan tentang hukum sebab akibat, dimana takdir itu yang membuat adalah kita sendiri)

52. Kalawan ngrusak gulungan, iku bangêt wêdi-mami, wêdi manawa dinukan, marang ingkang juru-tulis, mulane ngati-ati, gawe pêsthi aja kliru, Kyai Guru angucap, Kang durung sira lakoni, bêja sarta cilakamu besuk apa.

Jika sampai merusak gulungan kitab (maksudnya melakukan perbuatan buruk sehingga merangkai takdir buruk pula bagi diri kita), itu sangat kutakutkan, takut jika sampai dimarahi, oleh juru tulis (maksudnya alam semesta, yang merekam dan mencatat segala perbuatan dan aktifitas kita), makanya aku hati-hati, membuat takdir jangan sampai keliru, Kyai Guru berkata, Yang belum kamu jalani, untung dan celakamu besok bagaimana?

53. Aneng ngêndi kuburira, Gatholoco anauri, Kuburan wus ingsun-gawa, sabên dina urip-mami, kalawan ngudanêni, ning sawatês umuringsun, kalamun parêk ajal, sajroning rolas dina mami, lagya milih jam sarta wayahira.

Dimanakah kuburmu? Gatholoco menjawab, Kuburku telah aku bawa, setiap saat dalam kehidupanku, serta aku tahu, pada batas usiaku, jika sudah dekat ajal, dalam dua belas hari, baru memilih jam dan saatnya. (Gatholoco berkata benar. Manusia yang kesadarannya tinggi, mampu memilih hari, jam dan saat kematiannya sendiri!)

54. Yen gawe pêsthi samangkya, papêsthene awak-mami, bokmanawa luwih kurang, susah anggoleki pêsthi, bêcike sabên lawan ari, anggawe papêsthen iku, manut sênênging driya, dadi ora kurang luwih, ora angel ora cidra ing sêmaya.

Membuat takdir itu, takdir untuk diriku sendiri, sangat sulit membuat yang seimbang (maksudnya membuat takdir yang menghasilkan keseimbangan sehingga menunjang lepas dari dualitas duniawi), sangat sulit mencari takdir (yang menunjang pelampauan dualitas tersebut), lebih baik setiap hari, dalam membuat takdir, dibuat dalam keadaan pikiran yang bahagia (pikiran positif), sehingga hasilnya kelak tidak akan lebih dan kurang (seimbang), tidak membuat kesukaran (dalam proses evolusi Atma) dan tidak membuat ingkar janji (mengingkari tujuan hidup yang sejati yaitu menyatu dengan SUMBER ABADI SEMESTA).

55. Kyai Abdul Jabar ngucap, Pêsthine marang Hyang Widdhi, ingkang durung kalampahan, Gatholoco anauri, Iku pêsthening Widdhi, dudu pêsthi saking ingsun, Allahku sabên dina, anggawe papêsthen mami, anuruti marang kabeh karsaningwang.

Kyai Abdul Jabar berkata, (Bagaimana dengan) ketetapan Hyang Widdhi, yang belum terlaksana, Gatholoco menyahut, Itu ketetapan (Hyang) Widdhi, bukan ketetapan dari-(Atma)ku, Allah-ku setiap hari, membuat ketetapan bagiku, menuruti kepada semua kehendak-ku. (Disini jelas harus dibedakan, mana takdir yang dibuat oleh manusia untuk dirinya sendiri melalui pikiran, perkataan dan perbuatannya, dengan takdir jalannya siklus semesta raya. Jelas, takdir bagi diri sendiri kitalah yang membuat, tapi takdir jalannya siklus semesta raya, manusia tidak bisa membuatnya.)

56. Guru tiga sarêng ngucap, Gatholoco sira iki, nyata kasurupan setan, Gatholoco anauri, Bênêr pan ora sisip, kala ingsun dereng wujud, ana ing alam samar, tumêka ing jaman mangkin, setaningsun durung pisah saking raga.

Ketiga Guru sama-sama berkata, Gatholoco kamu ini, nyata-nyata kesurupan setan! Gatholoco menjawab, Benar memang tidak salah, saat aku belum lahir, didalam alam yang samar, hingga pada jaman aku lahir (kembali sekarang), setanku belum bisa aku pisahkan dari diriku!

57. Basa setan iku seta, asaling bibit sakalir, wujudingsun duk ing kuna, punika asale putih, lamun durung mangrêti, iya iku asal ingsun, purwa saking sudarma, tumêka kalamullahi, sayêktine ingsun asal Kama Pêthak.

Setan itu berasal dari (air) putih (sperma), bibit semua manusia, wujudnya pertama kali, berwarna putih, maka ketahuilah, itulah asal-ku, berasal dari orang tua laki-laki, hingga aku harus lebur (moksa, maka setan akan tetap ada didalam diriku), sesungguhnya aku (Tubuh fisik ini beserta setannya) berasal dari Kama Pêthak (sperma berwarna putih)!

58. Mênêk Guru têlu sira, Kama Irêng ingkang dadi, dene buntêt tanpa nalar, Abdul Manap duk miyarsi, mojar mring Ahmad Ngarip, Abdul Jabar Yen sarujuk, wong iki pinatenan, lamun maksih awet urip, ora wurung ngrusak sarak Rasulullah.

Akan tetapi kalian ketiga Guru, Kama Irêng (sperma hitam) asal kalian (sperma yang berisi roh-roh terikat) sehingga bodoh tanpa nalar! Abdul Manap (Abdul Manaf) begitu mendengar, berkata kepada Ahmad Ngarip (Ahmad ‘Arif), serta kepada Abdul Jabar Jika kalian setuju, kita bunuh saja orang ini! Jika masih tetap hidup, tidak urung akan merusak syari’at Rasulullah!

59. Iku wong mbubrah agama, akarya sêpining masjid. Gatholoco asru ngucap, Den enggal nyuduk mring mami, sapisan nyuduk jisim, pindho bathang sira suduk, ya ingsun utang apa, arsa mateni mring mami, saurira Mung lêga rasaning driya.

Orang ini merusak agama, bakal membuat sepinya masjid, Gatholoco keras berkata, Segeralah tusuk Aku, pertama kamu hanya akan mampu menusuk tubuh fana ini saja, kedua kamu hanya akan mampu menusuk bangkai (tidak bakalan kalian mampu menusuk yang namanya ‘Aku’)! Berhutang apakah Aku pada kalian? Sehingga kalian hendak membunuh ‘Aku’? (sesungguhnya kalianlah yang telah banyak berhutang pada-Ku)! Terdengar jawaban, Agar puas rasa hati kami!

60. Krana sira ngrusak sarak, Gatholoco anauri, sarak tan kêna rinusak, pinêsthi dening Hyang Widdhi, …………………………, ………………………, …………………….., iku têtêp aran janma ngrusak sarak.

Karena kamu telah merusak syari’at! Gatholoco menyahuti, Syari’at (hukum yang sesungguhnya alias hukum alam) tidak bisa dirusak! Sudah ditetapkan demikian oleh Hyang Widdhi, (belum saatnya saya terjemahkan……………….), Itulah sesungguhnya yang dinamakan manusia perusak syari’at!!


61. Dene bangsane agama, sasênêngne wong ngaurip, sanajan agama Cina, lamun têrus lair batin, yêkti katrima ugi, Guru têlu agamamu, iku agama kopar, agamaku ingkang suci, iya iku kang aran Agama Rasa.

Semua agama, terserah kepada pribadi masing-masing, walaupun agama berasal dari Cina, apabila mantap lahir batin, pasti diterima (oleh Tuhan), agama kalian, itu agama sombong, agamaku yang suci, inilah yang disebut Agama Rasa.

62. Têgêse Agama Rasa, nuruti rasaning ati, rasaning badan lan lesan, iku kabeh sun-turuti, rasaning lêgi gurih, pêdhês asin sêpêt kêcut, pait gêtir sadaya, sira agama punapi, saurira Agamaku Rasulullah.

Maksud dari Agama Rasa, mengamati rasa hati, rasa badan dan rasa lidah, itu semua aku amati, rasa manis gurih, pedas asin sepat kecut, pahit dan getir semuanya (Gatholoco tengah menguraikan meditasi Vipassana, yaitu melatih Kesadaran agar senantiasa awas dengan segala gejolak pikiran dan segala sensasi tubuh), sedangkan kalian agama apakah, Mereka menjawab Agamaku agama Rasulullah!

63. Gatholoco asru ngucap, Patut sira tanpa budi, aran ra punika raras, sul usul raras kang sêpi, sul asal têgêsneki, mulane sireku kumprung, Guru tiga miyarsa, sigra kesah tanpa pamit, sakancane garundêlan urut marga.

Gatholoco keras menyahuti, Pantas kalian tanpa buddhi (kesadaran), tidak bisa mengamati rasa diri, mengamati asal usul rasa yang sepi (dari segala rasa), makanya kalian bingung, Mendengar kata-kata itu ketiga Guru, segera pergi tanpa pamit, seluruh yang bersama mereka menggerutu sepanjang jalan.

64. Sangêt dennya nguman-uman, Ahmad Ngarip muwus aris, Abdul Jabar Abdul Manap, salawasku urip iki, aja pisan pisan panggih, kalawan wong ora urus, manusa tan wruh tata, jroning ngimpi ingsun sêngit, yen kapêthuk sun mingkar tan sudi panggya.

Sangat-sangat sakit hati, Ahmad Ngarip (Ahad ‘Arif) berkata pelan, Abdul Jabar Abdul Manap (Abdul Manaf), selama hidupku ini, jangan sekali-kali lagi bertemu lagi, dengan orang yang tidak benar, manusia yang tidak mengetahui etika (seperti Gatholoco), bahkan didalam mimpi sekalipun, jika bertemu aku akan menghindar tidak sudi bertemu!

65. Gatholoco kang tinilar, aneng ngisoring waringin, rumasa yen mênang bantah, mangkana osiking galih, bangêt kêpati-pati, angêkul sameng tumuwuh, Sun-kira luwih manah, pangawruhe Guru santri, dene iku isih bodho kurang nalar.

Gatholoco yang ditinggal, dibawah pohon beringin, merasa jika telah menang dalam berdebat, begini kata hatinya, Sangat-sangat prihatin aku, betapa banyak manusia yang tidak sadar seperti kul (keong), aku kira sangat luas, wawasan Guru para sanri (tadi), ternyata masih bodoh kurang nalar.

66. Durung padha durung timbang, yen tinandhing kawruh-mami, durung nganti ingsun-gêlar, kawruhku kang luwih edi, prandene anglangani, kalah tan bisa samaur, yen mangkono sun-kira, ingkang muruk tanpa budi, iku nyata setan ingkang menda janma.

Sangat-sangat tidak seimbang, apabila diukur dengan wawasan-ku, belum juga aku wedarkan, pengetahuanku yang lebih unggul, tapi pada kenyataannya, kalah tak bisa menjawab, jika demikian kesimpulanku, siapa saja yang mengajarkan ilmu tanpa buddhi (kesadaran), itu nyata-nyata setan yang menjelma sebagai manusia.

67. Lamun wulange manusa, mêsthine pada mangrêti, mring duga lawan prayoga, aywa karêm karya sêrik, mulane kudu eling, eling marang Ingkang Asung, asung urip kamulyan, upayanên den kapanggih, yen pinanggih padhang têrang sagung nalar.

Jika benar-benar manusia, pastilah akan memahami, akan baik dan buruk, tidak suka gampang menghakimi sesama, oleh karenanya harus ingat, ingat kepada yang Maha Pemberi, yang memberikan kemuliaan hidup, carilah (Dia) hingga ketemu, jika telah ketemu akan terang benerang kesadaran ini.

68. Yen padhang têgêse gêsang, lamun pêtêng iku mati, janma ingkang duwe nalar, aran manusa sujati yen luwih wus ngarani, agal myang alus cinakup, tan kaya Guru tiga, bodhone kêpati-pati, cupêt kawruh pêtêng nalar maknanira.

Terang itu hidup, sedangkan gelap itu mati, manusia yang mempunyai kesadaran, itulah manusia sejati, manusia yang unggul, melampaui yang kasar dan halus (dualitas duniawi), tidak seperti ketiga Guru tadi, sangat-sangat bodoh, sempit wawasan gelap kesadarannya.

69. Gatholoco gya lumampah, têtêmbangan urut margi, kêbo bang kagok (sapi) upama, ‘sapi-san’ maning pinanggih, bibis alit ing tasik (undur-undur), ora ‘mun-dur’ bantah kawruh, pêlêm gung mawa ganda (kuweni), kawuk ingkang menda warni (slira), bêcik ingsun ‘ngênte-ni’ lan ‘ura-ura’.

Gatholoco segera beranjak, melantunkan tembang sepanjang jalan, Kerbau berwarna merah keputihan (SAPI maksudnya), ‘SAPI-san’ (sekali lagi) bertemu, binatang bibis yang hidup diatas pasir (binatang UNDUR-UNDUR), tidak akan ‘mun-DUR’ jika harus berdebat lagi, mangga besar dengan baunya yang harum (mangga KWENI), binatang kawuk yang berganti rupa (binatang SLIRA), lebih baik aku ‘ngente-NI’ (menanti) sembari ‘u-RA-u-RA’ (berdendang).

70. Gude rambat (kara) puspa krêsna (tlasih), ‘mani-ra’ pan ‘i-sih’ wani, witing pari (dami) enthong palwa (wêlah), ora nêja ‘ka-lah ma-mi’, araning wisma paksi (susuh), ‘mung-suh’ sira guru pêngung, parikan ulêr kambang (lintah), ingsun sênêng ‘ban-tah’ ilmi, wêlut wisa (ula) tininggal atiku ‘gê-la’.

Tumbuhan Gude yang merambat (tumbuhan KARA) daun hitam (daun TLASIH), mani-RA (diriku) sungguh ‘ma-SIH’ berani, batang padi (DAMI) centhong perahu (dayung atau WÊLAH), tidak akan ‘ka-LAH ma-MI (diriku)’, nama rumah burung (SUSUH), ‘bermu-SUH-an’ dengan kalian guru bodoh, ulat yang mengambang diair (LINTAH), aku sangat suka ‘berban-TAH-an’ ilmu, belut yang berbisa (ular atau ULA) ditinggal hatiku ‘gê-LA (kecewa)’.

71. Mendhung pêthak (mega) kunir pita (têmu), ‘muga-muga têmu’ maning, têpi wastra rinumpaka (kêmadha), banjur ‘pa-dha’ maring ngêndi, kayu rineka janmi (golek), apa ‘golek’ guru jamhur, sarkara munggeng tala (madu), arsa den ‘a-du’ lan mami, wadhung rêma (cukur) malah ‘so-kur’ yen mangkana.

Mendung berwarna putih (MEGA) kunyit merah (TÊMU), ‘semo-GA bertê-MU’ lagi, pinggir kemben yang dirias (KÊMADHA), lantas ‘pa-DHA (sama)’ kemana semua? Kayu yang dibuat seperti wujud manusia (GOLEKAN), apa mau ‘GOLEK (mencari)’ Guru terkenal? Cairan manis diatas pohon (MADU), hendak ‘di-ADU’ dengan aku, cangkulnya rambut (alat CUKUR) malah ‘syu-KUR’ jika memang begitu.

72. Jangkrik gung wismeng kêbonan (gangsir), manira ora ‘guming-sir’, bêbasan putrane menda (cêmpe), ‘sakarê-pe’ sun-ladeni, jamang wakul (wêngku) upami, angajak apa ‘sire-ku’, duh lae putêr wisma (dara), nganggo ‘si-ra’ mêjanani, kênthang rambat (katela) sanajan rupaku ‘a-la’.

Jangkrik bertubuh besar berumah dikebun (binatang GANGSIR), diriku tidak akan ‘guming-SIR (mundur)’, anak kambing (CÊMPE), ‘sakare-PE (semaunya)’ aku layani, mahkota tempat nasi (WÊNGKU), mau mengajak apa ‘sire-KU (dirimu)’, burung Puter yang suka dipelihara (burung merpati atau DARA), sehingga ‘si-RA (kamu)’ menghinaku, buah kentang yang merambat (KÊTELA) walaupun wajahku ‘a-LA (jelek)’.

73. Mênyawak kang sabeng toya (slira), ‘praka-ra’ mung bantah ilmi, wulu bauning kukila (êlar), kabeh ‘na-lar’ sun tan wêdi, sayêkti pintêr mami, tinimbang lan sira guru, kaca tumraping netra (têsmak), ora ‘ja-mak’ mejanani, mulwa rêngka (srikaya) yen sira luru ‘sara-ya’.

Biawak yang suka di-air (binatang SLIRA), ‘perka-RA’ tentang berdebat ilmu, bulu punggungnya burung (ÊLAR), segala ‘na-LAR’ (pengetahuan) aku tidak takut, pasti lebih pintar aku, daripada kalian para guru, kaca untuk mata (kaca mata atau TÊSMAK), ‘ora ja-MAK (tidak lumrah, sudah melampaui batas)’ penghinaan kalian, buah nangka yang gampang terbelah (buah SRIKAYA), jika kalian mencari ‘sara-YA (cara)’.

74. Kêmadhuh rujit godhongnya (rawe), aywa suwe sun-anteni, guru ngêndi srayanira, najan jamhur luwih wasis, ingsun wani nandhingi, angayoni bantah kawruh, masa ingsun mundura, yeku karsane Hyang Widdhi, raganingsun yêktine darma kewala.

Daun kemadhuh bergerigi (RAWE), jangan ‘su-WE (lama)’ aku nantikan, guru mana yang kamu andalkan, walaupun tersohor dan pintar, aku berani menandingi, melayani berbantah ilmu, tidak akan aku mundur, karena ini semua kehendak Hyang Widdhi, diriku hanya sekedar menjalani.

75. Gatholoco sukeng driya, rêrêpen alon lumaris, miling-miling mung priyangga, dumugi patopan mampir, manjing mring bambon linggih, ngambil klelet kang kinandhut, saglindhing dipun untal, ngrasuk badan anyêgêri, kraos gatêl astane ngukur sarira

Gatholoco suka dihati, berdendang sembari berjalan pelan, hanya sendirian saja, sampai disebuah tempat lantas mampir, masuk kedalam tempat madat dan duduk, mengambil candu yang di bawa, segelintir langsung dimakan, merasuk badan menyegarkan, terasa gatal tangannya menggaruk tubuh.
Damar Shashangka
0 komentar
 
Support : Editing Website | Bms_75
Copyright © 2014. Bms_75
Template Editing and Published by Bms_75
Proudly powered by Blogger